AYOJAKARTA.COM – Perang bersenjata antara pasukan militer Iran melawan Israel yang berlangsung selama 12 hari, berakhir dengan gencatan senjata.
Menewaskan ratusan jiwa dan menghancurkan banyak infrastruktur, perlawanan sengit Iran terhadap Israel menjadi sorotan dunia.
Meski sempat menghujani Iran dengan bom, militer Amerika Serikat yang disebut-sebut sebagai penyokong Israel justru menjadi pihak penengah.
Baca Juga: BTN Jakarta International Marathon 2025 Siap Digelar, Ini Rute Lengkap & Rekayasa Lalu Lintas
Selain menghancurkan bangunan fisik dan mental manusia, perang Iran melawan Israel juga membuat dunia menyoroti sosok Pemimpin dari masing-masing pihak yang berseteru.
Dianggap sebagai aliansi Benjamin Netanyahu, Donald Trump oleh banyak negara disebut-sebut kewalahan menghadapi serangan Ayatollah Ali Khamenei.
Disamping mempunyai gelar sebagai Pemimpin Tertinggi atau Rahibar, Ali Khamenei juga memiliki hubungan darah dengan Rasul Penutup dari garis keturunan Sayyid Hussein.
Dalam peristiwa Karbala, Sayid Hussein yang merupakan salah satu cucu kesayangan dari Muhammad Bin Abdullah mengalami peristiwa tragis.
Baca Juga: Siap-Siap Tes SPMB Kota Bandung 2025, Ini Tutorial Lengkap Aplikasi Tes Terstandar Jalur Prestasi
Akibat peristiwa Karbala, para leluhur Ayatollah Ali Khamenei mengungsi ke salah satu wilayah kekaisaran Utsmaniyah lewat bantuan Sultan Bayazid II.
Sempat menetap di Najaf atau Irak, keluarga Ayatollah Ali Khamenei kemudian pindah ke kota kecil bernama Khamenei yang merupakan wilayah Azerbaijan, Iran.
Dikenal sebagai sosok Ulama besar dan sangat kharismatik, keluarga Khamenei melahirkan Sayid Mustafa Musawi yang merupakan Kakek dari Ayatollah Ali Khamenei.
Sebelum memutuskan untuk membalas serangan Israel, Ali Khamenei sempat memberikan pernyataan mengenai kondisi umat Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Info SPMB Jatim 2025 Tahap 3, Ini Cara Cek Status CMB Lolos Jalur Domisili Reguler atau Sebaran
Menurutnya, persatuan antara umat Islam sebagai sebuah pedoman hidup yang dirahmati Sang Maha Pencipta sedang mengalami kondisi tidak baik.
Akibat perbedaan kepentingan politik dan sudut pandang serta label-label buatan, umat Islam menjadi lebih banyak menggunakan akal dan mengabaikan peran hati nurani.
Sebagai sebuah ajaran hidup serta diperuntukkan bagi seluruh makhluk, Ali Khamenei berharap nurani umat Islam bisa bersatu ke arah yang sama.
Perang sesungguhnya menurut Ali Khamenei bukan tentang Iran ataupun Israel dan sekutunya, tetapi antara hati nurani sebagai manusia dan kehendak ego pribadi.
Baca Juga: Jadi Flagship Killer Killer 2025! Review POCO F7 Resmi Indonesia, Punya Performa Terkencang?
Selain Ali Khomenei, pernyataan mengenai esensi sesungguhnya dari perang Iran-Israel juga sempat disampaikan Buya Yahya dalam sebuah kajian.
Menurut Buya, perang bukanlah sekedar memberikan dukungan kepada salah satu pihak yang berseteru dan saling serang berdasarkan keyakinan agama.
Upaya untuk menghindari perang, menurut Buya lebih kepada cara menjaga agar hati nurani manusia tetap bisa menyala.
Karena terjadi pelanggaran nilai kemanusiaan, serangan Israel ke Palestina menurut Buya akan selalu menggugah hati nurani warga dunia tanpa perlu menyoal keyakinan.
Sementara menurut Faisal Assegaf yang merupakan Pengamat Politik Timur Tengah, perang hanya upaya segelintir negara untuk menciptakan pasar atas senjata buatannya. ***

Share this article
Perang Iran-Israel 12 hari berakhir damai, ratusan tewas. Dunia soroti pemimpin & dampak kemanusiaan, bukan sekadar konflik politik.