Persija menyatukan kita semua..., theme song Persija ciptaan Bang Ferry kembali bergema di Gelora Bung Karno (GBK). Berhadapan dengan Borneo FC dalam duel perdana Shopee Liga 1, tim ibukota memetik poin penuh dengan menumbangkan tim asal Samarinda Kalimantan Timur dengan skor 3-2.
Mengenakan seragam merah-merah-merah berlambang Monas di dada, pemain Persija seperti memenuhi seisi lapangan. Jikalau Persija masih mengenakan seragam oranye. Laga ini bakal bertajuk duel oranye sebab Borneo FC juga berseragam utama oranye.
Gol Persija dicetak oleh Osvaldo Haay menit 21, Marko Simic menit 32 dan Evan Dimas menit 85. Sementara dua gol balasan Pesut Etam julukan Borneo FC tercipta lewat sundulan Francisco Torres menit 71 dan salah antisipasi bek tengah Persija Ryuji Utomo saat menghadang tendangan keras punggawa Borneo FC asal Papua Terens Puhiri di Injury Time.
Beberapa muka anyar Persija bermain ciamik. Eks Juventus Marco Motta menghidupkan daya dobrak Persija lewat tusukan dari sayap kanan. Umpan-umpan daerah Motta kerap memanjakan duet penyerang Persija Marko Simic dan Osvaldo Haay. Dua gol pertama Persija tercipta berkat kreasi Motta.
Evan Dimas yang masuk pada menit 20 menggantikan Sandi Sute eks Borneo FC yang bermain di bawah performa terbaik berhasil menghidupkan lini tengah tim berjuluk Macan Kemayoran. Evan dengan tenang mengkomandoi serangan Persija. Satu gol diciptakan Evan Dimas lewat skema serangan balik pada menit-menit akhir babak kedua.
Osvaldo Ardiles Haay kerap mendapat tepukan meriah Jak Mania saat beraksi lewat sayap. Aksi individu lewat gocekan yahud merepotkan pertahanan Borneo FC yang digalang Diego Michiels. Osvaldo langsung nyetel berduet dengan Simic. Satu gol dilesakkan Osvaldo ke gawang Borneo. Sambutan selamat datang Liga 1 2020 elegan dari seorang Osvaldo!
Hanya Marc Klok yang terlihat canggung saat berperan sebagai second striker. Sejatinya Jaklok, julukan Klok adalah gelandang bertahan. Namun Klok akan cepat beradaptasi dalam laga-laga berikutnya.
Muka lawas seperti Riko Simanjuntak dengan trik-trik individu sembari lincah menggiring bola kerap mengelabui lawan di sisi kanan. Assist Riko berujung gol Evan Dimas.
Overlapping Rezaldi Hehanusa lewat sayap kiri sembari melepas crossing memanjakan Simic yang berpostur Eropa. Rohit Chand berjibaku mematahkan serangan lawan.
Satu yang tidak lagi terlihat adalah umpan-umpan lambung ikonik Kapten Ismed Sofyan dari kanan. Disebut ikonik karena tepat mengarah ke sasaran untuk kemudian dikonversi menjadi gol. Lengkungan-lengkungan indah Ismed mengingatkan crossing legendaris David Beckham. Namun pengganti sepadan telah didapat dalam sosok Motta. Sang Kapten sendiri sedang fokus mengikuti kursus kepelatihan di Spanyol.
Pertahanan yang digalang veteran Maman Abdurrahman telah maksimal kendati kebobolan dua gol. Rekrutan anyar Otavio Dutra di sektor belakang belum melakukan debutnya. Tapi Dutra akan selalu siap dalam duel dengan striker lawan selanjutnya. Otavio Dutra bersama Marc Klok adalah dua pemain naturalisasi asal Persija yang juga memperkuat tim nasional (timnas) Indonesia .
Sebelum laga dimulai, Persija menampilkan maskot anyar berupa sosok macan loreng berwajah sangar namun tetap lucu. Aksi-aksinya berlagak seorang jawara (dari Kemayoran) mengundang tawa penonton.
Jak Mania yang mengisi seantero GBK silih berganti bernyanyi, berjingkrak mengikuti tabuhan drum yang membahana di angkasa Senayan. Uniknya, Jak Mania merupakan salah satu komunitas suporter sangat kreatif di Indonesia. Banyak lagu-lagu penyemangat Persija diciptakan oleh basis pendukung Persija ini. Nyanyian Jak Mania menghibur 50.800 penonton yang menyesaki GBK pada sore di awal Maret.
Penonton yang datang dari beragam etnik warga ibukota ikut bergembira, saling bertukar sudut pandang sepanjang laga. Di lapangan, ragam etnik pemain dari penjuru Indonesia juga ditemui. Persija seolah-olah telah menyatukan Indonesia!. Karakteristik unik yang menjadi pembeda Persija dengan tim-tim lain.
Saya yang datang dari Aceh menggemari Persija. Teman-teman heran dan bertanya mengapa?. Saya hanya tersenyum. Saya mengidolai Persija karena faktor historis. Tidak hanya Persija tapi juga Pelita Jaya, eks klub Galatama yang dulunya bermarkas di Stadion Lebak Bulus.
Tahun 80-an, dari Aceh Paman saya bernama Tias Tano Taufik bergabung bersama Persija sebagai penyerang tengah. Pada final perserikatan 1988 bertemu Persebaya di Senayan, Tias Tano Taufik mencatatkan nama di papan skor guna merubah skor menjadi sama kuat 1-1, memaksakan laga berlanjut hingga babak tambahan waktu. Saat itu Persija takluk 2-3 oleh Persebaya. Setahun sebelumnya, Tias Tano Taufik menjadi bagian dari timnas yang meraih medali emas SEA-GAMES 1987 di Jakarta.
Nahas saat puncak karir dalam laga internal Persija, paman mengalami cedera patah kaki. Setelah sembuh, beliau bergabung dengan klub Nirwan Bakrie Pelita Jaya, menjuarai kompetisi Galatama 1994.
Saat aktif bermain, kami selalu dihadiahi pernak-pernik Persija, timnas dan Pelita Jaya mulai dari baju dan celana bola, jaket, Sweater serta berbagai aksesoris hingga sepatu Adidas dan Diadora keluaran terbaru. Ketika saya bermain bola di Kota Langsa di timur Aceh, kostum Persija, timnas, Pelita Jaya dan berbagai perlengkapan bola menarik perhatian teman-teman.
Teman-teman juga mulai ikut mendukung Persija yang saat itu juga diperkuat pemain Aceh Marzuki Nyak Mad. Hingga tahun 2000-an muncul Ismed Sofyan yang juga berasal dari Aceh Timur. Waktu saya berlatih di level junior medio 90-an, Ismed juga berlatih dan bermain untuk tim senior Persatuan Sepak Bola Langsa (PSBL) berperan sebagai striker dan menjadi kebanggaan saya dan teman-teman.
Saat tugas belajar mengambil program Doktor tahun 2014 di Bogor, saya mulai rajin menonton pertandingan-pertandingan home Persija yang digelar di GBK dan Bekasi. Sementara, tayangan langsung laga-laga tandang Persija menjadi hiburan tersediri di tengah kegalauan mengerjakan Disertasi.
Selepas lulus, sembari menunggu kepulangan, saya menyambangi GBK minggu sore kemarin. Hitung-hitung sebagai kenangan.
Sehabis pertandingan sudah menjadi tradisi pemain berkumpul di tengah lingkaran lapangan sambil menyanyikan home-match song, sayup-sayup terdengar penggalan bait demi bait.
"....Kau yang tak pernah ku lupakan meski jarak waktu memisahkan....Kudoakan slalu....Kunantikan slalu....hapus segala perbedaan....selamanya Persija semua bersaudara....Persija menyatukan kita semua...."
Rasa haru menyelimuti hati dan air mata pun membasahi pipi...Terima kasih Persija, Jakarta punya cerita!
Yopi Ilhamsyah
Dosen Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Share this article