AYOJAKARTA.COM - Banyak pertanyaan soal gempa bumi sesar aktif di darat dan megathrust di selatan Jawa Barat, mana yang lebih berbahaya.
Di dalam artikel ini akan dibahas risiko bahaya dari gempa bumi sesar aktif dan megathrust di selatan Jawa Barat.
Pada dasarnya, gempa bumi sesar aktif dan megathrust di selatan Jawa Barat memiliki karakteristik yang berbeda.
Hal itu sesuai dengan kajian literatur yang dipublikasikan oleh BMKG dari penelitian Dr. Jaya Muryaja yang dikutip Ayojakarta.com pada Senin 2 Januari 2023.
Baca Juga: Gempa Susulan Guncang Cianjur Jawa Barat Magnitudo 2.4, Dirasakan Hingga Cianjur Kota
Pada tulisan ini akan dianalisis tingkat bencana kedua jenis”gempa bumi berdasarkan data dan fakta yang ada di wilayah Jawa Barat.
Terdapat 10 sesar aktif yang sudah teridentifikasi nilai slip rate dan Maximum Credible Earthquake (MCE) di wilayah Jawa Barat.
Selain 10 sesar aktif tersebut, tentunya masih banyak sesar aktif yang belum teridentifikasi dengan lengkap, di antaranya Sesar Cianjur dan Sesar Cugenang yang baru saja ditemukan BMKG.
Sesar aktif merupakan salah satu zona sumber gempa bumi selain zona-zona lainnya.
Ada beberapa zona pembangkit gempa bumi di wilayah Jawa Barat.
Di antaranya zona outer rise, zona subduksi (termasuk zona benioff) dan sesar aktif yang sudah teridentifikasi maupun sesar aktif yang belum teridentifikasi (blind fault).
Gempa bumi Cianjur, Jawa Barat dengan magnitudo (Mw) 5.6 dan kedalaman sumber (h) 10 km yang terjadi pada tanggal 21 November 2022 diduga berasal dari sesar minor di sebelah utara Sesar Cimandiri.
Gempa bumi Cianjur menyebabkan kerusakan bangunan yang cukup parah dan longsoran mengakibatkan sekitar 334 orang meninggal dan hilang.
Sedangkan megathrust di selatan Jawa Barat terjadi pada 17 Juli 2006 dengan Mw 7.7 yang membangkitkan tsunami dan menelan korban jiwa 550 orang dan ratusan bangunan rusak.
Baca Juga: Terungkap Misteri Pemicu Gempa Mematikan, Guncangan hingga 7,9 Skala Richter
Ada pula megathrust Yogyakarta di luar wilayah Jawa barat tahun 2006 yang menyebabkan lebih dari 200 ribu bangunan rusak dan 5600 orang meninggal.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa gempa bumi Cianjur sebagai salah satu gempa bumi jenis patahan strike slip yang terjadi dalam kerak Sunda (Eurasia plate).
Berdasarkan data seismisitas di wilayah Jawa Barat khususnya di zona Cianjur dan sekitarnya, telah terjadi beberapa kali gempa bumi relatif berdekatan dengan lokasi episenter gempa bumi tanggal 21 November 2022.
Yaitu lokasi gempa bumi tanggal 10 Februari 1982 di 7.0 LS-106.9 BT dengan magnitudo 5.5 dan h 25 km dan lokasi gempa bumi tanggal 12 Juli 2000 di 6.9 LS 106.9 BT dengan magnitudo 5.1 dan h 33 km.
Kedua gempa bumi tersebut juga menimbulkan kerusakan di wilayah Sukabumi dan sekitarnya.
Data makroseismik gempa bumi masa lalu (paleo earthquakes) memberikan data kerusakan gempa bumi di wilayah Sukabumi, Cianjur dan Bogor.
Sedangkan berdasarkan peta analisis focal mechanism, terlihat bahwa gempa bumi dengan kedalaman dangkal sampai menengah (0-70 km) terdapat di zona subduksi di laut sebelah selatan wilayah Jawa Barat.
Gempa bumi kedalaman menengah (70-350 km) dan dalam ( >350 km ), tersebar dari zona mendekati pantai selatan sampai laut Jawa di utara wilayah Jawa Barat.
Untuk gempa bumi daratan wilayah Jawa Barat mempunyai kedalaman dangkal dan menengah di dominasi patahan geser dan patahan naik atau campuran keduanya.
Sedangkan gempa bumi dalam dominan mempunyai patahan normal.
Dengan melihat data kerusakan infrastruktur akibat gempabumi megathrust di selatan Jawa Barat dengan tingkat magnitudo “major” (7≤M≤7.9), dapat menimbulkan kerusakan dan menelan korban jiwa bagi penduduk di sekitar wilayah pantai.
Mengacu pada data kerusakan gempa bumi dangkal di darat yang dipicu akibat aktivitas sesar aktif di wilayah Jawa Barat, patut dilakukan kajian lebih serius terkait potensi dampak bencana gempa bumi sesar aktif darat.
Data kerusakan dan korban jiwa akibat gempa bumi sesar aktif darat walaupun hanya magnitudo gempa bumi skala moderat, dampak kerusakannya sangat nyata.
Berdasarkan kejadian gempa bumi kerak dangkal di wilayah Jawa Barat yang beberapa lokasi di luar zona sesar aktif yang telah teridentifikasi, maka kajian komprehensif bencana gempa bumi tidak terbatas pada zona-zona sesar aktif yang sudah teridentifikasi saja.
Namun perlu juga kajian untuk zona-zona yang diperkiraan adanya sesar aktif tersembunyi (blind/hidden faults) berdasarkan data geofisika lainnya (Gravity, Geomagnet, resistivity) dan juga berdasarkan data makroseismik gempabumi masa lalu (paleo earthquakes).
Dengan demikian dalam kajian potensi dampak bencana gempa bumi sesar aktif darat akan lebih baik dalam mendukung program mitigasi risiko bencana gempa bumi dan tata ruang di masa datang.**

Share this article
Manakah yang lebih berbahaya, gempa bumi sesar aktif atau megathrust di selatan Jawa Barat? simak jawabannya di sini.