AYOJAKARTA.COM - Rencana investasi pabrik mobil listrik VinFast di Subang, Jawa Barat, menuai sorotan tajam.
Pasalnya, proyek bernilai triliunan rupiah itu justru diwarnai aksi demo warga, hanya beberapa hari setelah rencana peresmian diumumkan.
Pengamat ekonomi Bennix menilai situasi ini sangat berbahaya bagi masa depan investasi Indonesia.
Dalam kanal YouTube-nya, Bennix menegaskan bahwa Indonesia bisa mengalami kerugian besar jika VinFast akhirnya kapok menanamkan modal.
Padahal, VinFast disebut siap membawa investasi sekitar Rp3,5 triliun dan membuka hingga 15.000 lapangan kerja baru.
“Sudah bagus ada investor mau percaya taruh duit di Indonesia, mau buka pabrik, mau buka lapangan kerja. Tapi yang mereka dapat justru demo,” ujar Bennix.
Menurut Bennix, aksi penolakan tersebut mencerminkan persoalan klasik yang kerap mengganggu iklim investasi nasional.
Mulai dari tekanan ormas, pungutan liar, hingga tuntutan yang tidak rasional.
Ia menyebut, hal seperti ini bukan pertama kali terjadi dan juga dialami investor lain seperti BYD.
“Ini bukan kejadian baru. Dari dulu banyak pabrik diganggu ormas. Bahkan CEO VinFast sendiri sudah bicara soal pungli sejak awal tahun,” katanya.
Bennix mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya sedang berada di momentum emas.
Perang tarif global membuat banyak produsen otomotif dunia melirik Indonesia sebagai basis produksi.
Selain VinFast, ada Ford, BYD, hingga Volkswagen yang dikabarkan tertarik membangun pabrik.
“Ford saja mau pindah dan bikin pabrik di Indonesia. Artinya kita sedang diuntungkan. Tapi kesempatan ini bisa hilang kalau terus diganggu,” tegas Bennix.
Ia juga menyoroti kesalahpahaman soal rekrutmen tenaga kerja. Bennix menilai anggapan bahwa pabrik asing akan membawa seluruh pekerja dari luar negeri sebagai hoaks.
“Tidak masuk akal mereka bawa buruh dari Vietnam. Biayanya jauh lebih mahal. Justru mereka buka pabrik di Indonesia karena mau pakai tenaga kerja lokal yang lebih efisien,” jelasnya.
Lebih jauh, Bennix menekankan dampak jangka panjang jika investasi batal.
Bukan hanya soal uang, tetapi juga hilangnya transfer teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan peluang naik kelas bagi industri nasional.
“Kalau pabrik-pabrik ini batal masuk, kita kehilangan teknologi, standar produksi global, dan kesempatan upskilling SDM,” kata Bennix.
Ia menilai pemerintah harus segera bertindak tegas terhadap premanisme dan ormas bermasalah.
Tanpa langkah nyata, target pertumbuhan ekonomi tinggi hanya akan menjadi wacana.
“Tidak ada negara yang bisa tumbuh 8 persen kalau premanisme dibiarkan. Ini darurat dan mengancam masa depan bangsa,” pungkasnya.***
Share this article
Indonesia terancam rugi besar jika VinFast batal investasi akibat demo di Subang. Bennix menilai aksi ini bisa mengusir investor, menghilangkan lapangan kerja, dan merusak masa depan industri nasional