AYOJAKARTA.COM - Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kabar mengejutkan datang dari Badan Pusat Statistik (BPS). Neraca perdagangan kita resmi mengalami defisit pada Mei 2026.
Ini adalah sejarah baru yang cukup pahit bagi ekonomi nasional. Selama 72 bulan terakhir, Indonesia selalu menikmati surplus perdagangan.
Rekor manis itu kini resmi patah. Nilai ekspor kita hanya mencapai US$23,20 miliar.
Sementara itu, nilai impor melonjak hingga menembus US$24,81 miliar. Artinya, ada lubang defisit sebesar US$1,61 miliar pada bulan Mei lalu. Ini adalah defisit terdalam sejak April 2019.
Content creator Ferry Irwandi ikut memberikan komentar. Lewat media sosial Threads, ia menjelaskan kondisi rumit ini dengan gaya santai atau "bahasa bayi" agar mudah dipahami netizen.
Ferry menjelaskan bahwa defisit berarti pengeluaran kita lebih banyak daripada pendapatan dari luar negeri.
"Neraca dagang depisit itu artinya impor kita lebih banyak dari ekspor kita. Kalau dalam ekonomi, ini menurut ogut yak, two way causality barang ini, ribet bet," tulis Ferry Irwandi dalam unggahannya.
Menurut Ferry, masalah utamanya terletak pada kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS).
Para importir butuh banyak dolar untuk membeli barang dari luar negeri. Sementara itu, para eksportir kita membawa pulang dolar yang lebih sedikit ke dalam negeri.
Akibatnya, stok dolar menjadi langka dan permintaannya melonjak sangat tinggi. Hal ini langsung memberikan tekanan besar pada nilai tukar rupiah.
"Permintaan dolar menjadi lebih besar daripada pasokannya. Nah, rupiah melemah dong yak, muncul efek balik tuh," tambah Ferry.
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai "lingkaran setan". Saat rupiah melemah, harga barang dari luar negeri menjadi makin mahal jika dikonversi ke rupiah.
Masalahnya, Indonesia masih sangat bergantung pada barang impor untuk kebutuhan pokok.
Kita masih butuh pasokan BBM, LPG, gandum, kedelai, hingga bahan baku industri.
Aktivis sekaligus konten kreator itu menjelaskan bahwa menurunkan volume impor sangatlah sulit.
"Nurunin volume impor? ya sulit karena barangnya kita butuh. Maka nilai impor bisa tetap tinggi bahkan meningkat. Nah, defisit perdagangan bisa semakin besar," jelasnya lagi.
Beban terberat datang dari sektor energi. Neraca perdagangan migas kita tercatat defisit hingga US$3,76 miliar.
Jika harga minyak dunia terus merangkak naik, tagihan impor Indonesia akan semakin membengkak. Hal ini tentu menjadi alarm waspada bagi ketahanan ekonomi kita.
Ferry Irwandi menutup penjelasannya dengan istilah yang unik. "Depisit dagang bisa berpengaruh bikin kurs melemah, kurs melemah berpengaruh pada depisit dagang, istilah kerennya adverse feed back loop. Istilah gampangnya, lingkaran setan wkwk," pungkasnya.***
Share this article
BPS catat neraca dagang Mei 2026 defisit US$1,61 M, patahkan rekor surplus 72 bulan. Ferry Irwandi sebut tingginya impor dibanding ekspor picu kelangkaan dolar AS yang bikin rupiah makin tertekan.