AYOJAKARTA.COM - Tidak bisa dipungkiri, pergeseran perilaku audiens dalam mencari informasi di era yang serba cepat ini semakin terlihat.
Banyak orang kini mulai bergeser ke media sosial seperti Instagram atau TikTok dibanding Google Search dalam mencari informasi. Itu sebabnya tren munculnya homeless media atau new media mulai menjamur di berbagai wilayah di Indonesia.
Jika sebelumnya website media online sangat memperhatikan soal SEO, apakah para admin homeless media ini juga harus aware soal Search Engine Optimization, atau cukup mengandalkan distribusi organik di platform sosial?
Untuk menjawab ini, SEO Team Lead Toffeedev, Raditya Denishtsany memberikan penjelasan serta berbagi tips praktis agar konten tetap optimal di tengah dinamika algoritma digital.
"Para admin homeless media itu perlu banget melek atau paham soal SEO. Karena sosial media itu sekarang jadi the new search engine," ujar Raditya Denishtsany saat ditemui AYOJAKARTA.COM dalam workshop Ruang Henti Digital (RHD) Fest 2025 yang dilangsungkan di hotel Porta Ambarrukmo Yogyakarta pada Sabtu, 20 Desember 2025.
"Jadi SEO itu bukan cuma untuk optimasi sebuah website, tapi juga untuk optimasi bisnis apapun itu bentuknya, termasuk akun TikTok dan Instagram supaya bisa muncul dan ditemukan oleh audiens," sambungnya lagi.
Dalam pemaparannya, pria yang akrab disapa Raditya menjelaskan bahwa SEO itu lebih ke teknis dan para pemilik bisnis perlu untuk mempelajarinya.
Dalam konteks homeless media, para content creator harus bisa menyajikan konten yang relevans dengan audiens. Contohnya konten tentang kuliner, kecantikan, review produk, atau info kejadian, dll.
"Start-nya dari bentuk konten yang akan kita buat, itu harus relevan dengan audiens. Artinya para konten creator itu harus paham sebenarnya info apa sih yang lagi dibutuhkan oleh publik," kata SEO Team Lead Toffeedev itu.
Salah satu tips jitu untuk menakklukkan algoritma adalah memperhatikan caption. Karena bagaimanapun juga, keberadaan konten di media sosial nantinya akan terindeks di Google dan platform lainnya melalui caption.
"Berbicara soal optimasi konten di sosmed itu tidak terlepas dengan bagaimana kita menyajikan konten itu sendiri. Caption-nya juga harus bisa membentuk branding di sosial media. Berbeda dengan optimasi di website media online yang lebih ke teknis," ucapnya.
Dalam workshop RHD Fest 2025, Raditya Denishtsany juga membahas soal Local SEO, topik yang jarang banget di perbincangkan dalam panggung-panggung seminar SEO.
Topik ini bukan hanya mengajarkan cara optimasinya, tapi bagaimana memanfaatkan AI untuk melakukan riset, audit, hingga mempersiapkan strateginya.
"Di dunia local SEO itu ada yang namanya NAP (Name, Address, dan Phone Number). Itu adalah tiga kunci optimasi. Nama itu adalah sebuah branding sekaligus untuk membangun trust. Jadi perlu dipikirkan matang-matang soal nama," pungkasnya.
Tipe user itu ada dua, human user dan search engine user. Jadi jangan sampai search engine juga bingung untuk menemukan akun media sosial.
Melalui pemaparan tersebut, Raditya Denishtsany menegaskan bahwa memahami SEO bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan bagi homeless media yang ingin bertahan dan berkembang.
Di tengah algoritma media sosial yang terus berubah, kemampuan menyajikan konten relevan, mudah ditemukan, dan ramah bagi audiens maupun mesin pencari menjadi kunci agar media tetap memiliki visibilitas dan kepercayaan publik.***
Share this article
Pergeseran pencarian informasi ke media sosial membuat homeless media perlu melek SEO. Menurut Raditya Denishtsany, SEO kini penting untuk optimasi konten sosmed agar relevan.