AYOJAKARTA.COM - Pihak Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung menyebut terdapat sekitar 12.358 orang terinfeksi human immunodeficiency virus atau HIV.
Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung mengatakan hingga Desember 2021 terdapat sekitar 12.358 orang terinfeksi HIV dan 414 di antaranya berstatus mahasiswa.
Sebanyak 583 warga Kota Cimahi mengidap penyakit HIV-AIDS. Angka ini berdasarkan hasil rekapitulasi Dinas Kesehatan sepanjang tahun 2005 sampai Juni 2022.
Berdasarkan hasil pemetaan, HIV-AIDS rata-rata diderita oleh kelompok Wanita Pekerja Seks (WPS), waria, pelaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) hingga pengguna narkoba jarum suntik. Dari sejumlah kelompok ini, penderita terbanyak HIV-AIDS di Kota Cimahi didominasi dari populasi LSL atau seks sesama lelaki.
"Pada intinya populasi LSL terbanyak di Kota Cimahi. Data di dapat dari hasil pemetaan tahun 2018 di Kota Cimahi," kata Pemegang Program HIV-AIDS dan IMS pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyono,Jumat 26 Agustus 2022.
Baca Juga: Perubahan Fisik Ferdy Sambo saat Hadiri Sidang Kode Etik Jadi Sorotan: Kurus dan Pucat
Data terbaru mencatat, dari 583 orang yang terpapar HIV-AIDS, sebanyak 65 orang di antaranya meninggal dunia. Sementara jumlah temuan kasus paling banyak terjadi di tahun 2022 dengan jumlah 23 kasus dan 4 orang di antaranya meninggal dunia.
Mulyono menerangkan jika dilihat dari usia penderita HIV-AIDS, rata-rata masih mudah karena masih masuk kategori usia produktif. "Mayoritas usianya itu produktif. Usia 22-30 tahun," terang Mulyono.
Dinas Kesehatan Kota Cimahi terus menggencarkan upaya penanganan HIV-AIDS. Baik upaya pencegahan maupun perawatan terhadap pasien terpapar.
Meski telah divonis secara klinis tidak bisa disembuhkan. Penderita HIV-AIDS terus rutin diberikan obat sesuai resep dokter. Konsumsi obat tersebut dilakukan agar virusnya tidak semakin berkembang.
"Pada dasarnya kondisi kondisi mereka terlihat tidak masalah dan sehat. Memang terlihat sedikit berubah psisikisnya ketika mereka dinyatakan hasil reaktif atau positif," ungkap Mulyono.
Hobi Gonta-ganti Pasangan Jadi Faktor Tertinggi Penularan HIV AIDS di Bandung
Kerap mengganti pasangan menjadi faktor tertinggi penularan HIVA\/AIDS di Kota Bandung.
Bahkan, saat ini ribuan warga Kota Kembang tercatat terinfieksi HIV/AIDS menurut data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung.
Mereka menuturkan bahwa penularan HIV/AIDS yang saat ini terjadi didominasi oleh warga yang memiliki umur produktif 20 sampai 29 tahun.
Faktor risiko tertinggi HIV/AIDS di kota Bandung ini berasal dari faktor heteroseksual atau perilaku seksual berisiko seperti gonta ganti pasangan.
"Sumber datanya dari Puskesmas, jadi siapa pun yang tes HIV di Kota Bandung ada 86 Faskes, nanti datanya diambil melalui KTP-nya dimasukin datanya, jadi ketahuan alamatnya di mana, dia tinggal di mana, segala macem," tutur Ketua Sekretariat KPA Kota Bandung, Sis Silvia Dewi, Kamis, 25 Agustus 2022.
KPA Kota Bandung mencatat sebanyak 5.943 orang warga kota Bandung mengidap penyakit HIV/AIDS.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan serta 28 Puskesmas dan layanan kesehatan Kota Bandung, ribuan orang yang terpapar tersebut terbagi ke dalam beberapa golongan.
Kalangan pegawai swasta menempati peringkat teratas infeksi HIV/AIDS dengan 1.842 kasus atau 31,01 persen.
Kemudian yang mengejutkan adalah angka penderita HIV/AIDS aktif di kalangan mahasiswa dengan 400 kasus. Sedangkan IRT 11,8 persen atau setara 653 kasus.
"Jadi kita harus mengetahui dulu bahwa berdasarkan pekerjaan, sebetulnya yang paling tinggi di Kota Bandung yang kena HIV itu swasta, sekitar 31 persen," ucap Sis Silvia Dewi.
"Kalau mahasiswa hanya 7 persen, jadi sebenarnya kalau paling tinggi itu di swasta orang yang kena HIV/AIDS," ujarnya menambahkan.
Dia menuturkan bahwa dari kalangan mahasiswa Kota Bandung, yang terinfeksi HIV/AIDS masih berada di angka ratusan.
"Sebenernya mahasiswa paling cuma sekitar 400-an, kalau yang swasta tadi sekitar 1.800-an," kata Sis Silvia Dewi, dikutip Pikiran-Rakyat.com.
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4.
Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit.
HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV, dan pada tahap ini kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya.***

Share this article
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan serta 28 Puskesmas dan layanan kesehatan Kota Bandung, ribuan orang yang terpapar golongannya ..