AYOJAKARTA.COM - Isu kenaikan harga RAM di tahun 2026 saat ini sedang ramai jadi buah bibir publik.
Bukan cuma industri besar, tapi juga pengguna sehari-hari mulai dari pelanggan hosting, pembeli gadget, hingga pelaku bisnis digital cepat atau lambat akan segera merasakan dampaknya.
Alysia Alfi, Front End Developer di perusahaan hosting Domainesia, mengungkap bahwa isu ini pertama kali ia sadari dari media sosial.
“Aku lumayan aktif di Twitter, dan isu ini lagi booming. AI itu somehow nge-trigger kenaikan harga komponen, salah satunya RAM,” ujar Alysia Alfi saat ditemui oleh AYOJAKARTA.COM di workshop RHD Fest 2025 yang dilangsungkan di Porta Ambarrukmo pada Minggu, 21 Desember 2025.
Menurutnya, RAM menjadi komponen krusial karena digunakan hampir di semua perangkat elektronik dan infrastruktur digital.
Kenaikan harga RAM otomatis berdampak pada sektor yang sangat bergantung pada server dan komputasi, termasuk industri hosting.
“Karena aku kerja di perusahaan hosting, server itu pakai RAM. Kalau komponennya naik, otomatis akan ada kenaikan harga juga ke customer,” jelasnya.
Ia menambahkan, isu ini juga menjadi perhatian internal perusahaan karena berpengaruh pada perencanaan harga jangka panjang.
Apakah fenomena ini akan membuat pengembang software merasa terancam? Menariknya, wanita yang akrab disapa Alfi ini menilai dampak langsung tidak terlalu dirasakan oleh software developer.
“Kalau untuk developer secara nggak langsung nggak mengancam, karena kita di sisi software, bukan hardware,” katanya.
Dampak paling besar justru dirasakan oleh tim infrastruktur, tim hardware, serta pemilik bisnis yang sudah menetapkan daftar harga jauh hari.
Selain sektor hosting dan server, Alysia menyebut industri lain yang terdampak adalah pasar perangkat elektronik.
“HP, laptop, wearable seperti smartwatch, semuanya pakai memory. Jadi hampir pasti ada penyesuaian harga,” ujarnya.
Lalu, apakah kenaikan harga RAM akan memengaruhi kualitas produk atau pengalaman pengguna?
Menurut Alfi, perusahaan cenderung memilih menaikkan harga dibanding menurunkan kualitas.
“Perusahaan lebih memilih menaikkan harga ketimbang mengkompromikan fitur atau kualitas aplikasinya. Jadi yang dirugikan justru end user karena bayar lebih untuk fitur yang sama,” katanya.
Meski begitu, Alysia Alfi menilai RAM belum bisa disebut sebagai barang mewah di 2026.
“Arahnya memang ke kenaikan, tapi masih fluktuatif dan belum sampai jadi barang luxury,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia menyarankan konsumen lebih bijak dan mempertimbangkan perangkat second.
“Mungkin sekarang saat yang tepat untuk beli barang second yang kualitasnya masih bagus dengan harga lebih masuk akal,” tutupnya.
Dengan tren kenaikan harga RAM yang diperkirakan berlanjut hingga 2026, berbagai sektor mulai dari industri hosting, bisnis digital, hingga konsumen perangkat elektronik perlu bersiap menghadapi penyesuaian biaya.
Meski tidak serta-merta mengubah RAM menjadi barang mewah, fluktuasi harga komponen ini berpotensi memengaruhi strategi bisnis dan pola konsumsi teknologi dalam beberapa tahun ke depan.

Share this article
Isu kenaikan harga RAM 2026 dipicu tren AI dan berdampak ke hosting, server, serta gadget. Menurut Alysia Alfi, developer tak terlalu terdampak langsung, namun bisnis dan konsumen harus siap.