AYOJAKARTA.COM – Calon presiden nomor urut 1 Anies Baswedan menceritakan masa lalunya saat masih menempuh pendidikan hingga menjadi menjadi capres.
Melalui tayangan podcast di kanal milik pelawak Abdel Achrian, Anies Baswedan menceritakan pengalamannya saat terpilih dalam pertukaran pelajar di Amerika saat masih SMA hingga bisa kuliah di luar negeri.
Cerita saat awal-awal masuk dunia politik juga tidak luput dibicarakan oleh capres nomor urut 1.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menceritakan bahwa awal masuk politik dan dirinya diminta menjadi juru bicara dari Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2024.
Baca Juga: Kiky Saputri Diundang Roasting Anies-Muhaimin, Netizen: Jangan sampai Gak Datang
Sebelumnya, Anies Baswedan menceritakan kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo sejak 2011 sebelum Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Saat Jokowi masih menjadi calon presiden, Anies Baswedan membeberkan bahwa dirinya ditelpon untuk menjadi jubir pada Pilpres 2014.
“Saya terlibat juru bicara Pak Jokowi, itu awal-awal saya terlibat proses politik,” ujar Anies Baswedan, dikutip AyoJakarta.com dari YouTube Abdel Achrian pada Kamis, 4 Januari 2024.
Setelah Jokowi berhasil menjadi presiden, capres nomor urut 1 ini mengaku mulai masuk di pemerintahan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).
Baca Juga: Jelang Debat Capres, Timnas AMIN Pastikan Anies Baswedan Paparkan Cara Indonesia Dikagumi Dunia
“Dan di pemerintahan pertama kali ya ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” sambungnya.
Usai dilantik menjadi Mendikbud pada 27 Oktober 2014, hanya berselang beberapa tahun Anies Baswedan kemudian dicopot dalam reshuffle kabinet jilid II pada 27 Juli 2016.
Berbicara mengenai reshuffle kabinet, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengaku tidak tahu dan tidak diberi tahu apa penyebabnya.
“Nggak tahu saya, nggak dikasih tahu dan nggak tanya juga,” kata dia.
Baca Juga: Anies Baswedan Kampanye di Sumatera Barat, Yakin Masyarakat Minang Basis Perubahan
Menurutnya soal reshuffle kabinet yang dilakukan dalam pemerintahan Presiden Jokowi merupakan suatu keputusan dari atasan.
Yang mana sudah ada pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti politik dan kepentingan-kepentingan tertentu.
“Itu adalah keputusan atasan kita yang pasti dia punya pertimbangan-pertimbangan. Karena ini posisi politik,” ungkap Anies Baswedan.
“Posisi politik itu juga pertimbangannya juga pertimbangan-pertimbangan kepentingan-kepentingan yang ada,” sambungnya.
Baca Juga: Anies Baswedan Mulai Terjun Live Tiktok, Coba Saingi Konten Gemoy?
“Kepentingan apa yang harus diakomodasi, kepentingan apa yang mungkin dilepas dulu, kepentingan apa yang harus difasilitasi dulu. Itu yang disebut sebagai kepentingan politis,” lanjutnya.
Kendati demikian Anies Baswedan tidak merasa reshuffle kabinet pada saat itu merupakan suatu masalah, bahkan dirinya merasa bersyukur.
Menurutnya Tuhan memiliki rencana yang sempurna dan lebih baik dibalik reshuffle kabinet Jokowi.
“Jadi 27 Juli (2016) reshuffle, 23 September dua bulan kemudian saya dicalonkan jadi gubernur,” tutur Anies Baswedan.***

Share this article
Calon presiden nomor urut 1 Anies Baswedan menceritakan masa lalunya saat masih menempuh pendidikan hingga menjadi menjadi capres.