AYOJAKARTA.COM – Fenomena pengibaran bendera One Piece yang marak menjelang peringatan HUT RI ke-80, bukan hanya suatu bentuk ekspresi diri.
Sebab bagi sebagian kalangan, fenomena pengibaran bendera One Piece yang dilakukan saat mendekati perayaan HUT RI ke-80 justru merupakan bentuk sikap oposisi.
Ditambah dengan narasi yang bernada provokatif, fenomena maraknya pengibaran bendera One Piece menjelang pelaksanaan HUT RI ke-80 bisa merupakan sinyal upaya makar.
Baca Juga: Terbuka untuk Umum! Warga DKI Jakarta Bisa Masuk Gratis Pameran Fona 2025
Karena itu agar momen hari kemerdekaan bangsa Indonesia tidak mengalami deviasi, pengibaran bendera hitam Jolly Roger perlu segera ditangani.
Pernyataan terkait pengibaran bendera Jolly Roger atau One Piece sebagai bagian dari upaya makar tersebut, merupakan pandangan Firman Soebagyo.
Disampaikan dalam sebuah diskusi virtual, Politisi asal Partai Golkar ini juga mendesak agar aparat pemerintah dapat melakukan upaya yang menjunjung martabat bendera kebangsaan.
Mengingat sifatnya yang multitafsir, oleh sebagian kalangan pengibaran bendera Jolly Roger dinilai sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas diri.
Baca Juga: Belanja Sekaligus Nonton? Shopee dan Vidio Tawarkan Fitur Vidio Shopping yang Canggih
Namun demikian, Firman tidak menyangkal bahwa fenomena ini oleh sebagian kalangan sudah dimaknai sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan status quo.
“Kalau ekspresi berlebihan yang bisa menimbulkan provokasi, ini ujung-ujungnya dapat menimbulkan masalah yang terkait dengan makar,” ujar Firman.
Ketidakpahaman masyarakat terhadap pemaknaan yang ditimbulkan dari pengibaran bendera one piece, menurut Firman dapat menyebabkan munculnya reaksi sosial di masyarakat.
Terlebih jika reaksi tersebut sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memang memiliki agenda politik tertentu dengan pemerintah.
Menyikapi pernyataan dan kekhawatiran yang disampaikan oleh Politisi Partai Golkar, Ketua Umum YLBHI memberikan pandangan.
Baca Juga: Yuk, Jelajahi Surga Budaya Betawi di Setu Babakan, Ada Apa Saja?
Menurut Muhammad Isnur, tanggapan yang dilakukan oleh pemerintah dan para politisi seyogyanya tidak diwarnai dengan mengedepankan ketakutan.
Sebagaimana Presiden Abdurrahman Wahid yang cenderung rileks saat menerima berbagai serangan kritik simbolik dari publik, pemerintah sudah selayaknya mencontoh.
Alasan masyarakat melakukan kritik melalui pengibaran bendera Jolly Roger atau One Piece jelang HUT RI ke-80, menurut Isnur perlu menjadi perhatian pemerintah.
Bukan merespon dengan cara mencoba melakukan upaya menutup dialog, ruang kritik terhadap pejabat publik seyogyanya memang terus dibiarkan terbuka.
“Bagi YLBHI ini adalah bentuk semangat dan partisipasi warga untuk mereka mengkritik tentang jalannya kebangsaan,” jelasnya.
Baca Juga: Daftar Bansos Cair Awal Agustus 2025: Ada PKH Plus Rp500 Ribu hingga BLT Dana Desa Rp900 Ribu
Sehingga penggunaan istilah makar dalam konteks pengibaran bendera Jolly Roger, menurut YLBHI dianggap respon yang sangat berlebihan.
Mengacu pada perundang-undangan yang berlaku, definisi kata makar menurut Ketua YLBHI adalah serangan atau upaya menggulingkan kekuasaan.
“Seharusnya pejabat negara itu peka, demokrasi itu membutuhkan kegaduhan untuk menyampaikan pandangan berbeda,” pungkasnya dikutip Ayojakarta dar Kompas TV. ***
Share this article
Fenomena pengibaran bendera One Piece yang marak menjelang peringatan HUT RI ke-80, bukan hanya suatu bentuk ekspresi diri.