AYOJAKARTA.COM – Gempa Megathrust yang terjadi akibat adanya tumbukan antar lempeng dengan dampak patahan naik ke atas tengah menjadi sorotan di jagat maya.
Selain berpotensi terjadi di Mentawai, Gempa Megathrust yang dapat menyebabkan terjadinya gelombang tsunami juga berpotensi terjadi di Selat Sunda.
Meski Gempa Megathrust tidak selalu menyebabkan gelombang tsunami, namun langkah-langkah pencegahan terus diupayakan.
Baca Juga: Tes Penglihatan: Tebak! Angka Berapa yang Tersembunyi pada Gambar Ilusi Optik Ini?
Salah satu hal yang dilakukan oleh BMKG untuk mengantisipasi dampak potensi Gempa Megathrust adalah dengan mengaplikasikan Sistem Peringatan Dini Tsunami.
Pernyataan terkait langkah preventif dampak potensi Gempa Megathrust tersebut disampaikan langsung oleh Dwikorita Karnawati yang merupakan Kepala BMKG.
Sehubungan dengan dua lokasi potensial terjadinya Gempa Megathrust yang tengah menjadi sorotan publik, Dwikorita memberi penjelasan.
Menurutnya, lempeng bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya gempa terdiri dari banyak segmen dan saling merangkai.
Masing-masing segmen tersebut diketahui terus mengalami pergeseran, sehingga hanya menyisakan dua tempat yakni Mentawai-Siberut serta Selat Sunda.
“Diantara banyak segmen itu hampir semua sudah bergerak, kecuali ada dua segmen yang belum bergerak yaitu Segmen di Siberut dan Banten Selat Sunda,” jelas Dwikorita.
Terkait dengan riwayat pergeseran segmen Selat Sunda, Dwikorita menyebut pada tahun 1804 sempat terjadi gempa dan tsunami di Jawa Tengah dan 1818 di Jawa Timur.
Selain itu, dampak pergerakan segmen juga berdampak pada tahun 1840 di Yogyakarta, di Jawa Barat pada tahun 1857 dan terakhir di tahun 2006.
Baca Juga: Yakin Tak Bersalah, Melalui Peradi Kuasa Hukum 6 Terpidana Kasus Vina Ajukan PK ke PN Cirebon
Mengacu pada riwayat terjadinya gempa disertai tsunami tersebut, Dwikorita memastikan pernah terjadi pergerakan segmen.
“Sebelumnya itu sudah terbukti bergerak, namun pergerakannya ini ada selang waktu antara sebelum dan sesudahnya, misalnya 200 hingga 300 tahunan,” jelasnya.
Masih belum lengkapnya data riwayat gempa disertai tsunami dari segmen Mentawai, menurut Dwikorita menjadi isyarat untuk melakukan mitigasi.
Menyikapi kian maraknya pemberitaan terkait potensi Gempa Megathrust, Dwikorita menyebut hal tersebut bukan untuk mengintimidasi.
Sebab perbincangan dan pembahasan mengenai potensi Gempa Megathrust sudah dilakukan dan menjadi kajian oleh para Ahli Gempa sejak lama.
“Belajar dari data kita belajar untuk bersiap-siap, bukan untuk menakut-nakuti karena ini bukan informasi yang baru,” jelasnya.
Adapun pemberitaan mengenai potensi terjadinya Gempa Megathrust di Mentawai dan Selat Sunda tidak lain sebagai bekal melakukan langkah antisipasi atau mitigasi bencana.
Selain terus melakukan identifikasi gempa, BMKG juga terus melakukan kajian baik secara nasional maupun di kalangan internasional. ***

Share this article
Selain berpotensi terjadi di Mentawai, Gempa Megathrust yang juga berpotensi terjadi di Selat Sunda dan menyebabkan tsunami