AYOJAKARTA.COM – Salah satu acuan yang digunakan masyarakat Jawa dalam mengenal karakter dan kepribadian seseorang adalah dengan mengetahui weton.
Bagi masyarakat Jawa, weton merupakan nilai kelahiran seseorang yang didasarkan pada perhitungan hari lahir serta hari pasaran.
Secara bahasa, istilah weton dipercaya oleh sebagian masyarakat berkaitan erat dengan kata Keton yang memiliki makna terlihat atau tersingkap.
Dengan mengetahui weton, maka secara tidak langsung seseorang sedang berkenalan atau berinteraksi dengan komponen pembentuk karakter atau kepribadian orang lain.
Melalui teknik membaca weton, leluhur bangsa Jawa dipercaya berhasil melakukan kerja-kerja peradaban secara turun-temurun.
Seseorang yang memiliki weton tertentu dengan karakter bawaannya yang juga tertentu, dipercayai memiliki tugas untuk menjalankan peran tertentu atau spesialisasi.
Dengan adanya spesialisasi peran yang disandarkan para weton, maka proses keselarasan atau harmoni antara individu dengan semua hasil ciptaan Tuhan bisa terwujud.
Masyarakat Jawa percaya bahwa setiap makhluk memiliki nilai, dan nilai tersebut akan semakin bertambah jika tidak salah dalam menentukan langkah.
Karenanya, proses penyatuan antara individu manusia seperti pernikahan dalam budaya Jawa sangat mempertimbangkan aspek bobot, bibit maupun bebet.
Hal yang sama juga terjadi dalam hubungan individu dengan alam sekitar, dimana masyarakat Jawa menganggap alam semesta adalah saudara tua yang butuh dihormati.
Baca Juga: Bukan Dilarang Senang-senang, Ini 5 Weton yang Perlu Ekstra Waspada di Malam Tahun Baru 2024
Bentuk penghormatannya adalah dengan tidak mengeksploitasi atau serakah, dan menjaga keseimbangannya agar tidak mendatangkan bencana.
Namun seiring perkembangan teknologi, zaman dan derasnya arus modernisasi, penggunaan weton mulai jarang dijadikan sebagai pertimbangan.
Masyarakat Jawa percaya bahwa setiap weton, memiliki karakter khusus yang memiliki keistimewaan bawaan dan bersumber langsung dari Sang Pemberi Kehidupan.
Dari sekian banyak keistimewaan yang dititipkan Tuhan, weton Jumat Legi merupakan salah satu weton yang terbilang cukup unik.
Meski disebut Jumat Legi atau Jumat Manis, namun proses kehidupan orang dengan weton ini justru cenderung tidak manis atau bahkan pahit.
Baca Juga: Menilik Weton 3 Capres-Cawapres 2024 Menurut Perhitungan Kalender Jawa, Siapa Paling Beruntung?
Jumat Legi dipercaya oleh masyarakat Jawa memiliki unsur air yang menjadi salah satu unsur penting penopang kehidupan.
Air memiliki sifat mengeras atau membeku dalam lingkungan yang dingin, menguap dan hilang jika dipanaskan, dan akan kembali menjadi cair setelah menjelma hujan.
Sebagaimana sifat air yang jumlahnya konstan atau tetap, orang dengan weton Jumat Legi dipercaya perlu mengalami banyak rasa pahit atau kegelisahan.
Namun semua hal tersebut dipercaya bagian dari proses kedewasaan, agar pemilik weton Jumat Legi benar-benar pantas menjadi pemanis kehidupan.***
Share this article
Dari sekian banyak keistimewaan yang dititipkan Tuhan, weton Jumat Legi merupakan salah satu weton yang terbilang cukup unik.