AYOJAKARTA.COM - Usai deklarasi duet pasangan Anies Baswedan dengan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin diresmikan, langkah politik terus dilakukan.
Salah satu upaya yang dilakukan Anies Baswedan serta Muhaimin Iskandar terkait kontestasi pemilu 2024 mendatang adalah memaksimalkan elektabilitas.
Kendati Muhaimin Iskandar memiliki cukup banyak dukungan di Pulau Jawa, namun menurut Anies Baswedan upaya tetap perlu dilakukan.
Baca Juga: 3 Nama Kandidat Cawapres Prabowo Subianto Usai Cak Imin Berpaling ke Anies Baswedan, Siapa Saja?
Dengan semakin meningkatnya elektabilitas, Cak Imin meyakini bahwa proses sosialisasi mengenai program akan menjadi lebih mudah dilakukan.
Penyebab lain yang menjadi pulau Jawa menjadi salah satu potensi lumbung suara dan menjadi incaran banyak capres adalah keberadaan warga Nahdliyin.
Meski sering berada di urutan bawah dalam sejumlah survei yang disajikan ke publik, Anies optimis hal tersebut tidak selalu menggambarkan realitas masyarakat.
Baca Juga: AHY Kumpulkan Pengurus DPP Demokrat Hari Ini, Imbas Ditinggal Anies Baswedan?
“Pengalaman kami di Pilkada Jakarta, kami belum pernah nomor satu di survei, tapi kenyataannya berbeda dengan yang di survei,” jelas Anies.
Menyadari potensi suara yang dimiliki, Ketua Umum Nahdlatul Ulama menyebut bahwa organisasinya tidak terlibat dalam politik praktis.
Dalam salah satu pernyataan resminya, Yahya Cholil Staquf selaku Ketua Umum PBNU menegaskan bahwa tidak ada calon yang mengatasnamakan NU.
Baca Juga: NasDem Ingin Laporkan SBY ke Bareskrim Polri, Anies Baswedan Turun Tangan dan Tak Perbolehkan
“Jadi kalo ada calon, ya itu atas nama kredibilitas, kapasitas, track recordnya sendiri, tidak ada atas nama NU,” jelas Yahya.
Lebih lanjut, Ketua Umum PBNU menyebut tidak ada pengurus NU yang membahas mengenai dukungan ke salah satu calon.
Terkait dukungan, berpindahnya dukungan PKB dari Koalisi bersama Gerindra, disikapi Prabowo Subianto sebagai hal lumrah dan wajar.
Baca Juga: Selain Anies Baswedan, Partai Demokrat Juga Pernah Dikhianati Partai Lain Menjelang Pilpres 2019
Meski berpisah dengan PKB, Gerindra yang saat ini memiliki cukup banyak dukungan politik menganggap tidak ada yang perlu disesali dalam proses demokrasi.
Selain telah mendapat dukungan Partai Golkar, PPP dan PAN, Prabowo juga mendapat dukungan dari Partai Gelora.
“Nggak ada lara-laraan, demokrasi adalah suatu proses diskusi, santai saja kita berbuat yang baik untuk rakyat dan rakyat yang menilai,” ungkap Prabowo.
Baca Juga: Puji Keberanian Cak Imin, Anies Baswedan Malah Singgung Lebih Baik Minta Maaf daripada Minta Izin
Hilangnya PKB dari Koalisi bersama Partai Gerindra yang berganti Gelora disikapi Pengamat Politik Adi Prayitno sebagai orkestrasi politik yang dinamis.
Hadirnya sejumlah mantan petinggi PKS yang kini bergabung di Partai Gelora, dinilai Adi Prayitno akan membawa warna tersendiri pada pemilu mendatang.
Lebih lanjut, Adi berpendapat bahwa peran Partai Gelora masih belum cukup kuat untuk mendongkrak elektabilitas sebagai dimiliki PKB.
“Gelora ini partai baru, tentu konstituennya tidak terlalu signifikan,” jelas Adi seperti dikutip AyoJakarta.com pada Senin, 4 September 2023 dari kanal Youtube Kompas TV. ***

Share this article
Dukungan Cak Imin bersama PKB diduga kuat bisa wujudkan peluang Anies Baswedan untuk kuasai wilayah pulau Jawa.