AYOJAKARTA.COM - Kenaikan harga plastik kemasan di Jakarta hingga 40 persen sejak akhir Maret 2026 memunculkan pertanyaan besar, apa hubungan konflik Timur Tengah dengan biaya kemasan di Indonesia?
Jawabannya terletak pada rantai pasok global dan lonjakan harga energi dunia.
Berdasarkan data Dinas PPKUKM, harga kantong kresek kini mencapai Rp17 ribu per pak atau naik 40 persen.
Sementara plastik PET naik 35 persen menjadi Rp22 ribu, dan plastik PE meningkat 30 persen ke angka Rp21 ribu.
Lonjakan ini paling terasa bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM), khususnya sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Akar masalahnya berkaitan langsung dengan konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi global.
Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan akibat ketegangan geopolitik, terutama di jalur vital seperti Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak ini berdampak pada naiknya harga nafta, bahan baku utama produksi plastik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor nafta dari Timur Tengah.
“Plastik itu bahan bakunya nafta, dan selama ini kita impor dari Timur Tengah. Karena perang, pasokannya terganggu,” ujarnya.
Akibatnya, biaya produksi plastik melonjak dan langsung diteruskan ke konsumen.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga masyarakat luas karena harga produk kemasan ikut naik.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui bahwa kondisi ini sulit dikendalikan oleh pemerintah daerah.
Ia mendorong pelaku usaha untuk mulai berinovasi dan mengurangi ketergantungan pada plastik.
“Kebutuhan plastik ini pelan-pelan harus dikurangi dan harus ada inovasi,” ujar Pramono.
Ia bahkan menyarankan kembali ke metode tradisional seperti menggunakan daun pisang sebagai alternatif kemasan ramah lingkungan.
Di sisi lain, pemerintah pusat belum berencana memberikan insentif khusus bagi industri plastik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kenaikan harga ini merupakan bagian dari siklus industri global.
Sementara itu, pemerintah tengah mencari sumber alternatif impor bahan baku dari negara lain seperti India, Amerika Serikat, dan Afrika.
Namun proses ini membutuhkan waktu dan belum mampu menekan harga dalam jangka pendek.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik global dapat berdampak langsung hingga ke level mikro ekonomi di Jakarta.***

Share this article
Harga plastik di Jakarta melonjak hingga 40% akibat konflik Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dan bahan baku nafta impor. UMKM terdampak, pemerintah pun dorong inovasi kemasan alternatif.