AYOJAKARTA.COM - Bagi kaum muslim yang beriman, santap atau makan sahur di setiap bulan Ramadhan merupakan salah satu ibadah sunnah.
Selain karena merupakan anjuran langsung dari Rasulullah SAW, aktivitas sahur di bulan Ramadhan juga juga menyimpan berbagai macam keistimewaan dan kebaikan.
Karena memiliki peran dan manfaat tidak sedikit, ibadah sahur menjadi salah satu aktivitas yang rutin dilakukan oleh kaum muslimin setiap bulan Ramadhan.
Meski merupakan salah satu ibadah tahunan, bagi sebagian orang sahur tidak lebih dari sekedar peristiwa makan sebelum fajar.
Kurangnya pemahaman sebagian orang tentang sejarah sahur, menjadikan ibadah sunnah tersebut menjadi kurang berkesan.
Untuk lebih dapat menghayati pentingnya nilai-nilai yang yang tersirat di dalam peristiwa tersebut, berikut ini merupakan sejarah lahirnya sahur.
Awal Mula Ibadah Sahur
Sebelum masa kenabian Muhammad SAW, puasa merupakan salah satu ritual ibadah yang sudah menjadi tradisi secara turun-temurun bagi masyarakat Arab.
Saat tahun pertama perintah untuk menjalankan puasa datang, kondisi di kota Madinah dalam keadaan sangat terik dan panas.
Meski berada dalam kondisi terik panas, hal tersebut bukan merupakan sebuah persoalan bagi masyarakat Islam saat itu untuk menjalankan puasa.
Baca Juga: Kapan Terjadinya Nuzulul Qur'an? Simak Pengertian, Keistimewaan, dan Amalan yang Bisa Dilakukan!
Salah satu sahabat Rasulullah SAW yang juga ikut menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah Qais Ibnu Shirma, seorang pekerja di kebun Kurma.
Berada hampir seharian di kebun Kurma dengan kondisi terik, tidak menghalangi Qais untuk tetap menjalankan perintah puasa.
Saat mendekati waktu berbuka, Qais kembali ke rumah dan menjumpai Sang Istri untuk meminta disediakan menu berbuka.
Setelah makanan untuk berbuka telah disajikan, istri Qais justru mendapati suaminya telah tertidur karena kelelahan dan baru terbangun pada Subuh keesokan harinya.
Karena tidak sempat santap sahur, siang harinya Qais mendadak pingsan hingga kabar tersebut sampai ke telinga Rasulullah SAW.
Akibat dari peristiwa tersebut, Allah SWT berfirman sebagaimana tertulis pada Surat Al Baqarah ayat 187.
“Dan makan dan minumlah sampai benang putih fajar menjadi jelas bagimu dari benang hitam atau malam, kemudian selesaikan puasa sampai matahari terbenam,”
Setelah menyampaikan tentang firman tersebut ke para sahabat, Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kalimat sebagaimana ditulis dalam hadist riwayat Imam Muslim.
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani adalah makan sahur,”
Usai mendengar penjelasan Rasulullah SAW tersebut, para sahabat semakin mengimani Islam sebagai pembawa keselamatan.***

Share this article
Karena memiliki peran dan manfaat tidak sedikit, ibadah sahur menjadi salah satu aktivitas yang rutin dilakukan di bulan Ramadhan