BANDUNG, AYOJAKARTA.COM — Anak-anak termasuk ke dalam golongan yang tidak terlalu berisiko terhadap Covid-19. Secara fisik, mereka mungkin lebih aman dibanding orang-orang dewasa. Namun ini tidak berarti mereka juga aman secara mental.
Sebuah ulasan dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menyatakan anak-anak dan remaja memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kesepian, depresi, dan kecemasan selama pandemi. Hal ini dikarenakan mereka terisolasi dari teman-teman, guru dan keluarga yang lain.
Kesehatan mental anak sangat sulit diketahui jika hanya dari luar. Oleh karena itu, orangtua lebih baik bertanya dan mendengarkan mengenai perasaan anak-anak mereka. Bertanya secara rutin mengenai keadaan mereka membuat orangtua akan bisa lebih memahami dan memberikan dukungan saat anak-anak membutuhkannya.
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk lebih mengetahui kesehatan mental anak-anaknya.
AYO BACA : 5 Hal yang Bisa Orang Tua Lakukan saat Kelas Daring
1.Memastikan keadaan mental diri. Anak-anak dan remaja biasanya meniru orangtua mereka dalam hal mengidentifikasi, mengekspresikan dan mengelola emosi mereka. Orangtua harus bisa mengelola emosinya sendiri terlebih dahulu sebelum memperhatikan kondisi mental anak-anaknya.
2.Kenali tanda-tanda kecemasan dan depresi. Kecemasan adalah salah satu kondisi mental yang umum dimiliki oleh anak-anak. Saat merasa takut dan khawatir, anak-anak mungkin saja menampilkan gejala fisik seperti kelelahan, sakit kepala, atau sakit perut.
Adanya kecemasan atau depresi juga dapat dilihat dari perubahan perilaku. Anak-anak mungkin lebih mudah marah, mudah menangis, atau lebih manja. Sementara remaja bisa terlihat dari perubahan pada pola tidur, pola makan, aktivitas sosial dan fisik, motivasi rendah, dan kekurangan energi.
Orangtua juga harus melihat tanda-tanda menyakiti diri sendiri secara emosional maupun fisik. Beberapa anak mungkin melukai diri sendiri, menarik-narik rambut mereka, minum alkohol, atau mengonsumsi obat-obatan. Sementara secara emosional, dapat berupa perasaan tidak berguna ataupun berbicara negatif tentang dirinya sendiri.
AYO BACA : Tips agar Kebutuhan Sosial Anak Terpenuhi di Tengah Pandemi Covid-19
3.Normalisasi perbincangan mengenai emosi dengan anak. Orangtua dapat bertanya secara rutin mengenai perasaan anak, tidak hanya saat Anda pikir anak-anak sedang punya masalah.
Bantu anak mengenali emosinya. Jelaskan pada mereka mengenai jenis-jenis emosi sejak dini. Gunakan media visual seperti gambar, video atau film untuk mengenalkan berbagai macam emosi.
Saat anak-anak kecil yang belum bisa mengekspreksikan emosi dengan baik melakukannya dengan marah, jangan mengabaikan atau menghukumnya. Bantu mereka menenangkan diri lalu bicarakan apa yang menjadi penyebab mereka marah.
4.Jadilah pendengar yang baik. Hindari distraksi saat sedang mendengarkan anak. Berikan mereka tanda fisik dan verbal bahwa Anda mendengarkan. Misalnya dengan meletakkan ponsel, mematikan TV, atau membuat kontak mata.
Berikan dukungan dalam bentuk memvalidasi apa yang mereka rasakan dan mendorong kemandirian mereka. Validasi perasaan mereka tanpa bersikap menghakimi, beritahu mereka bahwa semua orang memiliki perasaan negatif. Dorong kemandirian mereka dengan membicarakan bagaimana cara anak-anak mengatasi perasaan itu.
5.Minta bantuan profesional jika dibutuhkan. Mengalami emosi negatif memang wajar bagi anak-anak terutama saat melewati transisi seperti saat ini dimana mereka harus lebih banyak berada di rumah. Namun apabila gejalanya terlihat parah dan mengganggu keseharian maka ada baiknya untuk pergi menemui ahli.
Jujurlah pada anak-anak Anda jika ingin membawa mereka menemui ahli. Beritahu mereka, Anda akan membawa mereka menemui orang yang bisa membantu mereka mengatasi perasaan mereka. Jika mereka menolak, Anda bisa tetap bekerja sama dengan profesional mengenai strategi untuk membantu anak Anda. (Putri Shaina)
AYO BACA : Tips Mengajak Anak Menggunakan Masker
![[Ilustrasi] Anak-anak berisiko terdampak kondisi mentalnya di tengah pandemi. (Pixabay/Free-photos)](https://cdn.ayojakarta.com/fill/1200:675/medias/2025/08/20/anak.jpg)
Share this article
Anak-anak termasuk ke dalam golongan yang tidak terlalu berisiko terhadap Covid-19. Secara fisik, mereka mungkin lebih aman dibanding orang-orang dewasa. Namun ini tidak berarti mereka juga aman secara mental.