AYOJAKARTA.COM - Gempa yang terjadi di wilayah Cianjur Jawa Barat Senin 21 November 2022 lalu menyebabkan tanda tanya besar terkait apa pemicunya.
Beberapa mengatakan pemicu gempa Cianjur adalah akibat pergeseran patahan sesar Cimandiri.
Namun hal tersebut diragukan oleh Dosen Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran Dr. Ir. Ismawan, M.T.
Dikutip Ayojakarta.com dari laman Unpad ‘Kanal Media Unpad’ pada Kamis 24 November 2022, Ismawan meragukan penyebab gempa Cianjur yang selama ini beredar.
Baca Juga: PosAja! Hadir Bantu Korban Gempa Cianjur, Beri Potongan Ongkir 50 Persen
Menurut Ismawan, salah satu faktor yang mendukung hipotesisnya adalah lokasi episenter gempa yang berada jauh dari bentangan sesar Cimandiri.
“Yang jelas, saya yakin ini bukan bagian dari sesar Cimandiri, meskipun arahnya sama,” kata Ismawan.
Menurutnya, kawasan Cugenang yang menjadi episenter gempa Cianjur berjarak sekira 10 kilometer di sebelah utara jalur patahan Cimandiri.
Jalur sesar Cimandiri dimulai dari Pelabuhan Ratu membentang ke arah timur hingga berbelok ke utara di sekitar wilayah episenter gempa.
Baca Juga: Update Gempa Cianjur: Korban Meninggal 271 Orang, Luka-Luka 2.043 Orang
Ismawan justru menganalisis jika pemicu gempa terjadi karena pergerakan sesar baru yang belum banyak diketahui orang.
Maka bisa jadi pergerakan sesar tersebut tertutup oleh beberapa faktor di belakangnya.
Dugaan kecurigaan Ismawan juga diperkuat dengan lebar sesar Cimandiri menurut penelitian adalah 8 -10 meter, sedangkan kedalaman gempa adalah 10 kilometer, sehingga dirasa sangat jauh.
Ismawan menambahkan bahwa lokasi episenter berada dekat dengan daerah pegunungan Gunung Gede dan kemungkinan sesar bisa saja tertutup oleh endapan gunung api.
“Ini dimungkinkan karena kalau sesar lama biasanya ada jejak-jejak pelurusan yang menunjukkan bahwa di situ ada sesar. Di sana karena batuan vulkanik, jejak pelurusannya itu kelihatan tidak ada,” ujarnya.
Tapi Ismawan membantah jika gempa tersebut berasal dari aktivitas gunung berapi.
Meskipun dinilai tidak begitu besar, namun karena posisi episenter gempa di kedalaman 10 kilometer dan termasuk dangkal maka berdampak menimbulkan kerusakan parah di Cianjur Jawa Barat dan sekitarnya.
“Sesar-sesar yang di darat memang tidak akan menimbulkan tsunami, tetapi akibat primernya itu gedung-gedung banyak yang roboh. Kalau kedalamannya cukup dangkal, gempa kecil pun bisa merusak,” ujar Ismawan menjelaskan.
Ismawan mengharapkan agar masyarakat yang hidup di kawasan patahan haruslah lebih berhati-hati.
Kejadian gempa Senin lalu dapat dijadikan pelajaran.
Gempa dapat saja dipicu dari gerakan sesar-sesar baru yang belum teridentifikasi.
“Kemarin kejadian satu daerah yang selama ini tidak disinggung ada patahan ternyata menghasilkan gempa bumi cukup besar. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran,” tutur Ismawan.
Ismawan berharap adanya edukasi terkait kawasan rawan gempa yang dilalui oleh sesar, agar masyarakat sadar akan potensi besar tersebut.
Selain itu masyarakat diimbau waspada akan adanya gempa tektonik yang bisa saja terjadi.
Mengingat hingga kini, gempa susulan di Cianjur masih terjadi.
Bahkan diketahui ada gempa-gempa yang terjadi di daerah lain.***

Share this article
Berikut penjelasan Pakar Geologi Unpad terkait pemicu gempa Cianjur yang diragukan disebabkan oleh patahan Sesar Cimandiri.