AYOJAKARTA.COM – Ada sebuah istilah yang bernama mental accounting, salah satu bias psikologis keuangan yang sering muncul dan dilakukan dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Dengan adanya mental accounting pada diri seseorang maka ia akan melakukan semacam pembagian peran uang di dalam mental pikirannya.
Misalnya saja, saat seseorang menerima gaji maka ia langsung melakukan pembagian alokasi uang gajinya.
Baca Juga: 6 Buku Manajemen Keuangan untuk Jadi Pengusaha Sukses
Ada sebagian yang digunakan untuk biaya hidup, sebagian lainnya digunakan untuk membayar cicilan, membeli sesuatu, hobi, dana darurat, dan ada juga yang disisihkan untuk menabung atau investasi.
Dilansir AyoJakarta.com dari akun Twitter @Strategi_Bisnis, pembagian uang untuk kebutuhan berbeda-beda inilah yang dinamakan dengan mental accounting. Hal ini bisa juga disebut dengan budgeting atau mengalokasikan gaji.
Orang biasanya akan menyesuaikan penyusunan alokasi keuangan ini sesuai dengan uang yang diterima.
Baca Juga: Kinerja Keuangan bank bjb Tumbuh Positif, Nia Kania Raih Best of The Best CFO dari The Finance
Dalam menjalankan mental accounting ini akan timbul masalah berupa memperlakukan uang secara berbeda sesuai dengan perannya masing-masing.
Orang pasti akan cenderung memperlakukan uang yang disisihkan untuk dana darurat lebih hati-hati. Ini karena sudah ditanamkan di dalam pikiran bahwa dana tersebut akan digunakan jika ada hal tak terduga terjadi.
Perlakuan ini berkebalikan dengan dana yang digunakan untuk hobi atau untuk bersenang-senang. Karena sudah direncanakan dana tersebut untuk digunakan bukan untuk disimpan saja.
Tidak hanya mengelompokkan gaji yang diterima, ini juga akan terjadi apabila seseorang menerima THR, uang hadiah, atau pemasukan yang termasuk bonus lainnya.
Baca Juga: Akhirnya Terungkap! Anne Mustika Beberkan Alasan Gugat Cerai Dedi Mulyadi: dari Keuangan hingga KDRT
Biasanya uang THR atau bonus akan dianggap dengan “free money” atau semacam rezeki nomplok. Orang akan dengan mudah membelanjakan uang-uang ini dengan konsumtif.
Hal ini berbeda dengan gaji yang dianggap didapat dari kerja keras, uang gaji akan cenderung lebih dijaga dengan lebih hati-hati.
Namun secara matematis ekonomis, sikap mental accounting tersebut dianggap sikap yang tidak rasional.
Karena dalam matematis ekonomis nomimal uang akan selalu sama walaupun memiliki fungsi kegunaan yang berbeda. Uang Rp1 juta yang digunakan untuk hobi sama besarnya dengan jumlah uang Rp1 juta yang digunakan sebagai dana darurat.
Matematis ekonomis jelas berkebalikan dengan mental accounting yang menilai uang Rp1 juta pada dana darurat lebih berharga dan diperlakukan lebih hati-hati dibanding dengan uang Rp1 juta yang digunakan untuk hobi.
Baca Juga: PNM Padang Raih 2 Penghargaan Sekaligus pada Acara Puncak Bulan Inklusi Keuangan OJK
Perlakuan itu juga terjadi kepada uang gaji dan uang bonus. Hal ini akan merugikan karena orang akan cenderung lebih boros menggunakan uang THR, uang bonus atau uang yang diluar dari gaji pokok.
Uang yang sudah dialokasikan untuk kehidupan sehari-hari juga akan dihabiskan dengan lebih mudah. Nah inilah yang dinamakan dengan jebakan mental accounting.
Seharusnya uang diperlakukan dengan cara yang sama agar terhindar dari konsumtif yang tidak perlu. Konsep mental accounting ini pertama kali dirumuskan oleh Prof. Richard Thaller, pakar behavioral economics dari University of Chicago.
Dan bahkan risetnya tentang mental accounting mendapat hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2017. Tapi sesungguhnya mental accounting tidak selamanya bersifat negatif.
Jika cerdik, justru ini bisa dimanfaatkan dari sisi positifnya yaitu contohnya menggunakan uang secara hati-hati dengan menganggap semua uang bernilai sama seperti dana darurat.***

Share this article
Mental accounting, salah satu bias psikologis keuangan yang sering muncul dan dilakukan dalam pengelolaan keuangan pribadi.