AYOJAKARTA.COM -- Usai Tiktok Shop ditutup, sejumlah harapan masih mencuat dari pedagang di Pasar Tanah Abang.
Di sejumlah toko, para pedagang di Pasar Tanah Abang meminta agar Pemerintah juga tidak sekedar menutup Tiktok Shop.
Selain TikTok Shop, pedagang Tanah Abang meminta agar Lazada, Shopee dan Online Shop ikut dihapuskan.
Sejumlah pedagang menganggap dengan masih adanya layanan jual-beli online, pendapatan akan tetap jauh dari harapan.
Selain itu, pedagang juga meyakini bahwa barang yang mereka jual memiliki kualitas yang tidak kalah bagus dengan pasar e-commerce.
Adanya perbedaan harga yang mencolok antara pembelian secara daring dengan luring, dinilai pedagang sebagai salah satu akar permasalahan.
Karenanya, pedagang luring meminta agar pihak terkait kembali mempergunakan otoritasnya untuk menghapus keberadaan penjual online.
Bukan semata karena dianggap telah menambah pesaing, penjual online juga dinilai telah merusak harga sehingga konsumen menghindar untuk datang ke pasar.
Baca Juga: Caramu Membawa Tas Bisa Ungkap Banyak Hal Tentang Kepribadianmu, Kamu Tipe yang Mana?
Munculnya harapan pedagang Tanah Abang untuk menutup e-commerce, mendapat banyak tanggapan dari warganet.
Menurut para warganet, pedagang atau pemilik toko perlu mempelajari lebih dalam tentang fenomena di dunia maya.
Konten Kreator Andrea Yudias menanggapi, anggapan pedagang yang menilai penyebab pasar masih sepi karena faktor persaingan tidak sehat di penjualan online.
Menurut Yudias, salah satu hal yang membuat sejumlah e-commerce masih menjadi pilihan konsumen adalah karena adanya Fake Buyer atau Pembeli Palsu.
Dalam bisnis online, Fake Buyer memegang peranan yang terbilang cukup penting karena bisa mempengaruhi penjual online.
Baca Juga: Pedagang Tanah Abang Minta Shopee dan Lazada Juga Ditutup, Warganet: Ngelunjak
Fake Buyer, menurut Yudias merupakan salah satu pekerjaan yang dilakukan untuk mendongkrak jumlah viewers atau rating pembelian suatu produk.
“Mereka itu membeli barang di marketplace, melakukan checkout, tapi sebenarnya itu tidak benar-benar membeli,” jelas Yudias.
Lebih lanjut, Yudias menambahkan dengan adanya fake buyers maka sebuah toko online akan terlihat cukup menjanjikan.
Lantaran semua proses transaksi dilakukan secara daring, maka hal tersebut membuat orang mengalami kesulitan untuk membedakan pembeli asli dengan palsu.
Menurut Yudias, untuk setiap pekerjaan yang dilakukan seorang fake buyer akan mendapatkan bayaran sekitar Rp 3.000 sampai 5.000 per tayang.
Baca Juga: Tes Ilusi Optik: Temukan 6 Huruf Q di Antara Kumpulan Huruf O, Bisa?
Karenanya, tidak mengherankan apabila kemudian seorang fake buyer bisa memiliki puluhan bahkan ratusan akun berbeda untuk mendapatkan hasil lebih besar.
Dalam keterangannya kepada media, Yudias menyebut keterlibatan fake buyer bukan hanya terjadi di Tiktok Shop, tetapi di semua platform e-commerce.
Demikian seperti dikutip Ayojakarta pada Selasa, 10 Oktober 2023 dari kanal Youtube tvOneNews.***

Share this article
Usai e-commerce Tiktok Shop ditutup, sejumlah harapan masih mencuat dari pedagang di Pasar Tanah Abang.