AYOJAKARTA.COM -- Puasa Ramadan diwajibkan untuk setiap muslim/muslimah.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu mengemukakan lima syarat diwajibkannya puasa, yaitu:
1. Beragama Islam
Puasa non-muslim tidak sah. Hal ini dilandaskan pada khitab perintah puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183 yang didahului dengan sapaan kepada orang-orang beriman (Yaa ayyuhal ladzina aamanu).
2. Aqil dan Baligh
Tidak wajib puasa bagi anak kecil (belum baligh), orang gila (tidak berakal) dan orang mabuk, karena mereka tidak termasuk orang mukallaf (orang yang sudah masuk dalam konstitusi hukum), sebagaimana dalam hadist:
"Seseorang tidak termasuk mukallaf pada saat sebelum baligh, hilang ingatan dan dalam keadaan tidur".
3. Tidak dalam keadaan haid atau nifas
Oleh sebab itu, jika perempuan yang sedang haid atau nifas, maka puasanya tidak sah. Namun, dalam ajaran Islam, perempuan yang mengalami haid dan nifas untuk mengganti puasanya di lain hari selain di bulan Ramadan.
Dalilnya adalah hadits dari Mu’adzah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.
Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.
4. Sehat dan mampu
Puasa Ramadan tidak diwajibkan atas orang sakit (tidak mampu). Konsekuensinya, harus menggantinya di hari lain selain bulan Ramadan saat ia sudah sehat. Ibadah fardlu ini boleh ditinggalkan khusus bagi mereka yang memiliki uzur atau penghalang, tapi diganti dengan membayar fidyah.
Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 184.
" Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin."
5. Bermukim
Orang yang bermukim atau tidak sedang melakukan perjalanan (musafir) tidak diwajibkan berpuasa.
Allah Subhananu Wa'tala bersabda;
“Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah: 185)
Syarat sah puasa
Masih dalam buku yang sama, Ahmad Sarwat menyatakan, yang dimaksud syarat sah adalah syarat yang harus dipenuhi agar puasa yang dilakukan seseorang menjadi sah hukumnya di hadapan Allah Subhanahu Wa'tala.
Dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu dicantumkan syarat sah puasa menurut empat mazhab, yaitu;
- Mazhab Hanafi, syarat sah puasa ada tiga, yakni:
1. Niat
2. Bebas dari perkara yang menafikan puasa (haid dan nifas)
3. Bebas dari perkara yang membatalkannya.
-Madzhab Maliki, syarat sah puasa ada lima, yakni:
1. Niat
2. Suci dari haid dan nifas
3. Beragama Islam
4. Waktu yang boleh untuk diisi dengan puasa (puasa tidak sah pada hari Raya Ied)
5. Berakal
-Madzhab Syafi`i, ada empat syarat sah puasa:
1. Beragama Islam
2. Berakal
3. Suci dari haid dan nifas pada keseluruhan siang.
4. Niat
- Madzhab Hambali menetapkan tiga syarat:
1. Beragama Islam
2. Niat
3. Suci dari haid dan nifas.
Syarat sah di atas adalah dalam perspektif fiqih. Artinya, jika memenuhi syarat-syarat tersebut, maka puasa seorang muslim/muslimah sudah dan gugur kewajiban.

Share this article
Puasa Ramadan tidak diwajibkan atas orang sakit (tidak mampu). Konsekuensinya, harus menggantinya di hari lain selain bulan Ramadan saat ia sudah sehat.