AYOJAKARTA.COM - Ketegangan global memunculkan kekhawatiran baru, yakni apakah China akan memanfaatkan konflik antara Amerika Serikat dan Iran untuk melancarkan serangan cepat ke Taiwan?
Isu ini menjadi perhatian serius para analis di Pentagon. Mereka mempertimbangkan kemungkinan Beijing mengambil langkah cepat untuk mencaplok Taiwan sebelum sekutu AS sempat merespons.
Dilansir dari laman warriormaven.com, dalam dokumen militer AS, istilah “fait accompli” kerap digunakan untuk menggambarkan skenario di mana China bergerak sangat cepat hingga menciptakan status quo baru sebelum intervensi terjadi.
Secara geografis, posisi Taiwan sangat dekat dengan daratan China, hanya sekitar 160 kilometer.
Kedekatan ini memberi keuntungan besar bagi militer China untuk melakukan operasi kilat.
Jika skenario ini terjadi, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan sekutu lain akan menghadapi dilema besar.
Apakah mereka akan melakukan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali Taiwan dengan risiko korban dan biaya yang sangat tinggi?
Meski AS tengah fokus pada konflik di Timur Tengah, bukan berarti kawasan Asia-Pasifik dibiarkan kosong.
Hingga saat ini, Angkatan Laut AS masih menempatkan dua kapal induk di kawasan tersebut, yakni USS George Washington yang berbasis di Jepang dan USS Theodore Roosevelt yang juga beroperasi di Pasifik.
Kehadiran ini merupakan bagian dari strategi “forward presence” atau kehadiran militer di garis depan.
Tujuannya bukan hanya sebagai deterrence (pencegah), tetapi juga untuk memastikan respons cepat jika konflik pecah.
Dengan jangkauan jet tempur modern seperti F-35 yang mencapai lebih dari 1.000 kilometer, posisi kapal induk ini memungkinkan AS tetap berada dalam jarak tempur strategis terhadap Taiwan.
Latihan Militer China Picu Kekhawatiran
Militer China sendiri terus meningkatkan aktivitas di sekitar Taiwan. Pelanggaran zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan oleh pesawat tempur dan pembom China menjadi hal yang semakin rutin.
Selain itu, latihan militer amfibi dan operasi kapal induk China dinilai bisa menjadi “kedok” untuk melancarkan serangan mendadak.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa latihan tersebut bisa sewaktu-waktu berubah menjadi operasi militer nyata.
Pertanyaan penting lainnya adalah soal timing. Sebagian analis menilai China mungkin tergoda untuk bertindak lebih cepat, terutama karena keunggulan sementara dalam teknologi rudal hipersonik seperti DF-17.
Namun di sisi lain, China juga bisa memilih menunggu hingga kekuatan militernya, termasuk jet tempur siluman yang lebih seimbang dengan AS dan sekutunya.
Dalam beberapa tahun ke depan, kehadiran pesawat generasi baru seperti J-35 bahkan proyek generasi keenam berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan secara signifikan.
Meski risiko serangan tetap ada, keberadaan militer AS di Pasifik menunjukkan bahwa Taiwan tidak sepenuhnya rentan meski Washington terlibat konflik di kawasan lain.
Namun satu hal jelas, yakni dinamika geopolitik global kini semakin kompleks.
Konflik di satu wilayah dapat membuka peluang strategis di wilayah lain dan Taiwan tetap menjadi salah satu titik paling sensitif di dunia saat ini.***

Share this article
AS waspadai taktik fait accompli China ke Taiwan saat AS fokus di Timur Tengah. Meski China unggul jarak & rudal, kehadiran kapal induk & F-35 di Pasifik tetap jadi penangkal utama agresi Beijing.