AYOJAKARTA.COM - Viralnya Citayam Fashion Week menghebohkan masyarakat.
Tak hanya itu, terkait viralnya Citayam Fashion Week ini juga mendapat respons dari berbagai pihak.
Satu di antaranya datang dari Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Hari Nugroho.
Dikutip AyoJakarta.com dari Ayosemarang.com pada Selasa(26/7/2022), Hari memprediksi Citayam Fashion Week tidak akan bertahan lama karena tren tersebut muncul secara spontan dan tidak terstruktur.
Sosiolog UI itu mengatakan, muncul dan terbentuknya tren Citayam Fashion Week diakibatkan tidak adanya ruang publik bagi remaja di Jakarta.
Tujuan utama yakni mengekspresikan diri dan membangun identitas maka muncul istilah kawasan bisnis di SCBD agar dapat dikenal di daerah mereka.
Acara tersebut banyak dihadiri bebagai remaja dari berbagai daerah dari Citayam, Bojong Gede, dan Depok.
"Menurut saya, itu tidak akan bertahan lama, karena itu hanya respons populer saja. Kemunculannya itu adalah sebuah komunitas cair yang tidak terstruktur, yang terkonstruksi secara spontan," ujarnya.
Menurut Hari, tidak ada tokoh utama penggerak dari tren ini walaupun Citayam Fashion Week memiliki beberapa tokoh terkenal seperti Bonge dan Jeje Slebew.
Hal ini pula mendasari prediksinya bahwa keberlangsungan tren tersebut akan berlansung singkat.
Dampak tren ini yaitu memilki potensi 'dimiliki' oleh kalangan menengah ke atas Jakarta dan keperluan panggung politik faktor kuasa serta sumber daya ekonomi yang lebih besar dibanding remaja tersebut.
"Arena potensial hanya akan diambil alih oleh mereka yang mempunyai power and resources lebih besar yaitu kalau bukan anak muda kelas menengah Jakarta, atau ya mereka yang mau pakai untuk keperluan panggung politik," pungkasnya.
Sosiolog Hari Nugroho menambahkan bahwa remaja Citayam Fashion Week pada akhirnya tersingkir atau tidak menjadi penopang arena dan bukan lagi tokoh utama.***(Ade M Imam)

Share this article
Berikut pendapat Sosiolog Universitas Indonesia (UI) soal viralnya Citayam Fashion Week di daerah SCBD.