AYOJAKARTA.COM - Kasus pinjaman ilegal yang banyak menjerat perempuan utamanya kalangan ibu-ibu.
Hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri. Untuk itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengadakan kegiatan berupa
Dialog Literasi dan Inklusi Keuangan bertema " Meningkatkan Cakap Keuangan Perempuan".
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta mengulas mengenai produk bank yang bisa diakses oleh perempuan salah satunya adalah QRIS.
Baca Juga: LPS Sosialisasikan Literasi Keuangan di Bantul, QRIS Efektif Dongkrak Penjualan UMKM
Ia menyatakan keamanan keuangan perempuan dan pelaku UMKM akan terjamin jika menyimpan uang di bank.
"Jangan lupa selalu datang ke bank untuk mencatat setiap transaksi dalam buku tabungan," jelasnya.
Ia menyatakan sudah tidak jamannya lagi perempuan menyimpan uang banyak banyak di dalam rumah.
Baca Juga: Digelar 2 Juli 2023, LPS Monas Half Marathon Targetkan 5000 Peserta
Selain tidak aman dan rentan kejahatan menyimpan uang di rumah juga bisa membuat kondisi fisik uang menjadi rusak.
Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi & Perlindungan Konsumen OJK mengulas terkait pentingnya literasi keuangan agar perempuan tidak tertipu pinjaman ilegal.
"Menjadi perempuan dituntut cerdas mengelola keuangan dengan baik demi masa depan," bebernya.
Kepala Eksekutif LPS, Lana Soelistianingsih menyatakan untuk menggenjot kesadaran literasi keuangan ini pihaknya tiga institusi yakni OJK, Bank BI dan LPS terus bersinergi untuk jaga keuangan negara dan meyakinkan masyarakat bahwa sistem keuangan negara dan perbankan sangat solid.
"Jadi selain sosialisasi literasi keuangan juga sosialisasikan kebijakan keuangan dan kami harus saling bahu membahu demi menggerakkan ekonomi masyarakat," paparnya.
Eko B. Supriyanto, editor in chief and chairman Infobank Media Group, menyampaikan kegundahan Infobank saat ini terkait maraknya pinjaman ilegal dikalangan ibu-ibu.
Baca Juga: Ketua DK LPS : Perbankan Nasional Tetap Stabil Walau Perbankan Global Terguncang
Ibu-ibu cenderung akan melakukan segala hal jika menginginkan sesuatu. Salah satunya dengan mengajukan pinjaman bank.
Akan tetapi, setelah itu mereka kesulitan membayar angsuran dan akhirnya nama mereka tercatat sebagai blacklist.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan hingga akhirnya lari dan terjebak pada pinjaman ilegal.
“Belilah yang kita perlukan dan sesuai kemampuan. Karena sejatinya fungsi uang itu untuk kebutuhan, sebagai investasi, dan cash flow untuk kita,” ucapnya.
Joko Purnomo, Wakil Bupati Bantul menyampaikan perempuan sejatinya memegang peranan yang sangat penting di Kabupaten Bantul.
Berdasarkan data, mayoritas pelaku usaha pada tahun 2022 adalah perempuan dengan 43.568 dari 86.680 pelaku usaha.
Baca Juga: LPS Berikan Bantuan Sosial Kepada Para Penyandang Difabel di Cirebon, Jawa Barat
Hal inilah yang mendasari pentingnya kegiatan peningkatan literasi dan inklusi keuangan kepada masyarakat khususnya pelaku usaha perempuan.
“Pemerintah Kabupaten Bantul terus berupaya mendorong peningkatan kontribusi sektor jasa keuangan formal terhadap ekonomi produktif melalui pemberdayaan UMKM, pengembangan ekonomi daerah, dan penguatan sektor ekonomi prioritas. Hal ini membutuhkan sinergi antar instansi dan stakeholders terkait dalam rangka meningkatkan literasi dan inklusi keuangan khususnya bagi perempuan dan pelaku usaha perempuan," jelas Wabup Bantul.
Peningkatan literasi dan inklusi keuangan bagi perempuan dan pelaku usaha imbuhnya diharapkan dapat meningkatkan akses keuangan, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan mewujudkan masyarakat Kabupaten Bantul yang sejahtera.
Acara ini dilaksanakan di Pendopo Manggala Parasamya, Kompleks Kantor Bupati Bantul pada Jumat (12/5/2023).***

Share this article
OJK, BI dan LPS mengadakan kegiatan berupa Dialog Literasi dan Inklusi Keuangan bertema " Meningkatkan Cakap Keuangan Perempuan"