AYOJAKARTA.COM - Dalam sebuah acara kajian yang dihadiri banyak pecinta ilmu, Mbah Moen pernah tiba-tiba berseloroh di hadapan jamaah.
“Kalau kamu dengan saya lebih pintar siapa, Ha?” tanya Mbah Moen kepada Gus Baha di tengah-tengah kajian.
Sambil tersenyum di hadapan Mbah Moen, Gus Baha dengan cekatan menjawab menggunakan bahasa Jawa “pinter kulo sekedhik, pintar saya sedikit,”
Pemilihan redaksi tersebut memiliki dua makna, kepintaran saya hanya sedikit atau bisa juga berarti saya sedikit lebih pintar.
Sebagai salah satu murid, KH Bahaudin Nursalim atau Gus Baha sering menyebut nama Mbah Moen dalam kajiannya.
Di hadapan para santri, nama Mbah Moen senantiasa dikenang oleh Gus Baha sebagai sosok yang humoris namun penuh dengan ajaran hikmah.
Pesan-pesan penuh hikmah dari Mbah Moen sering pula disampaikan Gus Baha untuk kemudian diketahui para pecintanya.
Seperti yang pernah disampaikan Gus Baha dalam sebuah kajian yang membahas tentang larangan untuk membunuh dan ketidak-tahuan manusia.
“Si Fulan itu sekarang kafir, kita tidak pernah tahu turunan keberapa ada yang muslim,” terang murid Mbah Moen tersebut.
Baca Juga: Ingin Punya Anak Cerdas? Mbah Moen Anjurkan agar Pria Memilih Wanita yang Kualitasnya Seperti Ini
Lebih lanjut Gus Baha menjelaskan tentang potensi keturunan Si Fulan yang akan mati jika Fulannya sudah mati, dan potensi keturunan akan hidup jika Fulannya hidup.
Sehingga membiarkan seseorang kafir, dan alasan membunuh seseorang kafir keduanya memiliki landasan logis yang berdasar.
“Makanya semua Nabi kalau yang namanya membunuh pasti pas perang saja, karena kondisi yang pilihannya memang hanya dua, terbunuh atau membunuh,” jelas Gus Baha.
Baca Juga: Mbah Moen Bongkar Keistimewaan Perempuan: Pembawa Keberuntungan Sekaligus Celaka Bagi Laki-Laki
Karena itulah kemudian kajian Fiqih harus terus dipelajari, dan orang-orang tidak bersikap subjektif.
Gus Baha menambahkan, jika seseorang memang tidak mengetahui tentang sesuatu sebaiknya tidak bersikap sok tahu.
Sehubungan dengan kajian tersebut Gus Baha kemudian menyisipkan cerita lucu yang menjadi cerita favorit Mbah Moen.
Baca Juga: Tak Terasa Sebentar Lagi Tiba, Inilah Istimewanya Ramadan Menurut Mbah Moen!
Cerita tersebut tentang seorang santri yang memiliki guru dengan keilmuan yang sangat dikagumi oleh santri.
Suatu ketika, orang tua dari guru santri tersebut datang ke pondok, dan santri melihat banyak hal janggal dari Orang Tua gurunya.
Setelah melihat orang tua dari gurunya membuang air kecil di pinggir mushola, santri itu pun bertanya langsung kepada sang guru.
Baca Juga: Simak Ulasan Petuah Penuh Hikmah, Seperti Inilah Pandangan Mbah Moen Tentang Makna Pandawa Lima
“Bagaimana bisa guru yang begitu alim seperti engkau, memiliki orang tua yang begitu bodoh?” tanya santri, penasaran.
Dengan santun namun penuh muatan hikmah, guru dari santri yang sedang merasa kecewa itu kemudian menjawab.
“Bapak saya itu pintar sekali, dia memutuskan saya mondok sampai menjadi alim, yang bodoh itu Kakek saya,”
Mendengar jawaban tersebut, santri kemudian menyadari bahwa ketidak-tahuannya tentang suatu perkara sudah membuatnya bersikap fanatik. ***

Share this article
Kenang Mbah Moen, Gus Baha mengatakan jika seseorang memang tidak mengetahui tentang sesuatu sebaiknya tidak bersikap sok tahu.