Silaturahmi Semu

Tony Rosyid/Dok pribadi
Tony Rosyid/Dok pribadi

Bicara silaturahmi, itu bicara tentang pergaulan sosial. Dalam ilmu sosiologi, manusia itu makhluk multi peran. Memainkan banyak laku dalam panggung kehidupan.

Sekali waktu ia jadi dokter, dan di waktu yang lain jadi bapak sekaligus suami. Di luar itu ia masih jadi politisi dan punya posisi juga sebagai pengurus IDI.

Semua posisi itu terbingkai dalam lingkungan sosial yang berbeda satu dengan yang lain. Disinilah pentingnya kemampuan untuk menyesuaikan diri dalam etika dan tatakrama yang berlaku

Secara garis besar, lingkungan sosial terbagi dua. Pertama, lingkungan profesional. Atau lingkungan yang mengikat. Kedua, lingkungan hiburan. Sebut saja lingkungan basa-basi, independen dan tidak mengikat.

Di dalam setiap lingkungan ada interaksi. Keduanya punya pakem yang berbeda dalam interaksi. Baik dalam  cara bergaul, bersikap dan berkomunikasi, masing-masing berbeda.

Silaturahmi dalam lingkungan profesional lahir dari "kepentingan" yang sama. Selama kepentingan sama, silaturahmi jalan. Sementara silaturahmi untuk kebutuhan hiburan lebih ditentukan oleh "perasaan" yang sama.

Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, interaksi sosial ini dinamakan silaturahmi. Silaturahmi itu ya bergaul, bersikap dan berkomunikasi. Yang membedakan apakah itu silaturahmi "kepentingan", atau silaturahmi "perasaan".

Silaturahmi itu mulia. Semua agama menganjurkan. Karena, silaturahmi membawa dampak ekonomi dan psikologi. Rajin silaturahmi berpeluang kaya dan mati setelah tua, alias panjang umur.

Filosofi ini yang kemudian dipakai oleh orang-orang politik. Istilah silaturahim kemudian diubah agar tampak lebih keren yaitu lobi. Jadilah kemudian lobi-lobi politik. Ini yang pasca pilpres kemarin dilakukan oleh Prabowo-Jokowi di MRT Lebak Bulus, Gerindra-PDIP di Teuku Umar dan Nasdem-PKS di Simatupang. Ini bagian dari kerja profesional. Titik temunya ada pada "kepentingan bersama".

Silaturahmi politik seringkali membawa hasil, setidaknya untuk sharing posisi. Prabowo jadi menteri dan Gerindra masuk koalisi. Tapi tak jarang silaturahmi itu dianggap semu karena tak menghasilkan apa-apa. PAN dan Demokrat terlempar. Padahal dikenal paling rajin mendekat ke istana. Ini bukan sekedar soal nasib, tapi lebih karena lobi yang tidak efektif.

Begitu juga dalam bisnis. Silaturahmi itu mutlak. Karena bagian yang niscaya dalam dunia marketing. Tanpa silaturahmi, perusahaan akan gulung tikar dan bisnis gak jalan.

Dalam dunia bisnis, silaturahmi butuh anggaran besar. Orang menamainya biaya marketing. Termasuk biaya entertainment. Ada yang halal, tapi tak sedikit yang haram. Kok haram? Orang marketing paham bagaimana menjamu para tamu di Alexis. Sudah tutup! Masih ada Alexis-Alexis dalam bentuk yang lain. Ini semua harus dijalankan secara profesional. Ada anggaran, maka target jadi beban.

Silaturahmi di lingkungan profesional mengabaikan unsur perasaan, bahkan etika, tatakrama dan aturan. Iman saja seringkali tak dihiraukan. Karena fokusnya pada kepentingan.

Ada pergaulan non-profesional. Sekedar untuk hiburan. Seperti pergaulan di medsos macam Facebook dan WA, juga pergaulan antar tetangga. "Say helo" dan ala kadarnya. Penting sebatas saling sapa.  Termasuk juga pergaulan sesama alumni. Semua ini bagian dari hiburan.

Sesekali ada kopi darat. Kalau yang ketemu alumni sekolah, pesantren atau kuliah, orang menyebutnya dengan istilah reuni. Bahkan mantan demonstran ketika berkumpul, mereka juga menyebutnya reuni. Seperti reuni alumni 212 misalnya.

Istilah reuni sudah jadi trend sejak lama. Sebagai ajang temu kangen, dan hiburan psikologis. Selain membaca lagi memori masa lalu, barangkali ketemu sang mantan. Husss... Ora elok!

Silaturahmi dalam konteks ini cenderung melibatkan "perasaan" bukan "kepentingan". Masing-masing tidak saling tergantung kecuali hanya untuk memenuhi kebutuhan perasaannya.

Pada akhirnya, orang harus kembali menjalani dunia nyatanya. Reuni itu sekedar rehat, istirahat dari lelahnya hidup, mengisi liburan dan memanfaatkan waktu luang. Tak ubahnya seperti orang bertamasya. Setelah itu, ia harus kembali lagi ke kehidupan nyata. Kehidupan tanpa basa-basi. Balik lagi ke lingkungan profesionalnya.

Karena berkumpul hanya semata untuk memanjakan perasaan, maka unsur psikologi menjadi unsur paling dominan. Merasa dihargai dan nyaman, interaksi akan terus jalan. Jika tak lagi dihargai dan tak merasa nyaman, maka secara alamiah interaksi dan komunikasi sosial akan berakhir tanpa ada beban. Itu hukum sosial. Ini berlaku karena tak ada faktor yang membuat masing-masing orang untuk mempertahankan lebih dari urusan perasaan.

Pada akhirnya setiap orang akan mencari dan hidup di lingkungan yang cocok dan sesuai dengan kenyamanan dirinya. Untuk lingkungan profesional, ia akan mencari kecocokan dalam "kepentingan" . Dan di lingkungan hiburan, seseorang akan mencari komunitas yang membuat "perasaannya nyaman" Tidak lebih dari itu.

Setiap orang akan memilih lingkungan yang kondusif buat kenyaman psikologi dan masa depan kepentingannya. "Al-jaar qabla ad-daar." Teliti tetangga (lingkungan pergaulan) sebelum engkau tinggal, kata Muhammad, Sang Nabi. Terjadi proses seleksi sosial yang tidak bisa dihindari.

Kesimpulannya, setiap orang tak akan bisa menghindari dua kebutuhan. Yaitu kebutuhan profesional yang meniscayakan adanya kepentingan materiil yang konkret dan terukur. Disisi lain, manusia juga akan memenuhi kebutuhan psikologisnya dengan berada dalam lingkungan yang nyaman bagi perasaannya.

Kedua lingkungan ini akan berakhir seiring dengan hilangnya dua kebutuhan di atas. Yaitu kebutuhan "material " dan "kenyamanan".

Seseorang tidak bisa dipaksa untuk melakukan interaksi di lingkungan yang sarat dengan kepura-puraan. Pada akhirnya hanya akan melahirkan silaturahmi yang semu. Seperti silaturahminya PBNU dengan Jokowi, Nasdem dengan PDIP, dan PKS dengan Gerindra. Semu, karena tak lagi menyatu dalam kepentingan.

 

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

 

Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait
# Prabowo Menhan
# pbnu
# Politik
# Jokowi

News Update

Bekasi

TPST Bantargebang Mulai Pakai Geomembran, Targetkan Sistem Controlled Landfill Rampung 2029

Pemprov DKI pasang geomembran di TPST Bantargebang untuk transisi ke controlled landfill hingga 2029. Langkah ini tekan air lindi dan butuh pemilahan sampah organik dari rumah tangga.

Bisnis

BRI Peduli Gelar Pelatihan Ekspor, UMKM Mebel Sukoharjo Siap Rambah Pasar Dunia

CV Swakarya Jaya Furniture asal Sukoharjo sukses tembus pasar ekspor Spanyol dan AS! Simak kisah sukses pelatihan ekspor BRI Peduli di sini.

Gadget

Lini Samsung Galaxy Z Fold 8 Resmi Rilis di Indonesia, Perdana Bawa Baterai Silikon Karbon dan Chipset 2nm

Samsung merilis Z Flip 8 (Exynos 2600 2nm), Z Fold 8, dan Z Fold 8 Ultra di Unpacked Jakarta. David GadgetIn puji baterai silikon karbon 5.000 mAh di Fold 8 Ultra dan Snapdragon 8 Elite Gen 5.

Nasional

Dorong Service Excellence, Danantara Indonesia Tinjau Travoy Rest dan JMTC Jasa Marga

Danantara Indonesia tinjau Travoy Rest dan JMTC Jasa Marga! Cek inovasi rest area kekinian dan pantauan tol canggih berbasis AI di sini.

Gadget

Resmi Meluncur Mulai Rp4 Jutaan, Tecno Pova 8 5G Worth It Dibeli atau Mending Camon 50 Pro?

Tecno Pova 8 5G rilis mulai Rp4,1 jutaan (naik 66%). David GadgetIn soroti baterai raksasa 8.000 mAh, layar 144Hz, LED Alive Matrix, Dimensity 7100, serta kamera Sony Lythia 600 50 MP.

Metropolitan

Kunjungan Turis DKI Jakarta Tembus Jutaan, Ekonomi Ibu Kota Berhasil Capai Rp 67,5 Triliun!

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, ke Ibu Kota mengalami kenaikan yang sangat signifikan.

Metropolitan

Siap Hadirkan Ruang Publik Sehat, Pemprov DKI Targetkan Bangun 10 RTH Baru hingga Akhir 2026!

Hingga akhir tahun 2026 mendatang, Pemprov Jakarta menargetkan pembangunan 10 ruang terbuka hijau (RTH) baru di berbagai titik.

Metropolitan

Kolaborasi Homy Nomad Fatmawati dan Flow Society Gelar Yoga Seamless Strength

Homy Nomad Fatmawati berkolaborasi dengan komunitas yoga Flow Society menggelar kegiatan yoga

Bisnis

Tiga Strategi Utama SMF untuk Dukung Likuiditas Lembaga Penyalur Kredit

Dalam memperkuat perannya di sektor pembiayaan perumahan, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF menjalankan tiga strategi utama, yaitu mendukung program Pemerintah menyediakan likuiditas

Bisnis

Per Juni 2026, SMF Bukukan Akumulasi Penyaluran Pembiayaan Sebesar Rp141,61 triliun

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya sebagai penyedia likuiditas sekaligus alat fiskal Pemerintah dalam mendukung keberlanjutan sektor pembiayaan perumahan

News

Lembaga Baru! Prabowo Lantik Donny Ermawan Jadi Gubernur Universitas Republik Indonesia, Tugasnya Apa?

Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur Universitas Republik Indonesia (URI).

News

Resmi Dilantik Prabowo, Mantan Wamentan Sudaryono Jadi Kepala Badan Gizi Nasional: Janji Benahi MBG

Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026.

Metropolitan

Waspada! Muka Tanah Jakarta Turun 4 Sentimeter per Tahun, Kawasan Muara Baru Jadi yang Terdalam...

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah masih menjadi tantangan lingkungan yang sangat serius bagi ibu kota.

Metropolitan

Soal Sekolah Rusak di Jakarta, Pramono Anung Buka Opsi Perbaikan Pakai Dana CSR hingga KLB!

Pemprov DKI Jakarta tengah menyiapkan langkah taktis untuk mempercepat perbaikan gedung sekolah yang rusak di ibu kota.

Metropolitan

Dominasi 63 Persen Mobil Listrik Nasional Ada di Jakarta, Bapenda DKI: Minta Pemprov DKI Kaji Ulang Insentif Pajak

Secara total, potensi kehilangan penerimaan pajak daerah Jakarta dari sektor ini diperkirakan mencapai Rp 2 triliun

Metropolitan

Partisipasi Angkatan Kerja Meningkat, Pemprov DKI: 5,2 Juta Warga Kini Sudah Bekerja

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatatkan tren positif pada sektor ketenagakerjaan di tahun 2026.

Metropolitan

Jakarta Makin Terkoneksi! Pengguna Transportasi Umum Tembus 230 Juta Orang, Ekonomi Ikut Melejit

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa jumlah pengguna Transjakarta, MRT, dan LRT mencapai angka 230,8 juta orang.

Jakarta Timur

Cegah Kemacetan Parah, Sudinhub Jaktim Terapkan Rekayasa Lalu Lintas di Jalan Raya Sri Sultan Hamengkubuwono XI Cakung

Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Timur resmi memberlakukan rekayasa lalu lintas sementara di Jalan Raya Sri Sultan Hamengkubuwono XI, Cakung.

Bisnis

Kenalkan Dunia Aviasi Sejak Dini, Intip Aksi Seru Pertamina Patra Niaga Regional JBB di Hari Anak Nasional 2026

Pertamina Patra Niaga Regional JBB sambut Hari Anak Nasional 2026 lewat Program TAMASYA di Bandung! Kenalkan dunia aviasi dan profesi CRO.

Nasional

HUT ke-65 IKWI: Indah Kirana dan Ketum PWI Pusat Gelorakan Transformasi Keluarga Pers

Peringatan HUT ke-65 IKWI! Ketum Indah Kirana & PWI Pusat serukan solidaritas dan transformasi nyata bagi keluarga besar jurnalis Indonesia.