AYOJAKARTA.COM - Berikut ini adalah kronologi terjadinya pemberontakan G30S PKI, khususnya pada tragedi Lubang Buaya!
Sukitman merupakan seorang saksi dari kejadian kelam Lubang Buaya dalam pemberontakan G30S PKI.
Dalam sebuah video di kanal YouTube Bico Story, diceritakan kisah dari seorang pemuda yang selamat dari peristiwa bersejarah G30S PKI, namanya Sukitman.
Baca Juga: Viral Begitu Sulit Lupakan Rehan Muncul di Kartun IG Jokowi, Bikin Netizen Gagal Fokus!
Pada saat itu, Sukitman sedang mendapat jatah jaga malam dan menjalankan tugasnya di Kebayoran Baru.
Di tengah sunyinya malam, ia mendengar suara tembakan dari dekat posnya dan mencoba mencari tahu dari mana asal suara tersebut.
Sukitman kemudian mencoba menghampiri sumber suara menggunakan sepeda dan mendapati suara tersebut berasal dari kediaman Jenderal D.I.Pandjaitan di Jalan Sultan Hasannudin.
Setibanya di tempat tersebut, Sukitman yang bertugas sebagai polisi saat itu kaget ketika ada tentara yang menodongkan senjata kepadanya dan menyuruhnya untuk mengangkat tangan.
Sukitman kemudian diseret ke dalam truk dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup di tengah kegelapan.
Pada saat itu, Sukitman merasakan bahwa dirinya ditaruh dalam truk di sebelah sopir.
Menggunakan truk itu, Sukitman kemudian dibawa ke suatu tempat dengan keadaan tak tahu apapun yang terjadi kepadanya maupun berkaitan dengan tembakan tadi.
Hingga kendaraan tersebut berhenti, Sukitman kemudian diturunkan dan dibuka tutup matanya tanpa mengetahui di mana lokasinya saat itu.
Tak beberapa lama setelah itu, ia kemudian mendengar ada seseorang berbicara.
“Yani wes tak pateni,” ucap orang tersebut.
Tak beberapa lama setelah itu, seorang tentara menghampiri Sukitman dan menyeretnya ke dalam tenda untuk melaporkannya kepada atasan.
Di dalam tenda tersebut, ia kemudian melihat beberapa orang terkapar dan bersimbah darah.
Kemudian, seorang bernama Lettu Doel Arif memerintahkan tentara tadi untuk menawan Sukitman di depan rumah.
Setelah hari mulai terang, sosok polisi ini kemudian melihat segerombolan orang yang mengerumuni sebuah sumur dan berteriak lalu memasukkan tubuh manusia ke dalam lubang tersebut dan menembakinya dengan peluru.
Kemudian, ada seorang tawanan dengan bintang dua yang masih hidup mendekati ke tempat Sukitman ditawan dan diperintah untuk menandatangani suatu surat di bawah todongan senjata.
Tawanan tersebut pun menolak dan memberontak, alhasil matanya kembali ditutup dan tangannya diikat, diseret, dan dilemparkan ke sumur dengan posisi kepala masuk terlebih dulu.
Sukitman kemudian melihat sebagian dari orang-orang tersebut menutup lubang dengan sampah dan menanam pohon pisang untuk menghilangkan jejak tindakan keji mereka.
Dengan kondisinya yang masih ditawan, Sukitman kemudian memerhatikan siapa saja yang terlibat dalam kejadian tersebut dan menemukan bahwa Letkol Untung lah yang mengepalai kejadian tersebut.
Tak lama setelah itu, datang anggota Cakrabirawa yang berusaha untuk membuat Sukitman tenang dan mengatakan bahwa pembunuhan terhadap jenderal tersebut dilakukan karena rasa ketidakadilan dan datangnya kabar bahwa presiden akan dibunuh oleh para jenderal.
Kemudian, suasana berubah ketika ada pernyataan dari radio, menyatakan bahwa prajurit yang terlibat dalam G30S PKI akan mendapatkan kenaikan pangkat.
Lalu, Sukitman dipanggil oleh Lettu Doel Arif dan menanyakan di mana senjata milik polisi tersebut dan kembali ke Kebayoran.
Baca Juga: 7 Orang Telah Diperiksa Terkait Ledakan di Asrama Polisi Sukoharjo Jateng
Singkat cerita, Sukitman kemudian diajak bersama iring-iringan pasukan ke gedung penas karena mengira bahwa ia bukanlah musuh melainkan teman seperjuangan dari pelaku G30S PKI.
Di malam harinya, Kopral Ishak yang bertugas mengawasinya kemudian mengajak saksi peristiwa ini ke Lubang Buaya untung mengambil persediaan makanan.
Setelah berbincang dengan ajudan Letkol Untung tersebut, Sukitman kemudian menyadari bahwa teriakan yang berbunyi 'Ganyang Kabir' pada saat itu ditujukan kepada para jenderal yang dibunuh.
Selesai mengambil nasi, kemudian mereka kembali ke pasukan untuk membagikan makanan tersebut.
Keesokan harinya, Sukitman berbaring di kolong truk karena merasa sakit kepala dan tidak enak badan.
Ia tertidur pulas walaupun beberapa kali mendengar suara tembakan.
Sampai ia bangun di sore hari, Sukitman baru menyadari sudah tidak ada pasukan di sekitarnya dan kabur untuk melapor pada markas RPKAD.
Ia dipertemukan dengan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan diperintah untuk membuat pemetaan di mana letak para jenderal dibuang.
Atas jasanya tersebut, Sukitman kemudian mendapatkan kenaikan pangkat dan penghargaan dari Presiden Soeharto.***

Share this article
Berikut ini kronologi tragedi Lubang Buaya yaitu pembunuhan para jenderal dalam pemberontakan G30S PKI.