AYOJAKARTA.COM - Dalam sebuah sesi tanya jawab tentang permasalahan yang sering terjadi di bulan Ramadhan.
Seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada Buya Yahya mengenai etika tadarus Al-Qur'an menggunakan mikrofon.
Pertanyaan tersebut menyoroti situasi yang kerap terjadi di lingkungan masyarakat, di mana seseorang melakukan tadarus Al-Qur'an menggunakan pengeras suara hingga menjelang waktu sahur.
Baca Juga: Perbandingan Spesifikasi Samsung A06 5G dan Motorola Moto G45 5G, Duel HP Harga Rp2 Jutaan
Kondisi ini menimbulkan protes dari warga setempat yang merasa terganggu karena harus bekerja keras keesokan harinya.
Penanya meminta pendapat Buya Yahya tentang bagaimana peran tokoh masyarakat dalam menangani permasalahan tersebut.
Dalam jawabannya, Buya Yahya menekankan pentingnya adab dan tata krama dalam membaca Al-Qur'an.
Beliau dengan tegas menyatakan: "Di dalam membaca al-qur'an harus adab dan tata kramanya. Biarpun Anda membaca al-qur'an, anda tidak boleh mengganggu orang lain yang lagi beristirahat. Kalau mikrofonnya mikrofon yang cempreng-cempreng kemudian suaranya juga gak merdu, bisa ganggu betul itu."
Buya Yahya bahkan lebih lanjut menjelaskan konsekuensi hukumnya dengan sangat jelas: "Jadi memang tidak diperkenankan. Jadi kalau kita membaca al-qur'an jika mengganggu orang lain menjadi haram bacaannya. Itu secara jelas dikatakan oleh para ulama."
Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya permasalahan ini dalam perspektif agama, di mana ibadah yang pada dasarnya mulia dapat berubah status hukumnya jika pelaksanaannya merugikan orang lain.
Baca Juga: Link Live Streaming Leicester City Vs Manchester United di Lanjutan Liga Premier Inggris
Buya Yahya juga berbagi pengalaman pribadinya dalam menangani kasus serupa, menceritakan: "Memang ada di daerah Cirebon sana, ada setelah kita lihat ya gimana tidak keganggu, pas musala tuh mikrofonnya pas masuk rumahnya. Itu kalau sudah azan mesti kaget orang tuh 'Allahu akbar' gitu, sehingga sering marah-marah orang akhirnya menjadi keras hatinya."
Beliau menyarankan penyelesaian yang bijaksana tanpa menimbulkan konflik atau menyinggung perasaan pihak yang bertadarus.
"Cuman cara menghentikannya pun dengan kelembutan, jangan sampai ada kesan atau mungkin naudubillah kebencian kepada al-qur'an," ujar Buya Yahya.
Solusi praktis yang ditawarkan Buya Yahya adalah: "Mungkin dia duduk bareng Ustaz, kira-kira gimana Apakah mikrofonnya kalau malam hari dikecilkan sedikit, yang penting ada tanda kehidupan di masjid gitu saja, tanpa harus suaranya lantang masuk rumahnya orang-orang."
Sebagai penutup, Buya Yahya menyimpulkan dengan tegas: "Jawabannya jelas bahwasanya jika mengganggu orang lain tidak boleh. Yang demikian itu ibadah tidak boleh ganggu orang lain, membaca al-qur'an tidak mengganggu orang tidur, tidak boleh mengganggu orang salat sekalipun, wallahu alam bissawab."***
Share this article
Dalam jawabannya, Buya Yahya menekankan pentingnya adab dan tata krama dalam membaca Al-Qur'an, begini...