AYOJAKARTA.COM -- PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui unit kerja Fuel Terminal (FT) Bandung menyambut kedatangan rombongan Dewan Komisaris PT Pertamina Patra Niaga.
Kunjungan kerja strategis yang berlangsung pada Selasa, 7 Juli 2026, ini bertujuan untuk memantau secara langsung perkembangan Program Lentera Jiwa.
Aktivitas pemulihan kemandirian ini merupakan salah satu pilar Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang berpusat di Desa Pangauban, Kabupaten Bandung Barat.
Aparatur pemerintah serta jajaran manajemen puncak turut menyemarakkan agenda peninjauan ini. Tokoh penting yang hadir antara lain Komisaris PT Pertamina Patra Niaga Tina Talisa, Komisaris Independen Siti Zahra Aghnia, Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Dewi Kurnia Salwa, serta VP Corporate Innovation and Development (CID) Dian Hapsari.
Turut mengawal di lapangan, Sr. Supervisor CSR & SMEPP Regional JBB Dila Amanda Kenniza bersama FT Manager Bandung Afifah Rahmawati.
Dari pihak otoritas wilayah, Kepala Desa Pangauban Ade Sulaeman hadir mendampingi Ketua Kader Lentera Jiwa Ating Nugraha yang memimpin 14 Kader pembina, serta 10 penyintas yang akrab dengan sapaan Sahabat Jiwa selaku penerima manfaat utama program.
Program Lentera Jiwa mengusung konsep inovatif berupa pemberdayaan masyarakat yang menitikberatkan perhatian pada pemulihan kualitas hidup para penyintas Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Melalui sebutan hangat sebagai Sahabat Jiwa, program ini menerapkan metode pendekatan yang berbasis pada kekuatan komunitas lokal.
Manajemen merancang program ini agar mampu memicu kemandirian para penyintas lewat pendampingan yang intensif, pelaksanaan berbagai pelatihan keterampilan kerja, serta pembentukan Kader Lentera Jiwa.
Para kader lokal mengemban tugas mulia sebagai pendamping harian sekaligus agen edukasi bagi warga sekitar. Kehadiran para sukarelawan ini secara bertahap berhasil memicu kemandirian sosial maupun ekonomi para Sahabat Jiwa.
Di sisi lain, gerakan terstruktur ini terbukti efektif dalam mendongkrak kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, sekaligus memotong rantai sentimen negatif atau pengucilan terhadap para penyintas gangguan jiwa di lingkungan pedesaan.
Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, jajaran Dewan Komisaris berkesempatan melihat langsung berbagai bentuk kreativitas dan aktivitas produktif yang tengah dijalankan oleh para Sahabat Jiwa.
Rombongan manajemen juga meluangkan waktu untuk mendengarkan testimoni dan kisah perjuangan dari para penyintas yang kini telah berhasil mengontrol kondisi mentalnya dan mulai hidup produktif.
Interaksi penuh kehangatan yang tercipta di lokasi membuktikan bahwa sinergi yang padu antara perusahaan publik, pemerintah desa, tenaga medis profesional, kader lokal, dan masyarakat mampu melahirkan sebuah ekosistem pendampingan yang ideal.
Pola kerja sama lintas sektor ini tidak hanya mempercepat proses pemulihan psikologis para Sahabat Jiwa, melainkan juga menaikkan derajat hidup mereka secara konsisten dan berkelanjutan.
Apresiasi tinggi datang dari Komisaris PT Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa. Ia menilai formulasi pelaksanaan Program Lentera Jiwa sangat tepat sasaran karena mampu memberikan dampak positif yang masif, baik bagi pemulihan personal para penyintas maupun untuk ketenteraman lingkungan sosial di sekitarnya.
"Keberadaan Program Lentera Jiwa memperlihatkan fakta bahwa sistem pemberdayaan masyarakat yang tepat mampu menciptakan lompatan perubahan yang nyata bagi kehidupan para penyintas ODGJ," ungkapnya.
"Manajemen menaruh harapan besar agar semakin banyak elemen masyarakat yang tergerak untuk membangun kepedulian terhadap isu kesehatan mental. Dengan demikian, para Sahabat Jiwa memiliki kesempatan emas untuk kembali memegang peran sosial mereka di tengah komunitas warga," urai Tina Talisa.
Suntikan semangat dan fasilitas dari perusahaan pelat merah ini menjadi energi tambahan bagi para pengurus di tingkat bawah untuk terus mengabdi.
Ketua Kader Lentera Jiwa, Ating Nugraha, mengungkapkan bahwa keterlibatan aktif Pertamina telah mengubah pola pikir warga desa yang dulunya cenderung takut atau acuh terhadap penderita gangguan jiwa, kini berubah menjadi perangkul yang penuh empati.
"Warga desa merasa sangat bersyukur atas komitmen dan bantuan yang Pertamina salurkan untuk menyokong Program Lentera Jiwa. Sistem pendampingan yang terjadwal terbukti tidak hanya menuntun para Sahabat Jiwa menjadi pribadi yang lebih mandiri dalam mengurus diri, melainkan juga berhasil memupuk rasa kepedulian masyarakat sekitar akan arti penting kesehatan jiwa," tutur Ating.
Di sisi lain, Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Arya Yusa Dwicandra, mempertegas komitmen perusahaan untuk menjaga kesinambungan program ini agar tidak berhenti di tengah jalan.
Arya Yusa Dwicandra menegaskan kesiapan institusinya dalam mengawal masa depan para Sahabat Jiwa agar mampu mandiri seutuhnya:
"Manajemen menghendaki agar Program Lentera Jiwa dapat terus memperluas jangkauan layanannya melalui kolaborasi erat dengan berbagai pemangku kepentingan. Upaya kolektif ini penting agar semakin banyak Sahabat Jiwa yang memperoleh akses dan kesempatan untuk sembuh, hidup mandiri, serta kembali berkontribusi secara aktif di tengah dinamika masyarakat," tegas Arya.
Secara global, implementasi nyata dari gerakan sosial ini berkontribusi langsung dalam menyukseskan program pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan pemerintah.
Program Lentera Jiwa tercatat sukses memenuhi indikator SDG poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, serta poin 10 tentang berkurangnya kesenjangan.
Share this article
Dewan Komisaris Pertamina Patra Niaga Regional JBB tinjau Program Lentera Jiwa di Bandung. Hapus stigma ODGJ lewat pemberdayaan komunitas.