AYOJAKARTA.COM – Jika berbicara mengenai Anies Baswedan maka tidak bisa terlepas dari sisi positif mengenai rekam jejak kepemimpinannya yang baik dan juga sisi negatif mengenai politik identitas.
Anies Baswedan yang diusung oleh Koalisi Perubahan menjadi bakal Capres 2024 selain mendapat banyak dukungan juga mendapat banyak kritikan yang kembali menyinggung mengenai politik identitas.
Sejumlah pihak menilai bahwa Anies Baswedan dalam berpolitik kerap kali menggunakan politik identitas salah satunya dalam upaya memenangkan Pilkada.
Baca Juga: Raup Cuan dari Narkoba, Pakar Hukum Pidana Bilang Teddy Minahasa Cocoknya Divonis Hukuman Ini
Semakin mendekati waktu Pilpres 2024, Anies baswedan yang telah diusung untuk menjadi salah satu Capres semakin banyak menerima serangan.
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube tvOneNews (11/5/2023), Politisi PDIP Deddy Sitorus menilai bahwa identitas sebenarnya memang melekat pada diri setiap orang.
Identitas yang dimiliki seseorang bisa dilihat dari agama, gender, latar belakang, suku atau lainnya yang melekat pada diri seseorang.
Jadi pada dasarnya politik identitas tidak bisa lepas dari diri seseorang. Tetapi apa yang dilakukan Anies Baswedan dalam politik dinilai lebih dari sekedar politik identitas tetapi sudah termasuk politik SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).
Baca Juga: Alih-alih Didamaikan, Inara Rusli Justru Mengaku Dimaki-maki Mertua Usai Virgoun Ketahuan Selingkuh
“Sebenarnya yang kita tolak itu bukan politik identitas, yang kita tolak adalah politik identitas yang digunakan untuk menyerang, not to promote. Yang kedua, dia kemudian jatuh kepada politik SARA, itulah yang terjadi yang kita lawan, kalau politik identitas tidak pernah kepada manusia,” kata Deddy.
Deddy Sitorus mewajarkan ketika seseorang melakukan politik identitas, misalnya saja mempromosikan dirinya sebagai anak daerah yang jika terpilih memimpin daerah tersebut maka akan lebih mengerti dan memajukan daerah.
Namun ia melawan ketika politik identitas tersebut digunakan untuk melawan, misalnya saja ketika kandidat lawan merupakan bukan umat Islam lalu timbul himbauan untuk tidak memilih kandidat tersebut karena bukan Islam.
Hal tersebut dirasakan oleh Deddy Sitorus telah dilakukan pihak Anies Baswedan sejak Pilkada tahun 2012.
“Jadi apa yang terjadi, kenapa Anies, yang terjadi kan ketika Jokowi waktu Pilkada 2012 saja sudah keluar kan. Oh itu bukan Islam, oh itu China, itu sudah keluar 2012,” kata Deddy Sitorus.
Anies Baswedan sendiri tidak pernah menanggapi perihal isu dirinya melakukan politik identitas, ia tidak ingin menanggapi hal tersebut dengan kata-kata.
Tetapi ia ingin masyarakat melihat langsung secara nyata kinerja yang telah ia lakukan pada saat menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta 2027 – 2022 bahwa ia memperlakukan setiap golongan sama dan adil.***

Share this article
Jelang Pilpres 2024, Anies Baswedan kembali dituding lakukan politik identitas dengan lakukan SARA, seperti apa?