AYOJAKARTA.COM -- Stasiun MRT Bundaran HI yang biasanya hanya menjadi tempat perlintasan cepat para komuter, kini mendadak berubah menjadi ruang kontemplasi yang menyentuh hati.
Sejak tanggal 12 hingga 14 Januari 2026, sebuah pameran foto bertajuk “Perempuan Lentera Kehidupan” hadir menyapa publik.
Pameran ini bukan sekadar pajangan estetika, melainkan sebuah undangan bagi masyarakat untuk sejenak berhenti dan merenungkan sosok-sosok perempuan hebat yang bekerja dalam kesunyian.
Melalui deretan bingkai foto yang tertata rapi, pengunjung diajak untuk melihat realitas perjuangan perempuan yang sering kali luput dari perhatian mata publik.
Mereka adalah sosok yang menjaga roda kehidupan tetap berputar, tulang punggung keluarga yang berdiri tegak meski dalam keterbatasan.
Kegiatan pameran ini merupakan puncak dari ajang PNM Journalist’s Photo Journey, sebuah kompetisi foto jurnalistik bergengsi skala nasional.
Tahun ini, kompetisi tersebut mencatat partisipasi yang luar biasa dengan melibatkan ratusan jurnalis dari seluruh provinsi di Indonesia.
Semangat yang diusung oleh para pewarta foto ini adalah mendokumentasikan peran krusial perempuan, terutama ibu, yang selaras dengan momentum peringatan Hari Ibu pada akhir Desember lalu.
Dari ratusan karya yang masuk ke meja panitia, tim juri profesional melakukan seleksi yang sangat ketat hingga menghasilkan 12 karya terbaik.
Foto-foto inilah yang kini dipamerkan di ruang publik untuk menyampaikan pesan pemberdayaan kepada khalayak luas.
Pemilihan Stasiun MRT Bundaran HI sebagai lokasi pameran sangatlah strategis; mobilitas tinggi di area ini memungkinkan narasi visual tersebut tersampaikan kepada ribuan orang dari berbagai latar belakang setiap harinya.
Kompetisi ini tidak hanya menilai aspek teknis fotografi, tetapi juga kedalaman cerita yang terbagi ke dalam tiga ranah utama: sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Pembagian ini merefleksikan pendekatan komprehensif yang dilakukan oleh Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam mendampingi nasabahnya.
Sejak tahun 2016, PNM telah menjangkau sebanyak 22,7 juta perempuan prasejahtera melalui berbagai program pendampingan.
Foto-foto yang dipamerkan menggambarkan bagaimana intervensi modal dan pengetahuan mampu mengubah kehidupan ekonomi keluarga, memperkuat struktur sosial di pedesaan, hingga mendorong kesadaran akan kelestarian lingkungan di tangan kaum perempuan.
Di lokasi pameran, terlihat banyak penumpang MRT yang terhenti cukup lama, membaca setiap baris narasi, dan tampak terhanyut dalam keheningan saat menatap detail ekspresi dalam foto-foto tersebut.
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari peran jurnalis yang mampu menangkap momen-momen magis di lapangan. Syamsudin Ilyas, seorang jurnalis dari RRI yang juga menyabet gelar Juara 1 Kategori Essay, mengungkapkan rasa sukur dan harapannya.
Dalam pernyataannya, Syamsudin mengapresiasi PNM karena telah memfasilitasi para pewarta foto untuk mengekspresikan karya mereka.
Ia mengharapkan agar melalui wadah ini, narasi mengenai kegigihan kaum perempuan yang menjadi penopang ekonomi keluarga semakin dikenal luas oleh seluruh masyarakat Indonesia, melampaui batas lingkungan tempat mereka tinggal.
“Terima kasih PNM telah menyediakan wadah bagi kami pewarta foto untuk berkarya, semoga kedepannya lebih banyak kisah perempuan tangguh sebagai tulang punggung keluarga yang dapat dikenal tak hanya dilingkungan sekitar, tetapi diseluruh Indonesia.” Ujar Syamsudin.
Senada dengan hal tersebut, pihak manajemen PNM memandang jurnalis sebagai mitra strategis dalam menyebarkan semangat pemberdayaan.
Sekretaris Perusahaan PNM, Dodot Patria Ary, memberikan penghormatan tinggi kepada seluruh insan pers yang terlibat.
Dodot menyampaikan rasa terima kasihnya kepada jajaran jurnalis yang telah mengabadikan kisah inspiratif kaum perempuan melalui media visual.
Ia menegaskan bahwa PNM berkomitmen untuk menjadikan setiap karya foto ini sebagai arsip berharga yang menyimpan makna mendalam.
Ia pun berharap pameran ini mampu memberikan pemahaman yang lebih luas kepada publik mengenai dampak nyata dari pemberdayaan perempuan, sekaligus memperkuat pesan tentang pentingnya pendampingan bagi masyarakat prasejahtera yang dilakukan oleh PNM.
“Terima kasih kepada para jurnalis yang telah menghadirkan kisah perjuangan perempuan lewat karya visual. PNM akan menjadi rumah bagi setiap bingkai yang menyimpan cerita, yang menyimpan makna mendalam, dan kami berharap karya-karya ini memperluas pemahaman publik tentang dampak pemberdayaan perempuan serta menguatkan gaung pendampingan perempuan prasejahtera PNM.” ujar Dodot.
Kompetisi ini melahirkan jawara-jawara baru yang berhasil memadukan ketajaman insting jurnalistik dengan keindahan komposisi visual. Berikut adalah daftar lengkap pemenang dari dua kategori utama:
Kategori Single
Juara 1: Arief Hermawan
Juara 2: Bisa Junisa Munthe
Juara 3: Idris Prasetiawan
Harapan 1-3: Iqbal Lubis, Auliya Rahman, dan Hesti Rika.
Kategori Essay
Juara 1: Syamsudin Ilyas
Juara 2: Andry Denisah
Juara 3: Hendra Eka Syahputra
Harapan 1-3: Kadri Boy Ladani Tarigan, Rifqianto Nugroho, serta Erianto.
Pameran "Perempuan Lentera Kehidupan" menjadi bukti nyata bahwa seni dan jurnalistik dapat menjadi alat advokasi yang sangat efektif. Melalui 12 potret pilihan ini, PNM dan para jurnalis nasional berhasil memberikan panggung bagi mereka yang sebelumnya tidak terlihat.

Share this article
Kisah haru dan inspiratif! Intip pameran foto "Perempuan Lentera Kehidupan" di MRT Bundaran HI. Simak perjuangan perempuan prasejahtera PNM.