AYOJAKARTA.COM - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan peningkatan sistem pengendalian emisi dan kebauan pada RDF Plant Rorotan.
Hal ini seiring dengan adanya protes warga sekitar RDF yang mengaku mencium bau menyengat hingga menyebabkan sejumlah anak-anak sakit.
Seperti diketahui, RDF Plant Rorotan ini dibangun sebagai salah satu upaya Pemprov DKI Jakarta untuk mengatasi permasalahan sampah.
Saat ini, DLH tengah melakukan uji coba operasional sejak awal Oktober 2025 dan akan beroperasi penuh pada bulan November 2025.
Baca Juga: BGN Puji Aksi Polisi Ungkap Produksi Ompreng MBG Palsu di Jakarta Utara
DLH DKI Jakarta terus memastikan pengolahan sampah berjalan aman dan ramah lingkungan.
Fokus peningkatan RDF Plant Rorotan dilakukan pada:
- Pengendalian emisi hasil pengolahan RDF.
- Pengurangan kebauan dari proses pengolahan sampah.
Untuk menjaga kualitas udara dan kenyamanan warga, DLH DKI Jakarta telah meningkatkan sistem pengendalian emisi dan bau melalui teknologi sebagai berikut:
Baca Juga: Kontroversi Proyek RDF Plant Rorotan, Pramono Anung: Permasalahan Bukan Fasilitas Namun...
- Rotary Drum Dryer
- Cyclone
- Bag Filter
- Wet Scrubber
- Wet Electrostatic Precipitator
- Activated Carbon
- Penambahan 4 set Deodorizer
Baca Juga: Prediksi Cuaca DKI Jakarta: Malam Hari Aman, Tapi 5 Wilayah Ini akan Hujan pada Sore!
Teknologi tersebut digunakan untuk memastikan proses pengolahan sampah berlangsung lebih bersih, minim polusi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta.
Untuk unit Deodorizer terdiri dari:
1. Blower, untuk mengalirkan udara ambien di titik sumber kebauan.
2. Advanced Oxidation Process (AOP), menggunakan reaksi ozonisasi dan sinar ultraviolet untuk mengurangi gas-gas.
3. Reaktor Scrubber, untuk menyisihkan gas-gas penyebab kebauan melalui reaksi kimia.
4. Carbon Active, untuk menyerap (adsorpsi) senyawa beracun dan gas-gas penyebab kebauan pada aliran emis.
5. Cerobong, untuk melpaskan emisi ke lingkungan secar aman.
Melalui peningkatan ini, RDF Plant Rorotan siap beroperasi penuh dengan sistem pengendalian emisi dan kebauan yang lebih efektif.
DLH DKI juga memastikan bahwa seluruh pengolahan sampah akan berjalan sesuai standar lingkungan, berkontribusi pada kualitas udara yang lebih baik, serta mendukung pengelolaan energi terbarukan bagi warga Jakarta.
Sebelumnya, warga sempet melakukan protes dan meminta audiensi bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Hal ini disebabkan karena bau sampah dari RDF sangat mengganggu hingga membuat sejumlah warga mengalami sakit mata dan ISPA.
Bahkan, jika hal ini tidak direspon, warga siap melakukan aksi demo untuk menutup RDF Plant Rorotan.
Baca Juga: ITS dan BNI Bangun Sinergi Gaya Hidup Sehat Berbasis Layanan Digital
Terkait hal ini, Pramono pun berjanji akan bertemu dengan warga sekitar RDF Plant Rorotan untuk memberikan penjelasan.
Menurutnya, bau yang ditimbulkan bukanlah dari fasilitas RDF.
Pramono menduga bau menyengat muncul dari proses pengangkutan sampah serta sampahnya sendiri.***

Share this article
RDF Plant Rorotan melakukan peningkatan sistem pengendalian emisi dan kebauan, agar berjalan sesuai standar lingkungan.