AYOJAKARTA.COM – Selat Sunda menyimpan ancaman potensi Gempa Megathrust dan tsunami ke daerah–daerah di sekitarnya.
Ancaman Gempa Megathrust ini ada karena posisi lempeng samudera dan lempeng benua yang bertemu dan bertumbukan.
Heri Andreas selaku Kepala Laboratorium Geodesi ITB memberi penjelasan tentang acaman Gempa Megathrust dan tsunami di Jawa Barat.
Menurut penjelasannya, bumi terdiri dari lempeng-lempeng yang bergerak satu sama lain.
Salah satu pergerakannya bisa mengakibatkan pertumbukan atau bisa dikatakan satu lempeng bisa menujam ke lempeng lain, dan dinamakan dengan subduksi.
Baca Juga: Gempa Bumi Sesar Aktif vs Megathrust di Selatan Jawa Barat, Mana yang Lebih Berbahaya?
Pada pertumbukan tersebut maka salah satu lempeng bisa terangkat. Terjadinya pergerakan antar lempeng ini memerlukan adanya energi.
Ternyata pada Megatrhust selatan Jawa Barat terdapat tumbukan lempeng sepanjang Pelabuhan Ratu hingga Ujung Kulon.
Heri Andreas mengatakan bahwa lempengan tersebut terangkat akibat tumbukan dan membuat titik pertemuannya menyimpan energi yang sangat besar.
Apabila energi besar itu terlepas maka akan bisa menimbulkan gempa dengan magnitudo di atas 8 bahkan 9.
Fakta ini sudah dikonfirmasi oleh beberapa peneliti bahkan sudah ada publikasi secara internasional. Andreas mengatakan bahwa terjadinya Megathrust akan menimbulkan potensi tsunami besar .
“Jika gempanya yang begitu besar ya terjadi di megathrust nah itu potensi tsunami akan sangat besar,” ujar Heri Andreas.
Baca Juga: Gempa M3.3 Guncang Tapanuli Utara pada Senin 02 Januari 2023, Tidak Berpotensi Tsunami
Tsunami ini nantinya bisa sampai pada Pelabuhan Merak, Cilegon bahkan hingga ke Jakarta.
“Bisa juga menjalar lewat Selat Sunda sampai ke Merak, Cilegon, dan kira-kira 3 jam berikutnya bisa sampai di Jakarta ya dengan ketinggian 1 – 1,5 meter,” ungkap Heri Andreas.
Perhitungan 1-1,5 meter ini berdasarkan ketinggian daratan dari air laut, namun ternyata dengan pesisir Jakarta yang sudah terndam air laut maka ketinggian air tsunami bisa mencapai lebih dari 2 meter.
“Ini tidak terlalu besar tetapi yang kita tahu pesisir Jakarta sudah berada 1 hingga 2 meter di bawah laut. Sehingga yang 1 meter akan menjadi seolah-olah 2 meter bahkan 2 meter lebih,” imbuhnya.
Demi meminimalisir bencana alam yang tak bisa terduga waktu terjadinya, maka diperlukan adanya mitigasi bencana.
Heri Andreas menyampaikan bahwa bentuk mitigasi bencana ada 2 yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.
Mitigasi struktural bisa berupa pembangunan tanggul lain untuk mencegah dahsyatnya gelombang tsunami yang menghantam daratan. Hal ini belum dilakukan karena biaya pembangunannya bisa terhitung sangat mahal.
Sedangkan mitigasi non struktural dilakukan dengan cara mensiagakan masyarakat , bisa melalui penambahan literasi dan edukasi kesiapan untuk menghadapai tsunami seperti contohnya dengan menyiapkan jalur evakuasi dan titik evakuasi.
Selain mitigasi bencana, adapun bantuan pemerintah berupa early warning system di pesisir pantai tentang adanya ancaman tsunami, dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube MetroTV.***

Share this article
Heri Andreas selaku Kepala Laboratorium Geodesi ITB memberi penjelasan tentang acaman Gempa Megathrust dan tsunami di Jawa Barat.