AYOJAKARTA.COM – SPMB atau Seleksi Penerimaan Murid Baru tahun ajaran 2025, meninggalkan jejak ironi di sejumlah wilayah Indonesia.
Salah satu realitas yang kini tengah marak terjadi usai pelaksanaan SPMB adalah minimnya jumlah peserta didik.
Di SDN 1 Kendalrejo, Jawa Timur misalnya, SPMB hanya diikuti oleh satu orang siswa baru bernama Rohmat.
Baca Juga: Terhapus Jadi Penerima PKH dan BPNT karena DTSEN? Kamu Bisa Lakukan 'Usulan' di Cek Bansos Loh!
Tidak seperti teman-teman sebayanya yang mendapatkan teman baru saat MPLS, Rohmat justru menjadi satu-satunya murid di kelas 1.
Meski oleh sebagian warganet dianggap seperti kelas privat dan pasti akan memperoleh Peringkat Satu, minimnya siswa justru dianggap sebagai tamparan bagi dunia pendidikan.
Menurut sejumlah warganet, kondisi Rohmat yang belajar sendirian di kelas sangat memprihatinkan lantaran tidak bisa nyontek atau harus menagih uang kas ke diri sendiri.
Bukan hanya di SDN 01 Kendalrejo, sejumlah sekolah di wilayah Trenggalek, Jawa Timur juga tercatat hanya memperoleh siswa kurang dari 10 peserta didik baru.
Hal lebih ironi justru terjadi di SDN 03 Sumurup, Trenggalek, Jawa Timur yang sama sekali tidak memperoleh murid baru pada SPMB 2025.
Selain terjadi di wilayah Trenggalek, Jawa Timur, suasana sepi karena minim teman baru juga dialami oleh para siswa baru peserta SPMB di Bandar Lampung.
Di SDN 03 Gedung Meneng, Rajabasa, Bandar Lampung, pelaksanaan SPMB tahun 2025 hanya diisi oleh segelintir siswa.
Menurut Meliyani selaku PLT Kepala Sekolah SDN 03, suasana mimin siswa tidak menghalangi Pengajar untuk tetap menjalani proses MPLS dan belajar-mengajar.
Kondisi penerimaan siswa dengan jumlah minim, menurut Meli sudah berlangsung sejak tahun 2024 lalu.
“Alhamdulillahi tahun ini kami mendapatkan lima orang siswa baru, sama seperti tahun lalu,” jelas Meli saat dimintai keterangan.
Salah satu penyebab minimnya jumlah siswa peserta didik baru, menurut Meli karena lokasi geografis antar tiap sekolah yang saling berdekatan.
Disamping karena jarak yang saling berdekatan antara setiap sekolah, penyebab lain minimnya jumlah siswa juga disebabkan karena perubahan kondisi lingkungan.
Lokasi hunian milik warga setempat yang mulai berubah fungsi menjadi tempat kost bagi kalangan mahasiswa, membuat jumlah anak usia SD ikut berkurang.
Meski sejumlah upaya untuk mencari siswa melalui berbagai langkah promosi telah dilakukan, Meli tetap tidak bisa memastikan hasil akhirnya.
“Kami sudah sebar brosur, pasang banner dan blusukan mencari murid baru, tapi hasilnya hanya berjumlah lima orang,” ungkap Meli dikutip Ayojakarta dari tvOneNews. ***

Share this article
Salah satu realitas yang kini tengah marak terjadi usai pelaksanaan SPMB adalah minimnya jumlah peserta didik.