AYOJAKARTA.COM - Indonesia terus berinovasi dalam mengembangkan energi alternatif.
Salah satu langkah besarnya adalah mengoptimalkan penggunaan biodiesel. Saat ini, fokus utama pemerintah tertuju pada implementasi program B40.
Indonesia Jadi Juara Dunia lewat B40
Banyak negara di dunia mulai beralih ke bahan bakar nabati. Namun, posisi Indonesia saat ini sangat membanggakan di tingkat global.
Indonesia menjadi negara nomor satu dalam hal persentase pencampuran bahan bakar nabati.
Ketika negara lain baru mencapai angka pencampuran 10 hingga 20 persen, Indonesia sudah sukses menerapkan B40.
Istilah B40 sendiri merujuk pada komposisi bauran bahan bakar yang digunakan oleh kendaraan.
Eki Dwi Wijanarko, Analis Kebijakan Ahli Muda Direktorat Bioenergi Kementerian ESDM, menjelaskan definisi teknisnya secara sederhana.
"B40 itu adalah campuran 60% minyak solar yang dari fosil sama 40% dari nabati yang dari tanaman atau tumbuh-tumbuhan gitu ya. Jadi, jadi 40 ini nandain persentasenya 40%," ujar Eki dalam Podcast Green Energy Talk di YouTube Ditjen EBTKE.
Berkah Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi
Secara global, biodiesel bisa diproduksi dari berbagai macam sumber daya.
Bahan bakunya mencakup tanaman kedelai, bunga matahari, nyamplung, hingga minyak hewani. Namun, Indonesia memiliki keuntungan geografis yang besar.
Sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar, Indonesia memanfaatkan minyak sawit sebagai bahan baku utama.
Langkah ini membawa dampak positif yang masif bagi perekonomian negara, terutama dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Selama ini, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan minyak solar dan bensin fosil.
Kehadiran bauran B40 secara signifikan memangkas ketergantungan tersebut. Melalui optimalisasi kelapa sawit lokal, konsumsi solar impor dapat ditekan secara drastis demi menghemat devisa.
Keunggulan Biodiesel bagi Kelestarian Lingkungan
Selain keuntungan ekonomi, komoditas ramah lingkungan ini menawarkan solusi nyata untuk mengatasi isu perubahan iklim.
Karakteristik biodiesel sangat berbeda dengan bahan bakar fosil konvensional dalam melepaskan sisa pembakaran.
Minyak bumi yang dibakar akan langsung melepaskan emisi karbon ke udara tanpa bisa diserap kembali.
Sebaliknya, biodiesel menciptakan sebuah siklus karbon yang berputar atau terdaur ulang secara alami.
Tanaman kelapa sawit yang menjadi sumber bahan baku memiliki kemampuan menyerap kembali gas karbon dioksida di atmosfer melalui proses fotosintesis.
Hal ini membuat emisi tidak menumpuk di udara, sehingga lingkungan tetap terjaga dengan baik.***
Share this article
Indonesia memimpin dunia dengan program B40 (60% solar fosil, 40% sawit). Inovasi energi alternatif ramah lingkungan ini efektif menekan emisi karbon sekaligus mengurangi ketergantungan impor BBM.