AYOJAKARTA.COM - TPST Bantar Gebang di Bekasi kini menjadi sorotan dunia internasional.
Tempat pengolahan sampah ini tercatat sebagai penghasil emisi gas metana terbesar kedua di bumi.
Temuan ini berasal dari data emisi publik Carbon Mapper yang dirilis pada April 2026.
Penelitian ini didukung penuh oleh UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project.
Saat ini, posisi Bantar Gebang berada tepat di bawah TPA Campo de Mayo yang berlokasi di Argentina.
Data emisi yang mengejutkan ini diperoleh melalui teknologi pemantauan ruang angkasa yang sangat canggih.
Para peneliti menggunakan satelit Tanager-1 milik Planet Labs untuk mengidentifikasi titik emisi.
Selain itu, mereka juga memanfaatkan instrumen EMIT milik NASA yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional.
Analisis data dilakukan secara mendalam sepanjang tahun 2025. Hasil analisis mengonfirmasi bahwa Bantar Gebang masuk dalam daftar emiten ekstrem metana dunia.
Dampak dari gas metana yang dihasilkan di sini sangat berbahaya bagi iklim global.
Menurut UCLA Emmett Institute, gas metana memiliki kontribusi besar terhadap pemanasan global.
Jika sebuah tempat pembuangan sampah menghasilkan 5 ton metana per jam, dampaknya luar biasa.
Hal tersebut setara dengan emisi dari satu juta kendaraan SUV yang beroperasi sekaligus.
Bahkan, kekuatannya setara dengan polusi satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas 500 megawatt.
Namun, di balik ancaman lingkungan tersebut, tersimpan potensi energi baru yang sangat besar.
Pakar dari Universitas Gadjah Mada, Hanifrahmawan Sudibyo, menyebut metana sebagai sebuah peluang.
Gas ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung transisi energi Indonesia menuju sumber yang lebih bersih.
Salah satu pendekatannya adalah dengan menerapkan teknologi methane capture atau penangkapan gas metana.
Teknologi ini dilakukan dengan memasang jaringan pipa vertikal dan horizontal di area timbunan sampah.
Pipa-pipa tersebut berfungsi mengumpulkan gas metana dari dalam lapisan sampah atau landfill.
Gas yang terkumpul kemudian dialirkan menuju unit pemurnian atau pembangkit listrik berbasis biogas.
Selain menjadi listrik, ada pula instruksi untuk mengolah sampah di Bantar Gebang menjadi bahan bakar minyak atau BBM.
Kondisi darurat emisi ini memicu revolusi pengelolaan sampah mandiri di wilayah Malaka Sari.
Malaka Sari kini menjadi garda terdepan dalam meminimalkan beban sampah di Bantar Gebang.
Mereka memulai gerakan besar untuk mengelola limbah langsung dari sumbernya.
Warga diwajibkan melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik secara disiplin di rumah masing-masing.
TPST Bantar Gebang kini mulai membatasi penerimaan sampah yang bersifat campuran atau tidak terpilah.
Hal ini memaksa masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam membuang sampah setiap hari.
Malaka Sari membuktikan bahwa pengelolaan sampah mandiri bisa mengurangi pelepasan gas metana ke atmosfer.
"Mulai Agustus, Bantargebang tidak lagi menerima sampah campur.
Saatnya warga Kelurahan Malaka Sari bergerak bersama untuk memilah sampah dari sumber," tulis akun Instagram @kelurahan_malakasari dalam postingan yang diunggah pada, Kamis, 21 Mei 2026.
"Langkah kecil hari ini menjadi perubahan besar untuk lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi generasi mendatang," pungkasnya.
Transformasi lokal ini merupakan langkah nyata untuk memperbaiki kualitas lingkungan secara nasional sekaligus menciptakan ketahanan energi dari limbah.***
Share this article
TPST Bantar Gebang jadi penghasil emisi metana terbesar kedua di dunia per April 2026. Di balik bahaya iklimnya, gas ini berpotensi jadi biogas lewat teknologi penangkapan pipa, dukung transisi energi