BEKASI SELATAN, AYOJAKARTA.COM -- Jeki, bukan nama sebenarnya, tak pernah menyangka terinfeksi virus corona pada Oktober 2020. Bukan sekadar terpapar, warga Bekasi Selatan ini bahkan harus masuk ICU lantaran kadar saturasi oksigen dalam darahnya turun drastis.
Pria berusia 37 tahun itu menceritakan gejala yang dirasakan hingga 'terselamatkan' berkat pulse oximeter atau alat pengukur saturasi oksigen dalam darah. Jeki mengalami silent hipoxia di mana kadar saturasi oksigennya turun, namun ia sama sekali tak merasakan sesak napas.
"Gejala yang aku rasain sebenarnya termasuk ringan, hanya demam sama lemas aja. Direkomendasiin buat isolasi di rumah dan disuruh beli pulse oximeter," kata Jeki kepada Ayobekasi.net, Selasa (15/12/2020).
Patuh pada rekomendasi tenaga medis, ia pun membeli alat tersebut secara online. Selama menunggu barang datang, kurang lebih dua hari, gejala yang ia rasakan masih sama. Hanya demam dan lemas. Sama sekali tidak ada batuk maupun sesak napas.
AYO BACA : Vaksinolog: Yang Sudah Terkena Covid-19, Tidak Dijadikan Sasaran Vaksinasi
"Pas alatnya datang, langsung di-cek saturasi masih bagus tuh 95-96%. Gejala juga masih sama. Nah, mulai panik pas besoknya ngecek saturasi kok jadi 92%, itu pagi. Siang cek lagi 91%-92%, malamnya makin drop kalau enggak salah sampai 86-88%. Tapi, tetap enggak ngerasain sesak, cuma lemas," ujarnya.
Takut terjadi sesuatu pada dirinya, ia langsung menghubungi puskesmas setempat dan melaporkan penurunan saturasi oksigen yang dialami. Untung-lah tenaga medis sigap membawanya ke IGD RSUD Kota Bekasi.
"Sampai rumah sakit masih enggak ngalamin sesak, tapi saturasi turun terus. Akhirnya masuk ICU tiga hari dan dalam kondisi sadar. Alhamdulillah bisa sembuh," kata Jeki.
Dia tidak bisa membayangkan apabila saat itu tak memiliki alat pulse oximeter dan menganggap gejala yang dialaminya ringan saja. Bisa jadi nasibnya lain cerita.
"Ini sih yang saya mau bilang kalau sudah dinyatakan positif Covid-19 harus banget punya pulse oximeter untuk deteksi silent hipoxia yang mungkin terjadi kaya saya. Jadi, kita bisa bergerak cepat dan mencegah hal yang enggak diinginkan," ujarnya.
Penyintas Covid-19 lain, sebut saja Ale juga sepakat dengan yang dikatakan Jeki. Pulse oximeter adalah alat vital yang perlu dimiliki pasien Covid-19, terutama yang menjalani isolasi mandiri. Walaupun tidak bisa mendeteksi gangguan atau masalah pada paru, namun dapat menjadi indikator kapan sebaiknya pergi ke rumah sakit.
"Saya setiap hari ngukur saturasi karena memang se-penting itu fungsinya. Indikatornya selain gejala, ya di saturasi oksigen itu. Kita jadi tahu apakah kita perlu ke rumah sakit atau aman isolasi di rumah," kata Ale.
Warga Bekasi Timur ini mendapat hasil rontgen paru yang tidak begitu baik pada awal terinfeksi Covid-19. Dia sempat disarankan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, keyakinan ditambah dukungan keluarga membuatnya sukses menjalani isolasi di rumah hingga dinyatakan sembuh.
"Dokternya tetap memantau dan patokan dari dia kalau saturasi oksigen cenderung turun atau muncul sesak, ya saya mau tidak mau harus ke rumah sakit. Tapi, alhamdulillah saturasi saya stabil dan tidak ada keluhan pernapasan hingga swab kedua negatif," ujarnya.
AYO BACA : Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Kembali Sentuh Angka 6 Ribuan (Update 15 Desember 2020)

Share this article
Jeki, bukan nama sebenarnya, tak pernah menyangka terinfeksi virus corona pada Oktober 2020. Bukan sekadar terpapar, warga Bekasi Selatan ini bahkan harus masuk ICU lantaran kadar saturasi oksigen dalam darahnya turun drastis.