AYOJAKARTA.COM - Korban relasi penggunaan media sosial mengakibatkan 52 anak SMP di Bengkulu terpengaruh oleh video yang mereka tonton.
Diketahui 52 anak tersebut melakukan sayatan di tangan dengan menggunakan cutter atau pecahan kaca.
Berawal dari adanya komunitas kumpulan orang yang memiliki perasaan sama yang merasa bisa menyalurkannya dengan menyayat tangan mereka.
Baca Juga: Dendam Terbalaskan, Ayah David Hajar Mario Dandy Habis-habisan? Ini Kronologi dan Faktanya!
Dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube tvOneNews, diduga 52 anak pelajar SMP melakukan goresan di tangan.
Para siswa melakukan sayatan di tangan karena berbagai alasan, atau masalah yang berbeda-beda.
Ainul Mardiati selaku Kepala PPA/Ketua Apsifor Provinsi Bengkulu mengatakan bahwa 52 anak itu termasuk siswa dan siswi.
"Ya memang yang terjadi adalah anak kita 52 anak yang tergabung, laki-laki dan perempuan," ujar Ainul Mardiati.
Diketahui bahwa sebelum memasuki SMP sudah ada anak yang pernah melakukan sayatan di tangan.
"Ini sebenarnya ada luka lama ya, sebelum anak-anak itu bersekolah di sana ada 1-2 anak yang sudah melakukan sayat di tangan," kata Ainul Mardiati.
Anak-anak mengaku bahwa setelah melakukan sayatan di tangan tersebut, maka itu akan membuat persoalan yang dialami mereka tersalurkan ke tangan.
"Dia merasa bahwa kalau sudah memberikan goresan di tangan itu, persoalannya bisa tersalurkan kepada tangan ini," ungkap Ainul Mardiati.
Diketahui anak-anak saling mengajak untuk menyayat tangan kepada teman yang memiliki perasaan yang sama.
"Jadi sebenarnya ini adalah anak-anak ini mengajak teman-teman yang lain yang punya kesamaan perasaan dan hati," kata Ainul Mardiati.
Ainul Mardiati menjelaskan bahwa anak-anak tersebut sudah melakukan sayatan sebelum masuk ke bangku SMP.
"Jadi 52 ini bukan serta-merta hari itu terjadi atau tahun itu terjadi, jadi luka-luka ini adalah ada luka baru, ada yang luka lama," ujar Ainul Mardiati.
"Artinya anak-anak ini sebelum sekolah di SMP itu, pada saat waktu di SD, dia sudah melakukan sayatan pertama, mungkin ada seperti ya," sambungnya.
Diduga mereka memiliki komunitas yang mempunyai perasaan yang sama dengan sayatan tersebut.
"Jadi ini dia mengajak, mungkin mempunyai suatu komunitas, komunitas bahwasannya mereka mempunyai perasaan yang sama dengan sayatan tersebut," ungkap Ainul Mardiati.
Diketahui terlihat goresan tipis pada tangan, namun anak-anak mengaku menggunakan cutter atau pecahan kaca.
"Sayatan itu bukan pake silet, dia pake cutter mungkin, pake pecahan kaca, dan ini tipis sekali, tapi ada tanda goresan tersebut," ujar Ainul Mardiati.
Fahrudin selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkulu mengatakan anak-anak terpengaruh dengan yang mereka tonton di TikTok.***

Share this article
Dikutip Ayojakarta.com melalui kanal YouTube tvOneNews, diduga 52 anak pelajar SMP melakukan goresan di tangan.