AYOJAKARTA.COM -- Kontestasi pemilihan presiden di era digital, menurut Rocky Gerung harus disikapi dengan mengedepankan akal yang sehat.
Karena itu Rocky Gerung menilai pemasangan baliho, spanduk dan atribut kampanye sebagaimana sekarang banyak ditemukan, belum memenuhi akal sehat.
Sebab pemilu yang merupakan keberlanjutan arah bangsa, menurut Rocky Gerung sepantasnya dibangun dengan beradu gagasan.
“Anda tidak bisa mencari ide dibalik baliho, karena di baliho yang dipamerkan adalah wajah, bukan otak,” tegas Rocky di hadapan mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta.
Dalam acara bertajuk Yuk Kita Seminar yang diselenggarakan pada 29 November 2023, Rocky mengkritisi sejumlah hal terkait minimnya narasi dan gagasan kebangsaan.
Bukan lagi hidup di era kolonial, berkampanye di era digital menurut Rocky bisa dilakukan dengan menggunakan perangkat di beragam sosial media.
Beranjak dari sosial media, narasi-narasi serta gagasan kebangsaan sepantasnya mengalami penyesuaian untuk kemudian menjadi landasan dasar perubahan.
Bentuk perjuangan semacam itu, telah menjadi bagian dari sejarah yang melahirkan kesamaan narasi akan bangsa Indonesia pada 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda.
“Setelah 95 tahun, kita kehilangan kemampuan naratif seperti yang diucapkan Pemuda-Pemuda di tahun 1928 itu,” ungkap Rocky.
Baca Juga: 7 Tanda Kamu Tidak Dicintai Orang di Sekitarmu, Yuk Kenali Ciri-cirinya
Salah satu indikasi adanya contoh hilangnya narasi yang belum lama terjadi, adalah saat salah satu cawapres dimintai tanggapan tentang teknologi.
Keraguan atau bahkan ketidak mampuan dalam menginterpretasikan substansi dalam buku panduan menjadi narasi, menurut Rocky merupakan suatu bukti.
Fakta adanya penurunan kemampuan bernarasi dan beradu gagasan dengan akal dan nalar sadar, bisa menjadi gejala pengkhianatan terhadap para Pendiri Bangsa Indonesia.
“Semua Pendiri Bangsa kita adalah orang-orang yang berfikir debat antara Soekarno, M. Natsir, Tan Malaka, semua dihidupkan oleh narasi,” imbuh Rocky.
Kekosongan akan narasi yang terjadi akhir-akhir ini, baik di Indonesia ataupun dunia, menurut Rocky telah menjauhkan manusia dari makna eksistensinya.
Kebanyakan orang di dunia saat ini akan lebih menghargai kecakapan dalam berbicara, dibandingkan kemampuan mengenali lingkungan sosialnya.
Baca Juga: Tipe Golongan Darah Ini Selalu Bawa Keberuntungan dan Hoki, Apakah Kamu Termasuk?
Adanya pergeseran nilai serta makna, menurut Rocky merupakan persoalan primer yang perlu ditemukan jawabannya dari seorang pemimpin.
Sebab cakupan nilai demokrasi bukan saja terbatas pada bentuk pemerintahan yang dikelola oleh manusia untuk kepentingan manusia lainnya.
Demokrasi yang lebih luas dan mendalam menurut Rocky, merupakan suatu bentuk pemerintahan yang dikelola berdasarkan akal serta nalar sehat untuk rakyat.
“Demokrasi adalah pemerintahan akal melalui pemerintahan orang, jadi kalau nggak ada akal, jangan coba-coba berkompetisi,” tegasnya dikutip Ayojakarta, Kamis 30 November 2023 dari Youtube Rocky Gerung Official.***

Share this article
Rocky Gerung menilai pemasangan baliho, spanduk dan atribut kampanye sebagaimana sekarang banyak ditemukan, belum memenuhi akal sehat.