AYOJAKARTA.COM – Belakangan ini media sosial dihebohkan dengan postingan foto saat pelaksanaan salat Idul Fitri di Masjid Rahmatan Lil Alamin, Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun.
Pasalnya dalam foto terlihat bahwa jamaah shaf antara perempuan dan laki-laki terlihat bercampur.
Bahkan ada seorang perempuan yang berada di shaf depan dan berada di antara laki-laki sehingga menyebabkan kehebohan.
Baca Juga: Hotman Paris Sebut Kubu Ken Admiral Tak Perlu Khawatir Atas Kasus Penganiayaan, Ini Alasannya!
Sontak foto yang banyak di media sosial tersebut mendapatkan kecaman hingga pihak Kementerian Agama wilayah Indramayu datang ke Ponpes Al Zaytun untuk mengklarifikasi hal tersebut.
Sebenarnya bagaimana hukumnya bercampurnya shaf antara laki-laki dan perempuan dalam salat apakah tetap sah atau malah tidak sah?
Sebelumnya pengurus Lembaga Pendidikan Dakwah (LPD) yang juga merupakan pengurus Pondok Pesantren Al-Bahjah sempat memberikan penjelasan.
Menurutnya antara laki-laki dan wanita harus dipisahkan dengan satir (pembatas) ketika salat berjamaah bersama.
Baca Juga: Bertemu Dalam Satu Forum, Ganjar Pranowo Akui Cocok dengan Sandiaga Uno, Kode Untuk Cawapres?
“Kalau bicara tentang kesempurnaan sebaiknya dibuat satir agar wanita tidak melihat pria, seperti itu hendaknya?” ujar Buya Yahya dikutip AyoJakarta.com melalui YouTube Al-Bahjah TV, Sabtu (29/4/2023).
Namun jika pada suatu ketika ketika di suatu tempat bepergian tempat yang lapang da nada jamaah laki-laki dan perempuan tidak memakai pembatas.
“Kalau jamaah pria kemudian ada jamaah perempuan tidak pakai satir bisa satu masjid begitu di depan laki-laki belakang perempuan tidak dibuat satir sah salatnya,” ujar Buya Yahya.
“Hal ini disebutkan dalam hadis, paling jeleknya shaf perempuan agar shaf yang paling depan, paling jeleknya shafnya laki-laki adalah yang paling belakang,” sambungnya.
Menurutnya paling jelek shaf perempuan yang paling depan ini karena sangat dekat dengan laki-laki disaat tidak ada satir.
“Kata Imam Nawawi kalau sudah ada satirnya maka sama, shaf yang paling bagus bagi perempuan adalah sama yang paling depan,” lanjut Buya Yahya.
Maka dari itu pengurus LPD Al-Bahjah ini menyampaikan agar himbauan agar sebisa mungkin membuat satir.
Baca Juga: 5 Kota Terpanas di Asia, Untung Indonesia Punya 7 Tempat Tersejuk Untuk Berwisata yang Mudah Diakses
Hal ini dikarenakan kalau tidak ada satir maka akan mengganggu kekhusyukan dalam salat.
“Karena kalau tidak ada satir ini paling tidak ini cukup mengganggu kekhusukan, perempuan salat di belakangnya dia melihat sarung loreng sarung merah sarung ini, ” kata Buya Yahya.
“Hal ini akan mengganggu, kalau bicara keabsahan buat satir. Tidak susah kok,” sambungnya.
Lebih lanjut pendakwah kondang ini menyampaikan bahwa secara umum urutan salat berjamaah antara laki-laki dengan perempuan adalah laki-laki terlebih dahulu.
Jika ada anak laki-laki maka setelah barisan laki-laki baru kemudian barisan kelompok anak laki-laki.
Sedangkan perempuan berada di barisan belakang setelah barisan laki-laki telah selesai atau terakhir.
“Urutan barisan dalam salat berjamaah adalah laki-laki terlebih dahulu paling depan dekat dengan imam, baru anak laki-laki di barisan berikutnya,” ujar Buya Yahya.
“Selesaikan dulu barisan laki-laki dewasa, setelah itu barisan anak-anak (laki-laki) baru setelah itu belakangnya lagi adalah perempuan dewasa, baru di belakangnya lagi anak perempuan” sambungnya.***

Share this article
Bagaimana hukumnya bercampurnya shaf antara laki-laki dan perempuan dalam salat apakah tetap sah atau malah tidak sah? Ini kata Buya Yahya!