AYOJAKARTA.COM -- Pernah mengalami kecemasan ketika akan menghadapi ujian, ketika mau interview kerja, hingga ketika harus berinteraksi dengan orang lain? Hal itu adalah normal.
Namun, berbeda apabila rasa cemas tersebut berlangsung secara terus menerus dan berlebihan, apalagi rasa cemas itu dirasakan tanpa ada alasan yang jelas.
Lantas kapankah suatu kecemasan atau kekhawatiran itu bukan lagi sekedar perasaan yang datang dan pergi, melainkan suatu penyakit yang serius?
Baca Juga: Cek Fakta: Tidur Siang Bisa Menambah Tinggi Badan Anak, Benarkah?
Sebelumnya, mari bedakan terlebih dahulu antara rasa cemas dan rasa takut itu sendiri.
Rasa takut adalah rasa yang dirasakan ketika sedang melakukan kegiatan atau aktivitas yang sedang dihadapi secara jelas. Namun, rasa cemas itu datang sebelum melakukan kegiatan atau aktivitas tersebut yang kemungkinan harus dihadapi di kemudian hari.
Menyadur dari kanal YouTube Neuron, Jumat, 17 Februari 2023. Mendefinisikan rasa takut dan cemas itu dengan kegiatan pertarungan, yakni apabila umpama rasa takut sebagai perasaan saat bertarung, maka rasa cemas adalah perasaan pada malam sebelum pertarungan.
Rasa takut itu ditimbulkan oleh suatu ancaman yang jelas ada di depan mata. Sedangkan, rasa cemas itu timbul akibat suatu yang akan terjadi atau belum tentu terjadi, yakni ancaman yang tidak ada di depan mata, akan tetapi mungkin harus dihadapi di kemudian hari.
Baca Juga: Wajib Tahu! Makanan yang Harus Dihindari Saat Puasa Ramadhan dan Aturannya, Yuk Simak Penjelasannya
Nah, pada beberapa orang ada yang memiliki kondisi atau gangguan terhadap sesuatu dengan lebih sensitif, sehingga memunculkan rasa cemas itu secara berlebihan.
Dalam istilah kedokteran penyakit tersebut, disebut dengan Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan.
Dimana penyakit ini digolongkan dalam ilmu medis sebagai penyakit gangguan mental atau psikis yang dapat terjadi pada siapa saja.
Bagi penderita anxiety disorder, rasa cemas yang mereka alami tidak bisa dijelaskan mengapa ia merasakan cemas atau khawatir yang berlangsung secara terus menerus.
Adapun rasa cemas yang mereka alami itu akan muncul dan sulit bagi mereka untuk mengontrolnya, apalagi disertai dengan gejala-gejala lain. Seperti kesulitan tidur, nyeri otot dan sakit perut.
Baca Juga: Bolehkah Penderita Maag Menjalani Puasa Ramadan? Begini Penjelasan Dokter
Faktor yang paling utama dan paling penting untuk dipahami bahwa penyakit gangguan kecemasan atau anxiety disorder bagi penderitanya adalah perasaan cemas yang berlebihan dan terus-menerus.
Oleh karena itu, salah satu cara mengatasi gangguan kecemasan atau anxiety disorder adalah melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) yang bisa dilakukan oleh orang profesional seperti psikolog dan dokter.
Dimana terapi ini dapat membantu penderita agar tidak mengubah suatu pikiran biasa menjadi pikiran yang negatif dan mampu melihatnya secara lebih realistis.
Selain itu, lingkungan yang ramah dan mendukung bisa membuat dan membantu penderita anxiety disorder mengatasi rasa cemasnya dengan lebih baik.
Maka dari itu, sangat disarankan bagi orang-orang yang merasakan ciri-ciri daripada penyakit anxiety disorder ini untuk langsung mengkonsulkan kepada dokter atau psikolog untuk mendapatkan penanganan lebih tepat.***

Share this article
Bagi penderita anxiety disorder, rasa cemas yang mereka alami tidak bisa dijelaskan mengapa ia merasakan cemas.