AYOJAKARTA.COM - Indonesia terus bergerak maju dalam melakukan transisi energi bersih.
Salah satu program andalan yang kini menjadi perhatian besar adalah pengembangan biodiesel.
Namun, apa sebenarnya biodiesel itu, dan mengapa bahan bakar ini sering disebut sebagai "anak emas" energi terbarukan di tanah air?
Apa Itu Biodiesel?
Menurut Eki Dwi Wijanarko, Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat Bioenergi Kementerian ESDM, biodiesel adalah salah satu jenis Bahan Bakar Nabati (BBN).
Berbeda dengan bahan bakar fosil yang persediaannya terbatas, biodiesel bersifat terbarukan karena diproduksi dari makhluk hidup.
"Khusus yang biodiesel ini untuk penggunaannya itu seperti minyak solar. Jadi dia sebagai substitusi minyak solar, pengganti ya, pengganti gitu ya. Jadi dia bisa menggantikan minyak solar dari BBM yang mana dia bahan bakunya terbarukan nih dari tumbuh-tumbuhan," ujar Eki dalam Podcast Green Energy Talk di YouTube Ditjen EBTKE.
Secara global, biodiesel bisa dibuat dari berbagai tanaman yang mengandung minyak, seperti kedelai, bunga matahari, hingga nyamplung.
Bahkan minyak hewani dan limbah juga bisa digunakan. Namun, karena Indonesia sangat kaya akan kelapa sawit, maka komoditas utamanya berasal dari minyak sawit (Crude Palm Oil).
Juara Dunia dalam Implementasi B40
Indonesia saat ini memimpin di tingkat global dalam hal pemanfaatan biodiesel.
Saat negara-negara lain baru mencampur bahan bakar nabati sekitar 10% hingga 20%, Indonesia sudah sukses menerapkan program B40.
Istilah B40 berarti bahan bakar tersebut terdiri dari campuran 60% minyak solar fosil dan 40% komponen nabati.
Keberhasilan ini menempatkan Indonesia sebagai negara yang paling terdepan dalam implementasi pencampuran bahan bakar nabati di dunia.
Manfaat Besar bagi Ketahanan Energi dan Lingkungan
Pengembangan biodiesel membawa dampak positif yang masif bagi perekonomian dan lingkungan di Indonesia.
Dari sisi ekonomi, program ini memperkuat ketahanan energi nasional. Eki menjelaskan bahwa campuran B40 mengurangi angka impor BBM secara signifikan, sehingga menghemat devisa negara.
Dari sisi lingkungan, biodiesel jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil.
Tanaman kelapa sawit yang menjadi bahan baku mampu menyerap kembali karbon dioksida di udara melalui proses fotosintesis.
Hal ini menciptakan siklus karbon yang berkelanjutan dan membantu menekan emisi gas rumah kaca di sektor transportasi dan industri.***
Share this article
Indonesia memimpin global lewat program B40, yakni campuran 60% solar fosil dan 40% biodiesel kelapa sawit. Energi terbarukan ramah lingkungan ini efektif menekan emisi karbon dan mengurangi impor BBM