AYOJAKARTA.COM - Depresi lebih dari sekadar kesedihan. Depresi adalah sekelompok gangguan kesehatan mental.
Depresi berhubungan dengan suasana hati yang sedih, hampa, atau mudah tersinggung yang dapat mempengaruhi kemampuan kamu untuk berfungsi.
Dilansir dari Psych Central, selama masa remaja, tubuh dan otak mengalami banyak perubahan.
Baca Juga: Psikologi Unik Orang yang Lahir Hari Kamis: Keberuntungan, Keberanian, dan Penuh Energi
Pergeseran kadar hormon dapat secara langsung mempengaruhi suasana hati kamu, dan pertanyaan besar mungkin mulai muncul tentang hubungan dan identitas.
Naik turunnya emosi adalah hal yang wajar, tetapi jika itu berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari kamu, ini bisa menjadi tanda depresi.
Baca Juga: Lolos Prakerja Gelombang 66 dan Ingin Dapat Tambahan Intensif Hingga Rp 1,5 Juta? Berikut Tipsnya
Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum, tetapi gejalanya sering kali dimulai pada masa remaja atau awal masa dewasa.
Depresi dapat berdampak signifikan dan luas pada hidup kamu, dan pengobatan adalah langkah pertama untuk merasa lebih baik.
Gejala
Meskipun banyak gejala yang serupa, remaja mungkin mengalami depresi secara berbeda dibandingkan orang dewasa.
Orang dewasa biasanya merasakan kesedihan, sedangkan remaja lebih sering merasa mudah tersinggung.
Penting juga untuk menyadari bahwa emosi normal dan perubahan suasana hati berbeda dari episode depresi.
Mengidentifikasi depresi adalah langkah pertama menuju pengobatan.
Baca Juga: Mau Masuk PTN Impian Tanpa Tes? Ini 5 Universitas yang Membuka Jalur Mandiri Tanpa Tes
Gejala episode depresi pada remaja sering kali meliputi:
-
merasa sedih atau sering menangis
-
merasa lebih mudah tersinggung, marah, atau bermusuhan dari biasanya
-
merasa putus asa
-
harga diri rendah atau perasaan bersalah
-
energi rendah
-
kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas biasa kamu
-
kebosanan yang terus-menerus
-
menarik diri dari keluarga dan teman
-
kesulitan berkonsentrasi atau mengambil keputusan
-
nilai atau prestasi sekolah yang lebih rendah
-
kesulitan tidur
-
kesulitan dengan hubungan atau komunikasi
-
perubahan nafsu makan atau berat badan
-
keluhan fisik yang sering terjadi, seperti sakit kepala atau sakit perut
-
pikiran atau tindakan menyakiti diri sendiri atau ingin bunuh diri
Baca Juga: 7 Langkah Mengubah Hobi Menjadi Karier, Lakukan Sebelum Resign!
Remaja yang hidup dengan depresi mungkin kesulitan mempertahankan kehidupan sosial dan akademis yang sehat.
Mengatasi dan mengobati depresi penting untuk meningkatkan kesejahteraan saat ini dan masa depan.
Penyebab dan faktor risiko
Jarang ada satu penyebab tunggal dari gangguan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa depresi disebabkan oleh interaksi antara banyak faktor:
-
Genetika. Penelitian yang meneliti riwayat keluarga yang mengalami depresi berat menunjukkan adanya komponen genetik, seperti halnya gangguan afektif secara umum. Gangguan afektif termasuk depresi dan gangguan bipolar.
-
Biologi. Bahan kimia otak, seperti dopamin, norepinefrin, dan serotonin, terlibat dalam depresi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa koneksi, pertumbuhan, dan fungsi sel saraf juga dapat mempunyai pengaruh besar. Struktur otak, termasuk hipokampus, amigdala, dan korteks prefrontal, semuanya juga berperan dalam depresi.
-
Lingkungan. Riwayat pengalaman masa kecil yang buruk atau trauma di masa kanak-kanak atau remaja sangat terkait dengan depresi. Hal ini mungkin termasuk pelecehan fisik atau seksual, kematian anggota keluarga, atau peristiwa traumatis.
Baca Juga: Hebat! UGM Masuk 14 Kampus Miliki Jurusan Psikologi Terbaik Versi Edurank 2024, Ini Daftarnya
Banyak faktor risiko depresi lainnya yang dapat meningkatkan kemungkinan remaja mengalami episode depresi. Ini termasuk:
-
stres hidup yang parah
-
gangguan kesehatan mental lainnya, seperti kecemasan
-
ketidakadilan, termasuk yang terkait dengan kemiskinan, ras, atau gender
-
pengalaman kehilangan atau kesedihan
-
konflik keluarga
-
penyakit kronis
-
perubahan hidup yang signifikan, seperti pindah atau perceraian orang tua
Semakin banyak faktor risiko yang dihadapi remaja, semakin besar potensi dampaknya terhadap kesehatan mental mereka.
Masalah dengan citra tubuh, penampilan, identitas gender, dan identitas seksual sering terjadi pada remaja yang sedang berkembang dan dapat menyebabkan depresi.
Semakin banyak faktor risiko lingkungan yang biasanya dihadapi remaja membuat gejala depresi lebih mungkin terjadi. Faktor lingkungan tersebut antara lain:
-
stres akut
-
nutrisi yang tidak memadai
-
kurangnya rangsangan
Depresi juga dikaitkan dengan perilaku berisiko tinggi pada remaja, seperti:
-
penggunaan zat berlebih
-
menyakiti diri sendiri
-
seks pranikah
-
upaya bunuh diri
Diagnosis
Jika kamu merasa kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berjuang melawan depresi, penting untuk menanggapinya dengan serius.
Baca Juga: Lolos Prakerja Gelombang 66 dan Ingin Dapat Tambahan Intensif Hingga Rp 1,5 Juta? Berikut Tipsnya
Mendapatkan bantuan dapat membuat perbedaan besar.
Berbicara dengan dokter atau ahli kesehatan mental dapat membantu kamu memahami apa yang kamu alami dan mempelajari cara mengatasi pikiran dan perasaan yang menyusahkan.
***
Share this article
Depresi berhubungan dengan suasana hati yang sedih, hampa, atau mudah tersinggung yang dapat mempengaruhi kemampuan kamu untuk berfungsi.