AYOJAKARTA.COM - Perekonomian Indonesia dikejutkan oleh rilis data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 resmi mencatatkan defisit sebesar US$ 1,61 miliar.
Angka ini langsung memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku ekonomi dan pengamat pasar modal.
Kondisi tersebut menjadi alarm waspada karena mematahkan tren surplus yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Selain itu, catatan minus ini menjadi yang terdalam sejak April 2019. Anjloknya performa perdagangan ini menandakan adanya tekanan struktural yang serius pada stabilitas ekonomi nasional.
Efek Domino Terhadap Rupiah dan Cadangan Devisa
Defisit perdagangan terjadi saat nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor.
Pada Mei 2026, nilai ekspor RI turun 5,73% menjadi US$ 23,2 miliar, sementara impor migas melonjak 70,79% menjadi US$ 4,51 miliar.
Hal ini memicu ketidakseimbangan pasokan mata uang asing di pasar domestik.
Para importir membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk membayar barang dari luar negeri.
Di sisi lain, pasokan dolar AS yang dibawa pulang oleh eksportir justru berkurang.
Akibatnya, nilai tukar rupiah semakin tertekan di rentang Rp17.980 - Rp17.990 per dolar AS.
Jika defisit ini terus berlanjut, Bank Indonesia harus bekerja keras menjaga stabilitas kurs.
Hal tersebut berisiko menguras cadangan devisa negara sebagai benteng terakhir pembayaran internasional.
Tekanan ini juga merembet pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang pada kuartal I-2026 sudah defisit US$ 9,1 miliar.
Ancaman "Lingkaran Setan" Ekonomi Nasional
Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku luar negeri memicu risiko ekonomi yang disebut adverse feedback loop atau lingkaran setan.
Pelemahan rupiah membuat harga barang impor seperti BBM, LPG, dan bahan baku industri menjadi jauh lebih mahal.
Karena barang-barang tersebut merupakan kebutuhan pokok, volumenya sangat sulit untuk dikurangi.
Akibatnya, nilai total impor Indonesia akan tetap tinggi atau bahkan semakin membengkak.
Situasi inilah yang berpotensi memperlebar jurang defisit perdagangan ke depan.
Sektor energi menjadi beban terberat dengan mencatatkan defisit migas sebesar US$ 3,76 miliar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa lonjakan permintaan impor minyak yang diiringi kenaikan harga minyak dunia menjadi penyebab utamanya.
Kenaikan biaya energi ini berpotensi menekan APBN jika pemerintah harus menambah anggaran subsidi dan kompensasi.***
Share this article
Neraca dagang Mei 2026 defisit US$1,61 M, patahkan surplus 72 bulan. Dipicu impor migas, defisit ini bikin rupiah anjlok ke Rp17.990/USD, kuras cadangan devisa, dan ancam bebani subsidi energi APBN.