Mencari Format Ideal Demokrasi dan Kesejahteraan

Ilustrasi
Ilustrasi

Demokrasi dan kesejahteraan merupakan dua konsep yang hingga kini belum selesai untuk diperdebatkan, terkait korelasi dan kausalitas di antara keduanya. Yang menjadi pokok persoalan, benarkah demokrasi mempengaruhi atau menyebabkan terwujudnya kesejahteraan, atau justru sebaliknya? 

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah   apakah demokrasi menjadi satu-satunya variabel yang dapat mewujudkan kesejahteraan? Jika benar, demokrasi yang seperti apa? Diskursus dan kontestasi pemikiran sedemikian pada hakikatnya penting untuk dikaji, baik di ruang-ruang akademik, maupun di bilik-bilik perumusan kebijakan di level eksekutif dan parlemen.

Setidaknya ada beberapa faktor penting mengapa diskursus sedemikian perlu dihidupkan kembali. Pertama, upaya untuk menjaga spirit reformasi dan khitah demokrasi. Kedua, faktor yang sifatnya teknis, yakni untuk menciptakan kebijakan prevensi yang kuat agar pesta demokrasi yang dihelat tahun ini dalam bentuk Pilkada di 270 daerah dapat berjalan dengan lancar serta bermanfaat secara esensial bagi rakyat. 

Mandat reformasi secara umum adalah menciptakan sistem politik dan pemerintahan yang memungkinkan partisipasi yang sebesar-besarnya bagi rakyat. Hal ini secara prosedural sejatinya telah dipenuhi melalui berbagai demokratisasi kebijakan oleh pemerintah pasca orde baru. Pemberian otonomi daerah dan pelaksanaan Pemilu secara langsung, merupakan realisasi konkret atas mandat tersebut.

Hanya saja yang belum sepenuhnya dimafhumi adalah bahwa demokratisasi kebijakan tersebut hanyalah variabel antara, bukan tujuan yang sebenarnya. Otonomi daerah misalnya, haruslah memiliki signifikansi terhadap kesejahteraan rakyat (people prosperity) secara langsung. 

Pemilu langsung yang memberikan kewenangan bagi rakyat untuk memilih kandidat secara langsung seharusnya mampu mewujudkan kemakmuran bagi rakyat itu sendiri. Namun demikian, realitas yang dijumpai hari ini belum benar-benar sesuai harapan. Terjadi semacam ‘sumbatan’ yang berlokus pada variabel antara tersebut. Sebagai konsekuensinya, kita harus melihat ulang model demokrasi yang sudah berjalan, apakah sesuai dengan khitah demokrasi Indonesia, atau terjadi penyimpangan dalam bentuk mobokrasi hingga plutokrasi. 

Jika benar terjadi penyimpangan, maka proses identifikasi masalah dan tuntutan untuk memformat ulang demokrasi yang dijalankan bukan suatu hal yang berlebihan untuk dilakukan.

Pelaksanaan Pilkada di 270 daerah di seluruh Indonesia pada September nanti bisa dikatakan sebagai batu uji pertama bagaimana kita memaknai momen tersebut sebagai pesta demokrasi atau sekedar selebrasi demokrasi belaka. Tentunya harapan yang membuncah di dada rakyat adalah terpilihnya kandidat yang benar-benar mampu menjadi pendengar yang baik atas aspirasi mereka, serta menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran yang mereka idam-idamkan.

Untuk merealisasikan ekspektasi tersebut, dibutuhkan tanggung jawab dan kesadaran  moral dari segenap pemangku kepentingan dalam berdemokrasi. Kapasitas, kapabilitas, serta integritas para pemangku kepentingan inilah yang lebih lanjut akan menentukan bobot demokrasi terhadap variabel antara yang akan dijalankan.

Menambah Bobot Demokrasi

Secara umum kita semua sepakat bahwa ada korelasi (baca: keterkaitan), sekaligus kausalitas (baca: sebab-akibat) antara demokrasi dan kesejahteraan. Dengan berpijak pada pemahaman tersebut, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah memperkuat bobot demokrasi itu sendiri. Penguatan bobot demokrasi juga diharapkan mampu memecah ‘sumbatan’ dalam mewujudkan kesejahteraan. 

Ada banyak upaya untuk mengukur model korelasi antara kedua variabel tersebut, khususnya yang bersifat kuantitatif. Kerja sama antara Bappenas RI dengan the United Nations Development Program (UNDP) menghasilkan model pengukuran bertajuk Indeks Demokrasi Indonesia (IDI). Setelah berkutat selama kurang lebih tiga tahun dalam memformulasi model pengukuran ini, tahun 2009 IDI dipublikasikan. Ada tiga indikator utama yang diukur, yakni aspek kebebasan sipil, pemenuhan hak-hak politik, serta kelembagaan politik.

Merujuk pada data yang dirilis BPS RI, sejak 2016 hingga 2018 (tiga tahun terakhir), IDI mengalami peningkatan. Pada 2016 IDI berada pada angka 70,9, kemudian naik menjadi 72,11 pada 2017, hingga berada pada posisi 72,39 pada 2018. Ada fenomena menarik yang bisa dipelajari dari publikasi IDI ini. Pada rentang 2009-2013, IDI berada pada level di bawah 70 (<70>70). 

Secara keseluruhan, merujuk pada tingkat IDI dari 2009-2018, demokrasi Indonesia bisa dikatakan berada pada level ‘sedang’. Dengan berkiblat pada model ini, maka secara sederhana konklusi yang bisa ditarik adalah butuh penguatan pada tiga indikator tersebut agar kualitas demokrasi bisa melejit naik, tidak lagi berada pada level ‘sedang’. Lantas bagaimana model ini bisa menjelaskan upaya untuk mewujudkan kesejahteraan? Bukankan demokrasi adalah alat, bukan tujuan? 

Demokrasi yang diwujudkan dalam bentuk demokratisasi kebijakan untuk menguatkan tiga indikator yang diukur pada hakikatnya merupakan variabel antara untuk menuju objektif yang sebenarnya.

Merealisasikan Kesejahteraan

Dengan menggunakan IDI sebagai ‘dahsboard’ demokrasi, langkah selanjutnya yang bisa ditempuh adalah mencari model pengukuran lain yang menggambarkan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menemukan relevansinya. Model pengukuran ala IDI harus disandingkan dengan model pengukuran IPM. Inilah yang diharapkan dapat membentuk model komprehensif dalam menautkan antara demokrasi dan kesejahteraan. 

IPM sendiri pada hakikatnya merupakan model pengukuran kuantitatif yang diproduksi oleh BPS RI untuk menakar kinerja pembangunan di suatu kawasan berdasarkan tiga faktor dasar, yaitu kapasitas dasar penduduk yang meliputi umur panjang dan kesehatan, tingkat pengetahuan, serta level kehidupan masyarakat yang layak.

Secara teknis ketiga faktor tersebut akan diturunkan menjadi beberapa indikator yang akan diukur lebih jauh mencakupi angka harapan hidup, angka melek huruf, lama rata-rata sekolah, serta kemampuan daya beli. Meskipun diakui bahwa terminologi kesejahteraan sangatlah luas, setidaknya penetapan beberapa indikator tersebut dapat menjadi batasan yang proporsional dalam merepresentasikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya langkah teknis yang dilakukan adalah melakukan analisa mendetil dan kasus per kasus untuk setiap wilayah di Indonesia. 

Dari analisa tersebut dimungkinkan untuk diperoleh gambaran yang utuh perihal korelasi antara demokrasi dan kesejahteraan di Indonesia, baik Indonesia secara holistik, maupun bobot masing-masing daerah.

Merujuk pada pemahaman tersebut, kebutuhan untuk mengkonversi demokrasi yang baru berjalan pada tataran prosedural menjadi demokrasi yang bersifat substansial adalah sebuah kebutuhan yang sangat mendesak. Demokrasi jangan lagi sekedar dimaknai sebatas kebebasan menyatakan pendapat, membentuk partai politik, menyelenggarakan Pemilu, dan hal-hal lainnya yang hanya merupakan prosedur demokrasi semata. 

Demokrasi harus dilihat dari kacamata yang lebih konkret, yakni rakyat yang terpenuhi kebutuhan dasarnya untuk hidup layak, yakni tercukupinya  sandang, pangan, papan, aktualisasi diri, bahkan harga diri mereka untuk hidup di bumi pertiwi. Demokrasi prosedural hanya menguntungkan segelintir elit dengan kedok demokrasi. Rakyat yang jadi korbannya.

Dengan memahami pola pertautan antara demokrasi dan kesejahteraan tersebut, rakyat diharapkan dapat lebih jeli dalam memilih calon pemimpin yang benar-benar memiliki program konkret dalam mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan daerah. Rakyat bisa langsung mengeliminir kandidat yang ‘lemah pikir’ dalam merumuskan visi-misinya. Kandidat bodoh tak layak untuk dipilih. 

Terakhir, pemaknaan demokrasi harus diletakkan dalam koridor konsensus kebangsaan. Logika sederhananya, setiap orang boleh memainkan piano yang sama, namun dengan irama yang berbeda. Negara apapun bisa menerapkan konsep demokrasi, tapi yang menjadi poin pembeda bagi Indonesia adalah implementasi yang berbasis konsensus dasar kebangsaan.

 

Boy Anugerah
Mahasiswa Pasca Sarjana Studi Kepemerintahan dan Kebijakan Publik di SGPP Indonesia/Alumnus Magister Ketahanan Nasional Universitas Indonesia

 

 

Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait
# kesejahteraan rakyat
# Pemilu Damai

News Update

Metropolitan

Rano Karno Resmikan Bus Open Top Tour Jakarta Batavia, CEK Tarif dan Rutenya!

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, secara resmi meluncurkan operasional bus Transjakarta Open Top Tour rute Jakarta Batavia di Jalan Kali Besar Barat, Tambora, Jakarta Barat, Kamis, 23 Juli 2026.

Metropolitan

Peringati Hari Anak Nasional, PT TransJakarta Gelar Acara Tahunan 'Merakids 2026' Kenaikan Budaya Bertransportasi Publik

Dalam rangka memperingati Hari Anak NNasional, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menggelar program tahunan bertajuk 'Merakids 2026: Bermain, Belajar, dan Berpetualang' pada Kamis, 23 Juli 2026.

Nasional

BRI Peduli Dorong Semangat Belajar Anak Indonesia Melalui Program Ini Sekolahku

BRI Peduli memperingati Hari Anak Nasional 2026 dengan kelas inspirasi dan penguatan Program Ini Sekolahku di enam sekolah.

Ekonomi

Siapa Saja Pemegang Saham Utama di Balik Kredivo Group?

Kredivo dikuasai FPL Capital (85%) dan PT Wanteg Selaras Alam (15%). Didirikan Akshay Bhargava dan dipimpin Dirut Umang Rustagi, aset Kredivo tembus Rp1,49 T dengan ekuitas Rp414,49 M di akhir 2025.

News

Targetkan 35.624 KDKMP di Akhir Tahun 2026, Zulhas: Skema Penyaluran Bansos Melalui Kopdes Merah Putih

Instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto, skema penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Ekonomi

Kredivo Temui OJK Usai DC Ketahuan Lecehkan Nasabah

Kredivo investigasi dugaan pelecehan oleh oknum debt collector mitra (PT Danakirti Arta Kirana). Hasilnya resmi dilaporkan ke OJK pada 23 Juli 2026 demi pastikan penagihan tegas dan sesuai aturan.

News

Sudah Tahu? Ada Rentetan Aksi Unjuk Rasa Berjilid Sejak 20 Juli 2026 di DKI Jakarta: Tuntutan MBG hingga Usut Tuntas Kasus Febrie Adriansyah!

Tak banyak diliput oleh media namun ramai di media sosial, sejumlah titik di wilayah Jakarta diwarnai oleh gelombang aksi unjuk rasa sejak Senin, 20 Juli 2026.

Jakarta Selatan

SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Roboh, Walkot Jaksel Syafrin Liputo Pastikan KBM Tetap Berjalan!

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, memastikan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi peserta didik di SDN Kebayoran Lama Selatan 09 tetap berjalan dengan baik pasca insiden robohnya bangu

News

2 Aksi Demo Jakarta Hari Ini, Polisi Kerahkan 900 Personel hingga Rekayasa Lalu Lintas Situasional!

Sebanyak 900 personel gabungan disiagakan guna mengawal aksi demonstrasi yang akan berlangsung di dua titik wilayah Jakarta Pusat pada hari ini, Kamis, 23 Juli 2026.

Bekasi

Pertamina Patra Niaga Ambil Tindakan Tegas Terhadap SPBU 34.176.06 Bekasi Diduga Layani Pelangsir

Pertamina Patra Niaga Ambil Tindakan Tegas Terhadap SPBU 34.176.06 Bekasi Diduga Layani Pelangsir

Jakarta Pusat

2 Aksi Demo Jakarta Hari Ini: Mahasiswa hingga Ojol di 2 Titik Berbeda Gambir dan Kawasan DPR RI!

Setidaknya dua aksi unjuk rasa besar yang digelar oleh aliansi mahasiswa dan massa ojek online (ojol) di sejumlah titik di Jakarta Pusat, pada Kamis, 23 Juli 2026.

Metropolitan

Pipa Sempat Bocor, PAM Jaya Pastikan Layanan Air Bersih di Jalan Simatupang Berfungsi Kembali!

Layanan air bersih untuk warga di wilayah terdampak kebocoran pipa di Jalan TB Simatupang kini telah kembali pulih.

Bekasi

Mendukung Wajah Baru TPST Bantargebang, Saatnya Warga Jakarta Pilah Sampah dari Dapur

Pemprov DKI beralih ke controlled landfill di Bantargebang dengan pasang geomembran cegah air lindi. Target bebas open dumping 2029 ini butuh pemilahan sampah organik dari rumah tangga.

Bisnis

Cegah Bahaya Pemukiman Padat, Pertamina Patra Niaga Regional JBB Bangun Budaya Sadar Bencana di Tangerang

Pertamina Patra Niaga Regional JBB luncurkan SAHABAT SIAGA di Tangerang! Warga Mekarsari dilatih simulasi kebakaran dan gempa.

Jakarta Selatan

Soal Perbaikan Bangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jaksel, Pramono Buka Opsi Gunakan Dana KLB, Apakah Itu?

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, buka suara terkait kerusakan bangunan yang terjadi di SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan.

Metropolitan

Kerap Jadi Biang Kemacetan di Kawasan Cakung-Cilincing, Pemprov DKI Gratiskan Truk Kontainer Parkir di Terminal Tanah Merdeka!

Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah cepat guna mengatasi kemacetan parah yang kerap terjadi di kawasan Cakung-Cilincing.

Bekasi

TPST Bantargebang Mulai Pakai Geomembran, Targetkan Sistem Controlled Landfill Rampung 2029

Pemprov DKI pasang geomembran di TPST Bantargebang untuk transisi ke controlled landfill hingga 2029. Langkah ini tekan air lindi dan butuh pemilahan sampah organik dari rumah tangga.

Bisnis

BRI Peduli Gelar Pelatihan Ekspor, UMKM Mebel Sukoharjo Siap Rambah Pasar Dunia

CV Swakarya Jaya Furniture asal Sukoharjo sukses tembus pasar ekspor Spanyol dan AS! Simak kisah sukses pelatihan ekspor BRI Peduli di sini.

Gadget

Lini Samsung Galaxy Z Fold 8 Resmi Rilis di Indonesia, Perdana Bawa Baterai Silikon Karbon dan Chipset 2nm

Samsung merilis Z Flip 8 (Exynos 2600 2nm), Z Fold 8, dan Z Fold 8 Ultra di Unpacked Jakarta. David GadgetIn puji baterai silikon karbon 5.000 mAh di Fold 8 Ultra dan Snapdragon 8 Elite Gen 5.

Nasional

Dorong Service Excellence, Danantara Indonesia Tinjau Travoy Rest dan JMTC Jasa Marga

Danantara Indonesia tinjau Travoy Rest dan JMTC Jasa Marga! Cek inovasi rest area kekinian dan pantauan tol canggih berbasis AI di sini.