AYOJAKARTA.COM - Sekarang ini aplikasi desain grafis online bernama Canva menjadi pilihan utama yang digunakan kebanyakan orang.
Sebab, Canva menyediakan desain yang apik, kekinian dan beraneka ragam.
Canva menghadirkan aplikasi dengan desain user friendly ditambah dengan fitur yang sangat melimpah macamnya.
Kemudian Canva memiliki keunggulan mudah digunakan, tidak seperti Adobe.
Ini juga yang menjadi salah satu alasan Canva banyak diminati penggunaannya.
Founder Canva merupakan sepasang kekasih yang saat ini sudah menikah. Mereka adalah Melanie Perkins dan Cliff Obrecht.
Baca Juga: Bikin Hati Tenang, Alternatif Jika WhatsApp Down, Bisa Pakai Aplikasi Ini
Canva dinobatkan menjadi start up Autralia paling sukses selain Atlassian yang merupakan gabungan dari Trello dan Jira.
Dilansir AyoJakarta.com dari akun Twitter @Strategi_Bisnis, Perjalanan kesuksesasan Canva tentu tidak berjalan lancar.
Canva pernah ditolak 50 kali saat meminta pendaan pertama dari Venture Capital (VC).
VC merupakan bentuk pendanaan dari lembaga keuangan selaku investor kepada perusahaan start up kecil maupun menengah.
Namun secara fantastis, kini valuasi Canva sudah mencapai 20 miliar USD dengan total user saat ini terdapat 100 juta user.
10 juta dari 100 juta user tersebut merupakan user berbayar. Tahun ini saja revenue Canva mencapai 1 miliar USD atau setara dengan 15 triliun rupiah.
Baca Juga: Kominfo Beri Alasan Soal Aplikasi Sinyal TV Digital yang Hilang dari Play Store
Canva memiliki masa depan yang cerah dan memiliki peluang yang besar untuk bisa menjadi raksasa. Dengan 100 juta user yang akan terus bertambah, akan memudahkan Canva melakukan cross selling beragam layanan yang mereka punya.
Dari kesuksesannya ini Canva berambisi untuk bisa merebut pangsa pasar Microsoft dengan meluncurkan Canva Doc dan Spreadsheet.
Tidak hanya itu, Canva juga memiliki ambisi untuk dapat mengalahkan Adobe dan menjadi raksasa baru.
Baca Juga: Penyebab Muncul Iklan di HP Xiaomi, Aplikasi Bawaan MIUI Mesti Dihapus?
Ternyata pangsa pasar Canva Doc dan Spreadsheet amat masif.sudah tidak perlu dirahukan, fitur-fitur yang ada di dalam Canva Doc dan Spreadsheet pastinya sebaik Canva.
Dengan kesuksesan bertubi-tubi yang diraih Canva, Microsoft wajib waspada. Sangat mungkin bagi Canva untuk bisa menggantikan posisi Microsoft.
Bakhan Adobe sudah menyadari adanya ancaman dari Canva dan sudah mengambil tindakan.
Adobe membeli Firma, yang merupakan kompetitor Canva.
Desain yang disajikan oleh Firma ini mirip dengan yang Canva miliki. Adobe membeli Firma seharga 20 miliar USD atau sama saja dengan 300 triliun rupiah.
Untuk mengantisipasi kekuatan Canva, kini tim Business Microsoft melakukan pengembangan fitur Designer yang memiliki kemiripan dengan Canva.
Baca Juga: Apa Itu Spin Maze dan Bagaimana Menghilangkan Pintasan Aplikasi?
Seperti halnya Adobe yang membeli Firma, ada kemungkinan Microsoft bisa juga mengakuisisi Canva nantinya.
Jika hal ini sampai terjadi, Microsoft jadi memiliki kekuatan untuk melawan Google Doc x Spredsheet yang kemunculannya mulai merepotkan.
Microsoft bisa memanfaatkan Canva Doc dan Spreadsheet untuk menghalau Google Doc x Spredsheet. Namun belum tentu Canva akan mau dibeli oleh Microsift.***

Share this article
Hadirkan desain yang menarik bagi pengguna, Canva akan lebarkan sayap siap saingi Microsoft dan Adobe.