BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Kebijakan pemerintah #dirumahaja untuk membatasi aktivitas masyarakat sebagai pencegahan penyebaran Covid-19, berpotensi memicu konflik keluarga, bahkan KDRT.
Dari laporan Polresta Bandung, dalam satu bulan terakhir angka KDRT meningkat tajam, bahkan peningkatannya mencapai 600%. Catatan lain di Pemkab Bandung, 50% dari KDRT yang ditangani dimungkinkan terjadi karena pandemi Covid-19.
Pamela Anggia Dewi, Psikolog asal Bandung berpendapat pandemi Covid-19 di Indonesia, berpotensi memicu konflik keluarga yang bisa berujung pada KDRT sampai perceraian.
"Kondisi saat ini, bisa menimbulkan stres," ujar Pamela kepada Ayobandung, jaringan AyoMedia, Selasa (28/4/2020).
Pandemi Covid-19 membuat ekonomi masyarakat banyak yang terpuruk. Dilain sisi, #dirumahaja membuat rutinitas hampir 180 derajat berubah, dari biasanya bisa berkumpul dengan teman, rekan kerja atau kolega, menjadi terhambat.
"Faktor ekonomi juga terlalu lama diam di rumah, harus selalu mendampingi anak belajar juga tidak mudah dan bisa menimbulkan stres. Dengan segala tekanan yang diterima, poteni bisa menimbulkan reaksi fisik, baik melempar sampai memukul," paparnya.
Di lain sisi, aktivitas di rumah terus menerus juga membuat potensi gesekan keluarga menjadi lebih tinggi.
AYO BACA : Virus Corona 'Eksis' di Ruang Pengap dan Orang Berkerumun
"Hampir selama 24 jam bertemu dengan orang yang itu-itu saja, kalau tidak punya cara untuk mencari waktu untuk diri sendiri bisa terjadi gesekan dengan anggota keluarga, baik anak, istri atau suami," katanya.
"Apalagi semua dalam kondisi yang sama, semua stres. Suami tidak bisa kerja, anak tidak bisa bermain dengan teman-temannya. Empati juga menjadi tidak terasah, akhirnya bisa menimbulkan KDRT," imbuhnya.
Pamela mengatakan, meluangkan waktu untuk diri sendiri bisa mengurangi stres, sehingga konflik dalam keluarga bisa diminimalisasi.
"Waktu untuk diri sendiri sangat penting dalam membantu mengurangi stres," katanya.
Dalam keterbatasan saat #dirumahaja kata Pamela, memang agak sulit meluangkan waktu untuk diri sendiri. Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Menyalurkan Hobi
Menyalurkan hobi misalnya bisa mengurangi stres. Namun untuk melakukannya harus memilih waktu tepat, misalnya ketika anggota keluarga sedang tidur.
AYO BACA : Kapan Waktu Makan Sahur ala Rasulullah?
"Yang suka baca ya baca, atau suka menonton bisa download film, atau apa pun juga yang penting luangkan waktu untuk diri sendiri supaya mengurangi gesekan dengan keluarga dan tidak terlalu stres," katanya.
Untuk mengurangi anak stres, peran orang tua sangat penting. Anak memang membutuhkan waktu banyak untuk bermain, dalam kondisi semua dikerjakan di rumah, mendorong anak untuk berkreasi bisa dilakukan supaya tidak jenuh.
"Anak itu bisa menciptakan ruang bermainnya sendiri, orang tua tinggal mendorongnya. Misalnya membuat mainan dari barang-barang bekas atau sederhana. Orang tua tinggal mendampingi dan memberi sedikit kebebasan, seperti memperbolehkan ruangan berantakan ketika anak sedang berkreasi," tuturnya.
Saat mendampingi anak untuk berkreasi inilah menjadi momen penting bagi orang tua dalam mendekatkan hubungannya. Anak bisa menjadi lebih diperhatikan.
Menurunkan ekspektasi terhadap pasangan sangat diperlukan dalam kondisi seperti sekarang, baik itu ekonomi maupun hal lainnya.
Dengan menurunkan ekspektasi, kata Pamela, beban pasangan juga akan lebih ringan, sehingga bisa mengurangi stres. "Intinya saat ini semua harus saling menenangkan, tidak terlelu menuntut terlalu banyak," ucap dia.
Sesi curhat juga menjadi hal penting, dengan saling terbuka, semua menjadi bisa saling mengerti dan konflik bisa dicegah.
"Jadikan kondisi ini kesempatan untuk meningkatkan harmoni. Berbagi cerita dan saling terbuka. Beri ruang untuk saling menerima, karena kondisi juga sedang sulit,"ujarnya.
Dengan cara itu, diharapkan potensi konflik bisa diminimalisasi, stres akibat kondisi sekarang bisa berkurang. (Mildan Abdalloh)
AYO BACA : Imunisasi Anak Harus Diatur Khusus Selama Pandemi, Ini Saran IDAI
![[Ilustrasi] #dirumahaja bisa memicu ketegangan dalam rumah tangga. (dok)](https://cdn.ayojakarta.com/fill/1200:675/medias/2025/08/20/ilustrasi_kdrt_(rumahkitab,com).jpg)
Share this article
Kebijakan pemerintah #dirumahaja untuk membatasi aktivitas masyarakat sebagai pencegahan penyebaran Covid-19, berpotensi memicu konflik keluarga, bahkan KDRT.