AYOJAKARTA.COM – Setelah lama beroperasi di Purwakarta, Jawa Barat, pabrik sepatu Bata akhirnya menghentikan produksinya pada awal Mei 2024 pekan lalu.
Penutupan pabrik sepatu Bata yang berdampak pada pemecatan massal pada sebanyak ratusan karyawan terjadi akibat terus mengalami kerugian selama dua tahun terakhir.
Menjadi salah satu brand paling legendaris di Indonesia, tutupnya pabrik sepatu Bata juga mendapat tanggapan dari Presiden Joko Widodo.
Menurut Presiden Jokowi, penutupan pabrik sepatu Bata yang sempat dianggap sebagai salah satu produk lokal tersebut merupakan hal wajar.
“Sebuah usaha itu naik turun, karena kompetisi, karena efisiensi juga karena bersaing dengan barang baru,” ungkap Presiden Jokowi, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews.
Lebih lanjut, Presiden Joko Widodo memastikan tingkat pertumbuhan ekonomi makro Indonesia dalam keadaan yang stabil sehingga tidak perlu dikhawatirkan.
Terkait dengan adanya anggapan dari sebagian masyarakat yang menilai Bata merupakan produk lokal, berikut adalah sejarah Bata di Indonesia.
Berawal dari Pengusaha sepatu asal Cekoslowakia bernama Tomas Bata, sepatu Bata yang sudah berusia hampir 130 tahun ikut mengawal berbagai peristiwa di dunia.
Dari mulai perang dunia, perhelatan piala dunia, hingga akulturasi aliran musik Grunge di dunia, Bata menjadi salah satu saksi sejarahnya.
Baca Juga: Mulai Arus Balik? Ini Referensi Rest Area Tol Trans Jawa, Ada yang Dulunya Pabrik Gula, Loh
Lahir di kota Zlin, Ceko pada tahun 1876, Tomas kecil banyak belajar mengenai proses pembuatan sepatu kepada Ayahnya yang bernama Antonin Bata.
Karena hubungan keduanya kurang akur, di usia 15 tahun Tomas memutuskan kabur dari rumah dan tinggal bersama sang kakak Anna Batova yang berada di Austria.
Dengan modal seadanya dari Anna, Tomas mulai memproduksi sepatu buatannya dan langsung berujung dengan kegagalan.
Minimnya riset pasar dan peraturan membuat Tomas mulai memutuskan untuk belajar menekuni bisnis secara lebih serius.
Di tahun 1894, bersama kedua saudaranya yakni Anna dan Antonin Junior, Tomas mulai mendalami bisnis secara lebih serius.
Berbekal pinjaman modal senilai 800 Gulden dari Sang Ibu, ketiga bersaudara tersebut mulai memprakarsai lahirnya T&A Bata.
Buah dari keseriusan tersebut, T&A Bata mulai dikenal luas dan menarik minat para Penanam Modal untuk mengembangkan usaha.
Usai Anna menikah dan Antonin menjadi tentara, Tomas yang saat itu berusia 19 tahun berjuang seorang diri untuk melunasi hutang milik para Investor.
Dengan kegigihan dan keseriusan Tomas bukan saja berhasil melunasi hutang, tetapi juga mendirikan Bata sebagai nama toko di tahun 1899. ***

Share this article
Setelah lama beroperasi di Purwakarta, Jawa Barat, pabrik sepatu Bata akhirnya menghentikan produksinya pada awal Mei 2024 pekan lalu.