AYOJAKARTA.COM - Kyai Haji Muhammad Najih Maimoen Zubair merupakan putra kedua dari kyai kenamaan Maimoen Zubair atau biasa dikenal nama Mbah Moen.
Putra kedua Mbah Moen ini diketahui juga meneruskan jejak almarhum ayahnya yaitu Mbah Moen sebagai pendakwah.
Selain penjadi pendakwah, Kyai Muhammad Najih juga merupakan pembimbing dan pengasuh salah satu khos di Pondok Pesantren Al Anwar.
Baca Juga: Cukup Ingat Ini Agar Selalu Berkecukupan Kata Mbah Moen, Hingga Hukum dari Rokok
Khos tersebut bernama Darus Shohihain sesuai dengan kecintaan putra Mbah Moen tersebut terhadap hadits.
Seperti almarhum ayahnya yakni Mbah Moen, Kyai Muhammad Najih juga kerap mengisi ceramah dan membagikan ilmu-ilmu agama yang sangat bermanfaat.
Seperti yang dikutip AyoJakarta.com dari akun Instagram @ppalanwarsarang pada Minggu (25/9/2022), putra kedua dari Kyai Maimoen Zubair atau lebih dikenal dengan nama Mbah Moen nampak memberikan ceramah mengenai permasalahan tradisi Jawa dan tradisi Islam.
Baca Juga: Kata Mbah Moen Inilah Ciri Orang Mukmin yang Baik, Cek Apakah Anda Termasuk?
Kyai Muhammad Najih mengatakan bahwa permasalahan tradisi Jawa di Nusantara itu memang sudah ada sebelum Islam masuk.
Bahkan Kyai Najih menyebut itu sudah menjadi adat orang Jawa sebelum Islam.
Permasalahan adat Jawa tersebut misalnya seperti mengenang 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari kematian.
Baca Juga: Nasihat Mbah Moen Agar Anak Sukses dan Mengangkat Derajat Orang Tua, Anda Wajib Tahu dan Lakukan!
Kyai yang pernah belajar kepada Sayyid Muhammad tersebut juga mengungkapkan bahwa adat tersebut merupakan agama asli bagi orang Jawa.
“Agama asli Jawa itu”, ujar putra dari Mbab Moen tersebut.
Hanya saja Kyai Najih Maimoen Zubair mengatakan jika dulu tidak ada tahlilan dan tidak ada amal sedekahnya seperti cara kita sekarang.
Baca Juga: Mbah Moen Ungkap Rahasia Hari Jumat, Sabtu dan Minggu, Ada Apa?
Kyai yang lahir tepat pada 17 Agustus tersebut mengungkapkan, “Sedekah jaman dulu justru malah dikasih arak, dikasih mainan(judi).”
“Jawa asli sukanya memang hal seperti itu," imbuh Muhammad Najih Maimoen Zubair.
Beliau kembali menegaskan bahwa jika saat itu keadaan adat Jawa sebelum Islam masuk memang seperti itu, tidak ada tahlil.
Baca Juga: Mbah Moen Mengibaratkan Keistimewaan dan Peran Penting Para Ahlul Bait Bagai Perahu Nabi
Lebih lanjut Kyai Najih Maimoen Zubair menceritakan bahwa kemudian Wali Songo datang lalu mengetahui ada tradisi seperti itu.
Pada akhirnya kemudian digantilah tradisi Jawa tersebut dengan menyematkan tradisi Islam di dalamnya.
Jadi yang awalnya setiap acara dalam adat Jawa selalu minum arak dirubah menjadi amalan bersedekah.
Baca Juga: Kata Mbah Moen Baca Surah Ini Sebelum Masuk Rumah Agar Pintu Rezeki Terbuka Seluas-luasnya!
“Mungkin kalau di desa diganti dengan dikasih rokok begitu” ucap Kyai Najih Maimoen Zubair sambil tertawa.
Kemudian budaya Jawa yang selalu ada arak tadi diganti jadi minuman atau yang lainnya.
Tidak hanya itu, Kyai Najih juga menjelaskan bahwa Wali Songo juga menambahkan budaya Islam dalam kegiatan adat Jawa tersebut.
Baca Juga: Mbah Moen Sebut Meludah di Dua Tempat ini Dapat Menyebabkan Rezeki Seret, Simak Penjelasanny
“Terus akhirnya juga dikasih tahlilan," tutur kyai yang pernah menuntut ilmu di MGS ini.
Di akhir ceramah Kyai Najih Muhammad Maimoen Zubair mengucapkan, “Alhamdulillah”.***

Share this article
Putra kedua Mbah Moen, Muhammad Najih Maimoen Zubair menjelaskan mengenai kaitan budaya atau tradisi Jawa dan tradisi Islam.