AYOJAKARTA.COM - Selalu berfikir positif akan suatu keadaan, memang baik.
Namun, pernahkah yang sering ngerasain di support sama orang lain tapi ngerasanya kok malah makin terpuruk?
Atau mungkin ngerasa kok omongan temen aku yang ini malah bikin aku tersinggung ya?
Instagram @psikologiindonesia_ membagikan perbedaan antara positive thinking dengan toxic positivity. Ayojakarta.com melansirnya, Rabu 3 April 2024
Saat Dihadapkan Situasi Tertentu
- Positive Thinking
Merasa bersyukur dan tetap bisa meneriam kesedihan, perasaan atau masalah
- Toxic Positivity
Kamu bersyukur, tapi kenapa jadi adu nasib dengan orang lain?
Contoh : "Ya sudah gapapa. Biarin aja. masih banyak orang yang lebih menderita dibanding aku".
Baca Juga: Tes Ilusi Optik: Gunakan Kemampuan Observasimu, Coba Cari Stroberi di Gambar Kebun Binatang Ini
Saat Sedang Sedih
- Positive Thinking (jujur sama diri sendiri)
* Kalau sedih ya sedih
* Kalau marah ya marah
* Kalau kecewa ya kecewa
- Toxic Positivity (bohong sama diri sendiri)
* Sebenarnya sedih, bilangnya gapapa
* Sebenarnya marah, bilangnya gapapa
* Sebenarnya kecewa, bilangnya gapapa
Baca Juga: Capek Ketemu Banyak Orang? Ini 6 Cara Kembalikan Energi bagi Kepribadian Introvert
Saat Dihadapkan dengan Masalah
- Positive Thinking
Terima kondisi saat ini. Fokus untuk mencari solusi
- Toxic Positivity
Cenderung lari dari masalah dengan tameng "Positive thinking"
* Udahlah positive thinking aja
* Udahlah lupakan saja
Baca Juga: Rezeki Jelang Lebaran! BPNT Tahap 3 Sudah SI di Seluruh KKS, Bank Mana yang Cair Duluan?
Lalu apa yang harus dilakukan?
- Positive thinking boleh. Tapi tetap harus mengakui kalau sedang tidak baik-baik saja
- Stop comparing. Karena setiap orang itu berbeda dan unik
- Wajib punya support system biar tidak menanggung beban sendirian
- Kalau ada masalah, jangan lari. Selesaikan!
***

Share this article
Namun, pernahkah yang sering ngerasain di support sama orang lain tapi ngerasanya kok malah makin terpuruk?