AYOJAKARTA.COM – Overthinking atau kebiasaan berpikir secara berlebihan, merupakan salah satu kebiasaan buruk yang banyak merusak harmoni kebahagiaan.
Seseorang yang overthinking, akan cenderung menciptakan skenario palsu di dalam fikiran sehingga menjadi terputus atau tidak nyambung dengan emosi orang lain di sekitarnya.
Kesulitan untuk terhubung dan tersambung secara emosional, membuat orang overthinking cenderung terjebak pada siklus kehidupan negatif yang berulang.
Mengingat berpikir secara berlebihan dapat menghancurkan impian, hubungan, harapan dan kebahagiaan, kebiasaan overthinking perlu dikendalikan.
Salah satu langkah sederhana untuk dapat mengendalikan liarnya pikiran adalah dengan mengenali penyebab datangnya overthinking.
Sebagai referensi pengetahuan untuk bisa kembali mendapatkan rasa kebahagiaan, berikut ini adalah lima penyebab atau kebiasaan yang membuat overthinking sulit dikalahkan, dikutip dari Instagram @auliahabit, Senin, 9 September 2024.
Baca Juga: 4 Tanda Orang yang Suka Overthinking, Jika Dibiarkan Bisa Mengganggu Kehidupan!
Siklus Overthinking
Kebiasaan pertama yang menyebabkan overthinking seringkali menjadi bagian dari diri seseorang adalah minimnya olahraga.
Aktivitas fisik merupakan sebuah kebutuhan yang dapat menstimulasi seluruh organ tubuh, sehingga perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Berbeda dengan orang yang rutin berolahraga dan mendapatkan asupan hormon pelepas tekanan, individu overthinking cenderung mudah lemas dan tidak memiliki stamina.
Kebiasaan kedua yang membuat overthinking menjadi semakin membuat seseorang menjauh dari rasa kebahagiaan adalah serakah dengan pekerjaan.
Dalam spektrum yang yang lebih mendalam, kebiasaan serakah dengan pekerjaan akan diikuti dorongan bertanggung jawab sehingga memunculkan potensi sebagai Pengendali.
Agar terhindar dari potensi ingin mengendalikan atau mendominasi, membagi tugas atau peran dapat menjadi suatu langkah mudah mengembalikan kebahagiaan.
Kebiasaan ketiga yang mengakibatkan perilaku overthinking menjadi perampas kebahagiaan adalah menunda-nunda atau menyepelekan keadaan.
Menunda suatu pekerjaan atau tanggung-jawab yang dapat berdampak individual atau sosial, akan melahirkan sikap ketidak pedulian.
Menunda-nunda atau menyepelekan suatu keadaan, dalam jangka panjang akan membuat seseorang berpotensi mengalami kebekuan perasaan sehingga menjadi egoistik.
Kebiasaan selanjutnya yang dapat mengakibatkan seseorang terus terjebak pada siklus overthinking adalah memendam emosi.
Marah, benci, sedih, ragu, bahagia, senang, gembira merupakan kondisi yang fluktuatif sehingga perlu dikenali dan di regulasi untuk kebaikan diri sendiri serta orang lain.
Orang yang membiasakan diri memendam emosi, selain dapat merusak kesehatan mental juga bisa mempengaruhi kualitas kecerdasan emosional dan spiritual.
Jurnaling, menulis catatan harian atau mengekspresikan diri melalui hal-hal positif merupakan salah satu cara untuk melepaskan himpitan emosi.
Kebiasaan kelima yang membuat seseorang terus terjebak pada siklus overthinking adalah enggan untuk mengintrospeksi diri sendiri.***

Share this article
Seseorang yang overthinking, akan cenderung menciptakan skenario palsu di dalam fikiran sehingga menjadi terputus atau tidak nyambung.